Rabu, 25 November 2015

Criminal Activities (2015)

Criminal Activities bercerita tentang keempat sahabat yang ingin memulai bisnis, ia melanjutkan bisnis yang sepertinya terlihat potensial dalam meraih keuntungan. Mereka mencoba melakukan trik bisnis yang mereka pahami meski ternyata mereka kurang dari segi dana. Karena kekurangan ini, mereka harus melakukan peminjaman kepada seorang pebisnis.

Investasi yang mereka lakukan dengan menggunakan pinjaman justru berjalan buruk. Dana keuangan yang mereka dapatkan sebagai tambahan modal berasal dari seorang pebisnis sadis yang penuh dengan tindak kriminal, pada akhirnya mereka harus terlibat utang terhadap pemodal besar itu dan nyawa mereka menjadi taruhan atas utang yang sudah berlangsung, sementara bisnis tidak berjalan mulus. Bos mafia ini tidak peduli dan mengancam akan melakukan penculikan dari keluarga mereka bila tidak membayar utang.


Film Criminal Activities adalah Film Hollywood bergenre aksi yang disutradarai oleh Jackie Earle Haley dan dibintangi oleh John Travolta, Michael Pit, Dan Steves, Jackie Earle Haley dan Edi Gathegi. Film ini menceritakan tentang keempat pria yang sedang mengalami kesulitan karena pinjaman uang kepada mafia untuk memulai bisnis. Film Criminal Activities ini rilis pada 20 November 2015.

Judul Film: Criminal Activities
Genre: Aksi, Kriminal
Sutradara: Jackie Earle Haley
Rilis: 20 November 2015

Pemain Film Criminal Activities:
Dan Stevens sebagai Noah
John Travolta sebagai Eddie
Jackie Earle sebagai Gerry
Michael Pitt sebagai Zach
Edi Gathegi sebagai Marques
Rob Brown sebagai Bryce

DOWNLOAD FILM : CRIMINAL ACTIVITIES (2015)

Ju-on 4: The Final Curse (2015) ~ Menguliti Misteri Kutukan Toshio


Usai Ju-on: The Beginning of the End, pada akhirnya misteri cara kemunculan hantu Toshio pun baru benar-benar terungkap di film terbaru yang kini sudah tayang di Indonesia, Ju-On 4: The Final Curse.

Film yang secara global dikenal sebagai Ju-on: The Final Curse dan di Jepang disebut dengan judul Ju-on: The Final ini, membeberkan banyak hal yang dirasa masih misteri dan menggantung pada film sebelumnya. Meskipun begitu, kisah film ini dan 'The Beginning of the End' memiliki alur cerita alternatif (terpisah) dalam menggambarkan awal mula kutukan mengerikan di dua film pertama.

Masih menggunakan format yang sama seperti seri-seri sebelumnya, yaitu alur cerita dalam beberapa segmen untuk masing-masing karakter, nuansa mencekam dengan hantu yang sama masih menjadi tema utama film ini.

Judul yang diberi embel-embel 'The Final' barangkali memberi harapan kepada beberapa penonton agar segala sesuatu terkait franchise Ju-On terpecahkan hingga setidaknya tidak memberikan efek klimaks yang menggantung.

Lalu, apakah embel-embel The Final benar-benar menggambarkan isi film ini? Ada baiknya kita simak dulu garis besar ceritanya.

Bagi yang telah menyaksikan Ju-on: The Beginning of the End, tentu masih mengingat karakter guru muda bernama Yui Shono yang diperankan oleh Nozomi Sasaki. Ia mengalami nasib mengerikan setelah menyelidiki muridnya yang bernama Toshio Saeki karena tak masuk sekolah selama seminggu.

Nah, di film ini kita akan mengetahui kalau Yui ternyata menghilang dan film pun secara garis besar mengambil sudut pandang Mai Shono (Airi Taira) yang merupakan kakak kandung Yui.

Mai yang tinggal bersama kekasihnya, Sota Kitamura (Renn Kiriyama) mulai bertanya-tanya ke mana gerangan Yui karena pihak sekolah sang adik selalu menghubunginya. Dilanda rasa penasaran, Mai pun mulai dihantui sosok Toshio dan bayangan Kayako di dalam mimpi maupun halusinasi.

Mai pun mulai menyelidiki hilangnya Yui, sementara Sota juga ikut terbawa kutukan meskipun masih dalam tahap ringan. Di sisi lain, seorang siswi bernama Reo (Nonoka Ono) dan ibunya, kedatangan seorang tamu, yaitu anak dari pamannya (keponakan) yang bernama Toshio.

Reo merasa gelagat Toshio selama berada di rumahnya sangat aneh. Selain itu, ternyata di sekolahnya ia ternyata bergaul dengan Midori dan Madoka yang salah satu dari keduanya memiliki kaitan erat dengan kejadian mengerikan di rumah terkutuk pada masa lalu.

Semenjak Toshio pindah ke rumah Reo, berbagai kejadian aneh nan menyeramkan pun menghantui dirinya dan kedua temannya yang pernah bermain ke rumahnya itu. Alhasil, ia dan sang ibu harus menghadapi kenyataan mencekam yang mengancam ketenangan hidup mereka.

Sementara itu, penyelidikan Mai berujung pada sebuah kenyataan yang belum pernah ada dalam kisah-kisah sebelumnya. Dari sini, akhirnya secara intens misteri hantu Toshio dan Kayako Saeki yang mengerikan, mulai terjawab dengan akhir cerita yang membuat penonton tak berdaya melupakan kutukan rumah hantu dalam kisah Ju-On.

Apa yang hendak ditawarkan dalam film ini adalah kengerian yang mampu meneror rasa takut setiap penonton, terutama bagi siapapun yang mengalami paranoid serta ketakutan parah bagi yang mempercayai eksistensi hantu-hantu jahat.

Ciri khas Ju-On yang menggunakan gerak-gerik mengerikan Toshio dan Kayako, masih dipertahankan dalam film ini. Beruntungnya bagi yang gemas dengan konsep tiga film sebelumnya, di sini kita bisa menyelami lebih dalam rasa takut calon korban yang diteror untuk dihabisi oleh Kayako.

Di film ini juga kita bisa menyaksikan bagaimana cara hantu Kayako membuat para korbannya memiliki jasad mengerikan sebelum mereka meregang nyawa. Bagaimana Kayako bisa muncul di mana saja, kapan saja, dan caranya mengawasi siapa saja yang bersinggungan dengan Toshio dan kutukan darinya, sangat jelas ditampilkan.

Lalu, bagaimana misteri rumah kutukan dimulai pun digambarkan dalam suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Bagi pecinta film horor mistik, Ju-On 4: The Final Curse rasanya bisa menjadi sebuah tontonan yang layak ditonton dan sangat menarik untuk dinikmati.

Meskipun begitu, film ini memiliki kelemahan dalam hal membawakan akting para pemainnya. Sutradara Masayuki Ochiai belum terlalu bisa mengarahkan para pemain dengan sempurna saat mereka dilanda rasa takut. Berbeda dengan Takashi Shimizu yang piawai dalam memainkan akting para pemain di dua film sebelumnya meski berpegang pada naskah yang tak terlalu istimewa.

Bagaimanapun, ada baiknya jika film ini ditonton bersama teman-teman atau kerabat, karena konsepnya yang boleh dibilang sangat mengerikan jika disaksikan dengan keluarga dan pasangan hidup. Jika penasaran dengan film ini, langsung saja download filmnya DISINI...

Pendekar Tongkat Emas (2015)


Disutradarai oleh Ifa Isfansyah, film ini berkisah tentang Cempaka, Sang Pendekar Sakti pewaris terakhir ilmu jurus Tongkat Emas Melingkar Bumi yang berencana menurunkan ilmunya kepada salah satu muridnya. Namun sebelum ia berhasil menurunkan ilmunya, Cempaka tewas terbunuh dan tongkat emas pun jatuh ke tangan yang tidak semestinya. Jadi, apakah tongkat emas akan kembali kepada yang berhak? Apakah dunia persilatan dan penduduk dusun dapat hidup tenang? Nonton sendiri ya filmnya…

Biasanya, kalau banyak pemain papan atas berperan di satu film maka filmnya jadi biasa. Nggak nendang gitu deh. Tapi Pendekar Tongkat Emas mematahkan mitos itu. Dukungan Slamet Rajardja, Christine Hakim, Nicholas Saputra, Darius Sinatria, Reza Rahardian, Eva Celia malah memberikan greget tersendiri. Semua pemain saling menyatu. Tidak ada yang berusaha menonjolkan diri sendiri. Semuanya terasa pas. Ohya, saya harus mengapresiasi akting Tara Basro yang menawan. Duh, aktingnya total banget. Sangat menjiwai! Saya terbawa suasana banget dan sampai sebal sama dia. Tapi saya sadar, akting yang baik itu yang membuat penonton melibatkan emosinya bukan?

Ah, baru kali ini mata saya dimanjakan sepanjang film berkangsung. Selain lokasi film yang cantiiiik banget, wardrobe ciamik hasil kreasi Chitra Subiakto, tata suara keren yang tepat banget momennya hingga quote-quote inspiratif menghiasi film ini. Nggak heran sih, ada Seno Gumira Atmaja masuk sebagai salah satu penulis skripnya. Satu kutipan yang saya suka adalah, “Sanggupkah menahan diri untuk tidak menang karena sesungguhnya tidak ada kemenangan dalam ilmu apapun ketika kemenangan selalu menjatuhkan korban.”

Menonton Pendekar Tongkat Emas itu seperti makan paket lengkap. Semuanya ada. Penggarapan yang serius dan persiapan yang matang membuat Pendekar Tongkat Emas ini sangat menyenangkan untuk ditonton. Sepanjang film perasaan saya campur aduk oleh jalan cerita film yang sangat mengesankan. Jadi pas nonton itu, saya kayak orang gila. Mulai berdecak kagum dengan setting filmnya yang luar biasa keren, terharu melihat kesetiaan saudara seperguruan, kesal, marah dan jengkel saat melihat pengkhianatan manusia demi kekuasaan hingga menangis sedih di momen-momen tertentu.

Ada banyak hal yang dapat saya petik dari film berdurasi 112 menit ini. Ada nilai kesetiaan memegang janji dan menepati konsekuensi apabila melanggarnya. Ada nilai kerja keras dan semangat tak menyerah yang harus terus dikobarkan demi mencapai cita-cita. Dan juga, film ini mengajarkan betapa kepentingan orang banyak harus didahulukan di atas kepentingan diri sendiri. Sungguh, saya menyukai film ini. Sudah semakin jarang film bagus yang mengusung nilai-nilai edukasi bagi yang menontonnya. Namun film ini menjadi salah satu yang dapat menyematkan nilai budi pekerti luhur dengan sangat apik.

Menonton film ini mengingatkan saya pada masa kecil saya. Saya ingat, dulu bapak saya rajin mengajak saya nonton layar tancap film laga Indonesia. Juga sandiwara radio serta novel-novel tentang cerita silat pun bertaburan di mana-mana. Menonton Pendekar Tongkat Emas seolah membawa saya kepada masa itu. Semoga Pendekar Tongkat Emas menjadi tonggak kebangkitan kejayaan film laga Indonesia dan besar harapan saya film silat dapat kembali merajai bioskop-bioskop kita.

Temen-temen Movie Mania, waktu film Pendekar Tongkat Emas tayang di bioskop belum sempet nonton ?? Jangan khawatir... Download aja Filmnya DISINI , kualitasnya udah BluRay 720p lo... 

American Ultra (205)

Tidak perlu menaikkan ekspektasi yang tinggi pada film arahan Nima Nourizadeh ini. Anda pastinya juga tahu hal itu hanya dari penampakan luarnya saja. Tapi paling tidak ada harapan filmnya bisa memberikan hiburan yang ringan dan menyenangkan lengkap dengan aksi full throttle seperti yang sudah terlihat dalam posternya. Dari situ pula dapat ditangkap bila “American Ultra” pastilah banyak mengandung komedi di dalamnya sebagai penyeimbang aksi tembak-tembakan dan ledakan yang akan muncul di dalamnya. Namun adakalanya pula bila film ringan semacam itu justru gagal menghibur dan ujungnya adalah meninggalkan rasa bosan tingkat akut. Pertanyaannya adalah apakah “American Ultra” ini masuk dalam kategori film yang saya sebutkan di atas ?. Sebelum membaca ulasan ini lebih jauh, saya percaya bahwa Anda sudah dapat mengira-ngira jawaban apa yang akan saya sematkan di akhir.

"American Ultra” adalah kolaborasi kedua dari Jesse Eisenberg dengan Kristen Stewart. Keduanya memerankan pasangan kekasih yang saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. Jesse Eisenberg berperan sebagai Mike, seorang pecandu sekaligus kasir minimarket yang menikmati hari-harinya dengan begitu monoton selain ketika sedang berduaan dengan kekasihnya, Phoebe (Stewart). Suatu ketika, datanglah seorang agen CIA bernama Victoria Lasseter (Connie Britton), yang memperingatkan Mike akan bahaya yang datang dari saingannya, Adrian yates (Topher Grace) untuk memusnahkannya. Sebab ditengarai bahwa Mike merupakan hasil eksperimen dari projek bernama “Ultra”.

Pengenalan awal dari dua karakter utama di sini sebenarnya saya rasa cukup menarik. Dua pasangan ‘tidak biasa’ yang bisa dikatakan ‘bermasalah’, terutama dari kebiasaan mereka berdua yang suka menghisap ganja, cukup mempertahankan atensi saya dalam menontonnya. Beberapa lelucon terselip di antaranya dan cukup memancing tawa meski dalam dosis yang tidaklah banyak. Chemistry antara Mike dan Phoebe sebagai pasangan kekasih di bagian awalnya boleh dikatakan terbangun dengan baik. Atau mungkin bisa dibilang terlalu ‘sempurna’ bila ada pasangan yang saling mencintai tanpa cela selain hanya di negeri dongeng. Namun harus saya katakan bahwa chemistry itu mulai luntur di pertengahan bahkan hingga di bagian akhir. Tentunya dengan lunturnya chemistry itu, rasa kepedulian saya pada karakter semakin berkurang dan itu juga dipengaruhi oleh tidak konsistennya Nima Nourizadeh dalam membentuk Mike dan Phoebe yang mulai terasa berat sebelah.

Tidak bertahan lama bahwa bagian awal perkenalan yang cukup menarik itu berakhir menjadi menjemukan dan cenderung membuat saya ingin men-skip tiap adegannya. Build-up yang intensitas awalnya terjaga cukup baik itu mulai bertele-tele dan terlalu panjang dalam menuturkan. Bahkan butuh durasi hingga lebih dari 50 menit untuk membicarakan omong-kosong di saat filmnya sendiri berjalan kurang dari 2 jam. Rasa penasaran dan bertanya-tanya tentu saja bermunculan dalam pikiran saya. Namun rasa penasaran itu bukan berasal dari keingintahuan besar tentang apa yang coba diceritakan oleh naskah dari Max Landis, melainkan pertanyaan kapan berakhirnya narasi yang berputar-putar di paruh awal tersebut. Dengan kelemahan besar yang bahkan telah muncul di bagian awal itu, tidak ada lagi yang diharapkan selain sekuen aksinya yang diharapkan mampu menghibur. Pada akhirnya, menghiburkah ?.

Saya cukup mengapresiasi bila Nima Nourizadeh tidak hanya menghadirkan aksi seru tembak-tembakan dan ledakan saja di sini, melainkan juga pertarungan tangan kosong berbalutkan gore yang tidak lain merupakan favorit saya. Mike adalah karakter yang mendapat jatah di sektor itu. Sebagai manusia hasil eksperimen yang memiliki kekuatan di atas manusia rata-rata, Mike tidak sekedar kuat secara fisik, melainkan juga intelejensi. Dalam keadaan terjepit, ia diceritakan mampu menggunakan benda-benda tidak lazim sebagai senjata, sebut saja panci. Hal itu merupakan bagian dari intelejensi yang dimiliki oleh Mike. Namun amat sangat disayangkan, porsi untuk adegan aksi yang ada begitu minim dan seolah-olah Nourizadeh tergesa-gesa demi mengejar durasi film. Antagonis sebagai lawan tanding juga tampak ‘miskin’ dalam kuantitas, bila melihat potensi yang dimiliki oleh karakter Mike ini sebagai sosok tough. Terasa sangat hambar, kurang menggigit, dan lebih didominasi ‘petak umpet’ ketimbang aksi man to man. Maka jelaslah bila di bagian aksi tersebut sangatlah jauh dari menghibur.

Bagian yang paling menyebalkan dari “American Ultra” adalah tidak konsistennya antara apa yang kita lihat dalam film dengan teaser poster yang telah beredar beberapa bulan lalu. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, karakter Mike dan Phoebe terlihat berat sebelah bila melihat dalam teaser poster, keduanya tampak berimbang dengan aksi yang diemban. Kenyataannya berkata lain, Mike memang tampil perkasa, namun di sisi lain Phoebe justru tampak sebagai karakter yang menderita sebagai sandera dan tidak mampu unjuk gigi. Hal itupun ditunjukkan hampir di seluruh bagian film. Lemah di sisi aksi berikut pula karakter, makin menambah ‘kekacauan’ ketika film ini dieksekusi dengan begitu buruknya. Maka terbukti sudah bila ‘American Ultra” gagal menjadi guilty pleasure yang menghibur dengan segala lubang menganga di sepanjang filmnya. Harapan besar aksi bombastis dan gila-gilaan lengkap dengan komedinya walaupun dikemas brainless, telah hancur sudah.

(Source : http://iza-anwar.blogspot.co.id/2015/10/american-ultra-2015.html)

Belum sempet nonton American Ultra (2015) ?? Download film nya DISINI , kualitas BluRay 720p dengan subtitle Indonesia yang sdh hardsub...



Minggu, 15 November 2015

Terungkap Inilah Ending Asli Film Superhero Kocak Ant-Man

Sudah nonton ANT-MAN? Film superhero kocak keluaran Marvel ini memang punya style keren sekaligus kocak. Gentar hadapi musuh, lakukan beberapa kegagalan konyol saat mencoba kostum baru Ant-Man, Scott Lang yang diperankan oleh Paul Rudd mampu mencuri spotlight dari para The Earth Mightiest alias The Avengers.

Tapi, tahukah kalian jika sebenarnya ANT-MAN punya ending asli yang jauh berbeda dengan yang kalian tonton? Sutradara Peyton Reed membagi bocorannya kepada kalian, seperti yang dilansir Eric Eisenberg dari Cinema Blend.

ANT-MAN berakhir dengan guyonan Luis (Michael Pena) yang mengabarkan kepada Scott jika The Avengers mencarinya. Lebih lanjut, seharusnya Scott akan terlibat perkelahian sengit dengan salah satu musuh Hank Pym (Michael Douglas), Mitchell Carson (Martin Donovan).


"Di akhir film, ia (Mitchell) lari membawa partikel Darren Cross. Seharusnya, Scott Lang masuk dan merebutnya. Namun karena satu alasan, sepertinya lebih pas untuk tetap membiarkan lari membawa partikel itu. Meski akan lebih seru ketika Ant-Man menghajarnya dan membawa partikel tersebut kembali," ungkap Peyton.

Siapa sih Mitchell Carson ini? Sekedar mengingatkan, Mitchell adalah anggota Hydra yang menyamar menjadi member S.H.I.E.L.D. di tahun 1980an. Di tahun tersebut, Dr. Hank Pym memilih keluar dari organisasi tersebut karena hasil penemuannya dicuri. Dalam film, Mitchell membeli Yellowjacket dari Darren Cross namun tak berhasil beradaptasi dengan teknologi tersebut. Ia pun memilih kabur membawa partikel milik Darren.

Ending yang terasa menggantung ini bisa jadi akan membawa kita ke sekuel ANT-MAN. Meski belum masuk dalam daftar film yang akan digarap di Phase ketiga Marvel, siapa tahu setelah tahun 2020 akan ada perkelahian sengit yang seru antara Ant-Man dan Mitchell. Kita tunggu saja.

DOWNLOAD FILM ANT-MAN DISINI, KUALITAS BLURAY 720p DENGAN INDONESIAN SUBBTITLE HARDSUB



Ant-Man (2015) , Bukti Kesuksesan dan Kegagalan Film Marvel

ANT-MAN, fim superhero terbaru dari Marvel, sukses jadi pemuncak box office di Amerika Serikat pada minggu pertama rilis. Dibintangi Paul Rudd, Michael Douglas, dan Evangeline Lilly, ANT-MAN meraup pendapatan sebesar US$ 58 juta atau setara dengan Rp 776,3 miliar.


Bagi studio lain yang memproduksi film, ANT-MAN bisa dibilang sukses dengan pendapatan yang dihasilkan. Namun dengan reputasi Marvel yang selama ini dikenal sebagai pendulang pundi-pundi dollar, apa yang diraih superhero dengan kekuatan semut ini tidaklah spektakuler bahkan mengecewakan.

ANT-MAN gagal mendapat pendapatan yang sama dengan film-film Marvel lain yang menggunakan Captain America, Thor, atau Iron Man sebagai pahlawan utama. Bahkan, film ini juga tak mampu melampaui prediksi pengamat yang memperkirakannya akan meraih pendapatan lebih dari US$ 60 juta (Rp 800,3 miliar) di minggu pertama penayangan.

Namun sisi positif dari ANT-MAN adalah namanya memang tak segemerlap pahlawan lain di Marvel, tapi cukup mendapat hasil yang bagus. Dalam Marvel Cinematic Universe, Ant-Man bukanlah superhero dengan karakter bintang, perannya hanya sekedar pemeran tambahan. Ini adalah keberanian bagi Marvel, karena telah membuat sebuah film berdasarkan pahlawan yang 'kurang terkenal', tapi masih mampu menduduki puncak box office.

"Media berharap terlalu banyak kepada film-film Marvel. Ini (Ant-Man) bukanlah karakter kelas B. Dia mungkin masuk dalam kategori C. Ant-Man adalah buku komik yang bahkan jarang dikoleksi," ujar Jeff Bock, seorang analis dari Exhibitor Relation seperti dilansir dari situs Variety.

Para kritikus banyak yang memberi nilai A untuk ANT-MAN, namun dari segi penjualan, Jeff Bock menilai ada satu hal yang telah dilewatkan oleh Marvel. "ANT-MAN adalah film yang solid, tapi kurang mendapat perhatian. Seharusnya Marvel menampilkan cameo seperti Iron Man atau lainnya untuk film yang mereka pertaruhkan," pungkas Jeff.


DOWNLOAD FILM ANT-MAN DISINI , KUALITAS BLURAY 720p DENGAN INDONESIAN SUBTITLES HARDSUB

Jumat, 06 November 2015

PITCH PERFECT 2 (2015)


Tiga tahun lalu Pitch Perfect membuka jalan bagi Hollywood untuk kembali mendatangkan timbunan uang lewat sajian musikal. Berbekal lagu-lagu radio hits yang dikemas dalam bentuk akapela, film ini menjadi sleeper hit. Pengaruhnya pun begitu kuat pada pop culture dengan begitu banyaknya orang yang meng-cover ulang lagu When I'm Gone dengan bermodalkan gelas plastik sebagai perkusi (even Kira Kazantsev won Miss America 2015 after performing "Happy" with cup as a percussion). Tapi harus disadari bahwa kesuksesan film pertamanya cukup banyak dipengaruhi oleh elemen kejutan yang dirasakan penonton. Saat itu mayoritas dari kita tidak menyangka akapela bisa menjadi sesuatu yang keren dan gelas bisa menjadi perkusi yang menghasilkan ritme menarik. Saat itu juga adalah kali pertama penonton berkenalan dengan anggota Barden Bellas yang memiliki karakterisasi berbeda-beda dengan keunikan masing-masing. Kita dikejutkan oleh semua hal "segar" itu.

Sebagai sekuel, akan percuma bagi Pitch Perfect 2 untuk mengulangi semua itu. Sayangnya hal itulah yang pada mayoritas bagian dilakukan oleh film ini. Tentu ceritanya sudah berbeda, dimana Barden Bellas kini semakin dikenal sebagai grup akapella paling populer di Amerika Serikat khususnya setelah tiga kali beruntun memenangkan lomba nasional. Bahkan mereka mendapat kesempatan tampil di Kennedy Center dalam rangka peringatan ulang tahun Presiden Obama. Namun kesempatan besar itu justru dapat menjadi awal kehancuran mereka setelah kecelakaan memalukan yang menimpa Fat Amy (Rebel Wilson). Akibatnya The Bellas mendapatkan skorsing dan menjadi bahan olok-olok masyarakat. Satu-satunya cara mendapatkan reputasi mereka kembali adalah dengan memenangkan kejuaran dunia akapela yang akan diadakan di Kopenhagen, Denmark.

Dasar cerita dalam naskah tulisan Kay Cannon sebenarnya sudah bergerak ke arah yang tepat. Kompetisi lebih besar, konflik yang bukan lagi bertemakan "membangun" tapi "mempertahankan", hingga fakta bahwa anggota The Bellas akan segera lulus yang berarti kejuaraan dunia itu mungkin bakal menjadi penampilan terakhir mereka. Ketiganya menjadi formula yang sempurna untuk menggerakkan cerita kearah baru sekaligus modal untuk membangun kisah yang hangat, bahkan bisa jadi emosional. Meminjam istilah Fast & Furious bisa jadi ini merupakan one last ride bagi The Bellas. Tapi sungguh disayangkan kesemua aspek tersebut pada akhirnya tidak ada yang tersaji maksimal. Daripada melakukan eksplorasi kuat, Elizabeth Banks yang kali ini juga berperan sebagai sutradara lebih memilih menjadikan ceritanya sebagai jembatan untuk adegan musikal satu ke yang lain. Konflik tidak pernah benar-benar mencapai titik puncak, dan resolusi hadir begitu cepat lewat cara yang terkesan menggampangkan. Momen graduation dan perpisahan bisa jadi bagian paling emosional, tapi yang kita dapat hanya adegan singkat saat The Bellas berfoto bersama setelah sebelumnya menyanyikan lagu "When I'm Gone" bersama di depan api unggun.

Pitch Perfect 2 seolah melupakan penggalian karakter yang jadi kekuatan penting film pertamanya. Baik mereka yang mendapatkan sub-plot maupun para pemeran pembantu yang tugasnya menyegarkan suasana tidak lagi semenarik dulu. Mereka yang mendapat konflik personal menderita akibat permasalahan yang sama dengan cerita utama film, yakni tidak adanya penghantaran sekaligus resolusi konflik yang mumpuni. Beca (Anna Kendrick) memegang peran penting dalam perpeahan yang terjadi dalam The Bellas saat ia diam-diam magang di sebuah perusahaan rekaman. Tapi perselisihan nyata berkaitan akan hal itu hanya benar-benar terjadi satu kali, dan tidak sampai 10 menit kemudian kita sudah mendapat penyelesaian dengan cara yang amat menggampangkan. Fat Amy yang mendapat porsi romansa disini tidak lebih dari usaha memberikan lebih banyak screen time pada karakter favorit penonton. Sedangkan Emily (Hailee Steinfeld) si anggota baru mendapati tidak adanya ruang lagi bagi pengembangan sub-plot miliknya. Padahal Emily adalah karakter menarik: gadis cantik yang berbakat tapi clumsy dan mendapati impiannya bergabung dengan The Bellas tidak seindah angan-angan. Terlalu banyak yang coba diceritakan film ini hingga tidak ada satupun yang maksimal walau potensi tiap kisah begitu besar termasuk salah satunya "olok-olok" terhadap budaya cover akapela.

Saya juga dikecewakan oleh bagaimana para supporting character dihadirkan. Pada sosok mereka, faktor "kesegaran" yang diawal saya sebutkan benar-benar berpengaruh. Lily (Hana Mae Lee) dengan tingkah absurd yang menjurus creepy adalah karakter favorit saya di film pertama. Kali ini porsi eksploitasi kegilaannya bertambah secara kuantitas tapi menurun secara kualitas. Masih ada beberapa adegan yang mengundang tawa, tapi efek kejut yang telah menurun jelas amat berpengaruh. Ditambah lagi Elizabeth Banks nampak kurang mampu memaksimalkan sosok Lily. Now she's just weird but not hillarious, and I missed her beatbox performance. Stacie (Alexis Knapp) lebih parah lagi. Setelah pembuka yang cukup efektif (that "I'll do whoever" joke) karakternya nyaris menghilang dari peredaran. Hanya Flo (Chrissie Fit) sang imigran dari Guatemala lewat cerita-cerita sedihnya (baca: ekstrim) yang cukup berhasil dimaksimalkan. Permasalahan karakter ini berujung fatal, karena disaat konfliknya membahas tentang kebersamaan, penonton justru tidak lagi terlalu terikat dengan mereka semua, baik secara individu maupun satu kesatuan Barden Bellas.

Tapi biar bagaimanapun Pitch Perfect 2 adalah komedi musikal, dengan aspek musikal sebagai faktor yang lebih dititik beratkan. Meski lagi-lagi tidak sekuat film pertamanya, momen-momen musikal yang dimiliki film ini masih terasa menyenangkan. Saya masih beberapa kali dibuat ingin berdiri, menghentakkan kaki, ikut bernyanyi dan menari menikmati rangkaian lagu yang dibawakan. Puncaknya adalah pada klimaks kejuaraan dunia yang menjadi pertarungan antara The Bellas dengan grup akapela dari Jerman, "Das Sound Machine". Tidak hanya antara keduanya, klimaks itu juga menjadi gambaran sempurna pertarungan antara kesempurnaan teknik dengan kesederhanaan yang menggunakan hati. Sepanjang film, The Bellas disibukkan dengan berbagai koreografi dan gimmick unik yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Pada kejuaraan inilah mereka menemukan kembali esensi harmoni The Bellas lewat sebuah nomor musikal yang meski baik secara teknis (opening clap-nya jelas diniati sebagai the next "cups song moment"), tapi performance dari hati yang terasa emosional itu adalah daya pikat utamanya. Setidaknya setelah rangkaian konflik yang kurang maksimal, film ini ditutup dengan klimaks hingga ending memuaskan.

(source : http://movfreak.blogspot.co.id/2015/05/pitch-perfect-2-2015.html)

Judul film : Pitch Perfect 2
Rated : PG-13 / Dewasa
Durasi : 115 menit
Genre : Comedy, Music
Tanggal Rilis : 15 Mei 2015 (USA)
Rating : 6,6/10
Sutradara : Elizabeth Banks
Script : Kay Cannon, Mickey Rapkin
Pemain : Anna Kendrick, Rebel Wilson, Hailee Steinfeld
Bahasa : Inggris
Negara : USA

DOWNLOAD FILM PITCH PERFECT 2 DISINI

DOWNLOAD SOUNDTRACK PITCH PERFECT 2 DISINI




Pitch Perfect (2012)


Suatu  komedi romantis remaja berbalut musikal? Jelas bukan faktor baru, apalagi di masa dimana Glee adalah salah satu serial televisi paling disukai semacam kini ini. Faktor itu jugalah yang membikin saya pernah malas untuk melihat Pitch Perfect ini. Mesikipun film garapan sutradara Jason Moore ini lumayan laku di pasaran serta mendapat pujian dari para kritikus saya tetap ragu bakal dapat menyukai film ini. Formula standar mengenai suatu  grup yang mengikuti kompetisi musik rasanya sudah busuk serta terlalu tak jarang diangkat, meskipun dalam Pitch Perfect ada inovasi dimana grup musiknya bukan sekedar vocal group melainkan suatu  grup akapela. Pada akhirnya saya tetap melihat film ini dengan ekspektasi yang tak terlalu tinggi. Pada akhirnya faktor tersebut justru membikin saya sanggup menikmati film ini sebagai suatu  sajian yang sangat menghibur walau punya naskah yang biasa saja. Dalam Pitch Perfect kami tak bakal dibawa ke masa SMA semacam pada Glee, tapi di masa kuliah yang dalam suatu  adegan (yang dengan cara tak langsung menyinggung Glee) disebutkan sebagai masa yang lebih serius serta bukan lagi main-main.

Universitas Barden memiliki dua grup akapela. Yang pertama adalah Treblemaker yang adalah juara bertahan lomba akapela mahasiswa tingkat nasional serta diisi oleh para laki-laki yang rutin tampil atraktif. Yang kedua adalah Bellas yang tampil rutin dengan imej anggun serta cantik tetapi penampilannya monoton. Di final nasional tahun lalu pernah terjadi peristiwa memalukan bagi Bellas dimana Aubrey (Anna Camp), salah satu anggotanya muntah di tengah pertunjukkan. Alhasil tahun ini disaat Aubrey menjadi ketua ia berusaha mencari anak buah paling baik untuk memenangkan kompetisi. Seusai melewati suatu  auidisi, terkumpul anggota-anggota baru termasuk Becca (Anna Kendrick) yang menjadi tokoh sentral film ini. Becca adalah seorang gadis yang berimpian menjadi seorang DJ di Los Angeles. Bellas tahun ini tak semacam tahun-tahun sebelumnya sebab tak sedikit diisi oleh orang-orang yang unik bahkan aneh, mulai dari Becca yang susah diatur serta rutin menyuarakan perubahan, Fat Amy (Rebel Wilson) yang berbadan tambun serta cerewet, Cynthia (Ester Dean) gadis kulit hitam eksentips yang juga seorang lesbian, Stacey (Alexis Knapp) yang rutin berpikir mengenai seks, hingga Lily (Hana Mae Lee) yang bicara dengan sangat pelan serta rutin mengatakan hal-hal aneh.

Jelas tak ada yang spesial dari cerita Pitch Perfect. Seorang gadis pemberontak yang kemudian menemukan dunia miliknya serta yang tentu menemukan cintanya. Tetap ada kisah persahabatan sejati, kisah mengenai pendobrakan batas serta perubahan, serta segala hal-hal klise lain yang sudah tak jarang kami temui di film-film yang bertemakan kompetisi apapun bentuknya. Saya juga tak menemukan perbedaan mengenai setting di dunia kuliah yang digunakan disini. Tak ada bedanya dengan film-film sama yang punya latar SMA, tetap ringan dengan konflik yang tak jauh tak sama. Kisahnya predictable serta segala konflik yang ada juga berakhir dengan sangat mudah serta begitu cepat. Drama yang disaapabilan juga tak terlalu menyentuh, begitu pula dengan kisah romansanya yang terasa bagai tempelan serta tak terasa segi romantisnya. Sehingga apa yang membikin saya tak memberbagi rating kurang baik pada film ini? Jawabannya adalah pada peristiwa pemilihan musik, peristiwa komedi serta tokoh-tokoh yang timbul di film ini.


Musik yang ditampilkan sanggup terasa begitu membahagiakan didengar, apalagi dengan aransemen akapela yang membikin tiap lagunya menjadi punya keunikan tersendiri. Lagu-lagu dari Miley Cyrus, Jessie J, Bruno Mars sampai David Guetta dibawakan dengan cara yang tak serupa dari yang selama ini kami dengar. Faktor tu membikin tiap peristiwa kompetisi musiknya rutin luar biasa. Untuk komedinya sendiri, saya merasa Pitch Perfect bagai versi musikal dari Bridesmaids. Ya, film ini juga menampilkan deretan karakter wanita yang saling akrab serta meperbuat beberapa faktor konyol satu serupa lain. Untuk urusan komedi, film ini sanggup membungkusnya dengan begitu baik. Saya beberapa kali dibangun tertawa lepas oleh sajian komedi yang sebetulnya tak terlalu cerdas tapi punya timing yang cocok. Yep, comedy is all about timing.

Untuk karakter yang ada sebetulnya tak punya karakterisasi yang mendalam, tetapi bagi saya semuanya punya ciri khas yang mengena serta manjur untuk setidaknya menghantarkan peristiwa komedi dengan baik. Yang paling tak sedikit mendapat pujian adalah Rebel Wilson sebagai Fat Amy yang punya kepercayaan diri luar biasa serta punya mulut yang seenaknya, mengingatkan saya pada peran Melissa McCarthy di Bridesmaids. Dirinya konyol, lucu tetapi bertalenta. Beberapa obrolan luar biasa lucu tak jarang terlontar (lari vertikal?). Kemudian ada Hana Mae Lee sebagai Lily yang punya volume bicara super rendah tapi rutin melontarkan kata-kata aneh yang sanggup memancing tawa. Anna Kendrick sendiri lumayan baik sebagai karakter mutlak yang mudah disukai. Aktris lainnya juga lumayan baik membawakan karakter mereka, sampai semuanya menjadi klimaks di suatu  adegan super acak-acakan serta super lucu yang berhubungan dengan muntah menjelang klimaks.Overall ini merupakan suatu  tontonan ringan yang super menghibur. Musik menyenangkan, pemain yang keren serta komedi yang begitu lucu, gadis-gadis ini memberbagi waktu yang membahagiakan bagi saya.

(source : http://movfreak.blogspot.co.id/2013/01/pitch-perfect-2012.html)

Judul film: Pitch Perfect (2012)
Rated : PG-13 / Remaja
Durasi : 112 menit
Genre : Komedi, Musical, Romance
Tanggal rilis : 5 Oktober 2012 (USA)
Rating : 7,2/10
Sutradara : Jason Moore
Script : Kay Cannon
Pemain : Anna Kendrick, Brittany Snow, Rebel Wilson
Bahasa : Inggris
Negara : USA

DOWNLOAD FILM PITCH PERFECT DISINI

DOWNLOAD SOUNDTRACK PITCH PERFECT DISINI




Selasa, 20 Oktober 2015

Prince of Persia: The Sands of Time (2010)

Konon, menurut legenda Persia, barang siapa mempunyai sebuah jam pasir yang berisi Sands of Time (pasir waktu) bakal sanggup membalikkan waktu. Jam pasir ini merupakan pemberian para dewa yang tidak dapat dipergunakan sembarangan. Di tangan orang yang baik, jam pasir ini dapat mendatangkan kebaikan serta sebaliknya di tangan orang yang jahat maka kehancuran yang ditimbulkannya juga tidak terbayangkan.

Dastan (Jake Gyllenhaal) sebetulnya tidak mempunyai darah adiwangsa tetapi kebaikan hati King Sharaman (Ronald Pickup) membikin anak jalanan ini menjadi seorang pangeran. Pada suatu ketika, Dastan ingin membuktikan pengabdiannya pada sang ayah dengan memimpin pasukan menyerbu Alamut, kota yang konon menyimpan sebuah senjata dahsyat. Sayangnya, ini nyatanya hanyalah sebuah tipu daya saja.

Tanpa disadari Dastan malah akhirnya melepaskan 'pasir waktu' serta membalikkan waktu yang berlangsung. Di saat Dastan berusaha membenahi kesalahan yang sudah ia perbuat, pangeran muda ini dituduh membunuh ayah angkatnya serta menjadi buronan paling dicari di seluruh negeri. Dalam pelarian, sambil mencari tutorial untuk menyelamatkan negerinya dari pengkhianat, Dastan berjumpa Putri Tamina (Gemma Arterton) yang bersedia menolongnya dalam misi mulia ini.

Movie Mania yang suka game tentu sudah tidak asing lagi dengan judul film ini. Film berjudul PRINCE OF PERSIA: THE SANDS OF TIME ini terbukti diangkat dari serial game yang sudah ada sejak tahun 1989 lalu. Game ini terbukti lumayan terkenal serta tidak terlalu mengherankan apabila Hollywood kemudian membawa game ini menjadi film layar lebar. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Artinya, film yang dibintangi oleh nama-nama besar ini terbukti menghibur.

Pada dasarnya, ide cerita yang ditawarkan terbukti sangat sederhana serta itu dapat dimaklumi sebab film ini diangkat dari sebuah game yang terbukti lebih fokus pada pengalaman memainkan game itu sendiri ketimbang alur ceritanya. Alur cerita ditata dengan tempo cepat serta mudah dicerna walau sayangnya, begitu film beres, tidak tidak sedikit yang tersisa di benak penonton.

Sebetulnya kekuatan dari film ini terletak pada para pendukungnya yang terbukti bukan orang baru di dunia film. Ada nama Jake Gyllenhaal, Gemma Arterton, Ben Kingsley, serta Alfred Molina yang tercatat sehingga pendukung film ini serta soal akting, rasanya mereka semua tidak butuh lagi diragukan. Walau bukan orang Inggris tetapi aksen British Jake Gyllenhaal tergolong lumayan meyakinkan.

THE PRINCE OF PERSIA: THE SANDS OF TIME
Genre : Action
Tanggal rilis : 28 Mei 2010
Sutradara : Mike Newell
Skenario : Jordan Mechner, Boaz Yakin, Doug Miro, Carlo Bernard
Produser : Jerry Bruckheimer
Durasi : 120 menit
Distribusi : Walt Disney Pictures
Budget : US$ 200 juta
Box Office : US$ 336,4 juta





Doownload film: Avengers XXX 2: An Axel Braun Porn Parody (2015) [WARNING !!! 26+++]

Movie Mania, kembali Axel Braun merilis video porn parody dari Avengers 2, yang kali ini di kasih title Avengers XXX 2: An Axel Braun Porn Parody.

Tanggal rilis dari Avengers XXX 2: An Axel Braun Porn Parody, selang lebih awal 1 bulan dari Avengers 2: Age of Ultron , yaitu pada medio April 2015, so bisa dipastikan kalao alur cerita dari film porn parody ini sama sekali berbeda dengan Avengers 2: Age of Ultron.

Tanpa banyak basa-basi, bagi para Movie Mania yang ingin mendownload film porn parody ini, silahkan langsung aja mampir kesini, oke

Avengers XXX 2: An Axel Braun Porn Parody
Kategori : Video
Durasi ; 98 menit
Genre : Adult
Tanggal rilis : 27 April 2015
Sutradara ; Axel Braun
Pemain : Jayden James, Josh Rivers, Zoe Poss
Alur cerita : -
Bahasa : Inggris
Negara ; USA

Rabu, 14 Oktober 2015

Download Video Avengers XXX: A Porn Parody (2012) [Warning 26+++]

Axel Braun di bawah naungan Vivid Entertainment memang sedang ngegeber produksi video-video konsumsi penonton dewasa atau lebih kasarnya disebut video porno bertemakan seri Superhero. Dan seperti halnya video-video sejenis dari Axel Braun, meskipun di judul selalu di embel-embeli dengan kata Parody, tapi muatan parody nya memang minim, karena yang di tonjolkan emang muatan hardcore porn nya.

Dan di postingan kali ini, admin Movie Mania, gak akan ngebahas habis soal video ini, karena memang apa yang bisa di expetasikan dari video-video semacam ini, selain adegan-adegan 'porn'nya :p

Disini, admin Movie Mania bagikan saja link free download dari video Avengers XXX: A Porn Parody yang file nya dengan mudah bisa di download, setelah bisa mendownload video ini dan menontonnya, silahkan para Movie Mania nilai sendiri isinya. :D

Avengers XXX: A Porn Parody
Kategori : Video
Genre : XXX / Hardcore porn
Tahun produksi : 2012
Sutradara : Axel Braun
Pemain : Dale DaBone, Brendon Miller, Eric Masterson
Bahasa : Inggris
Negara : USA
Storyline : An XXX parody based on 'The Avengers'.








Klik DISINI untuk mendapatkan link free download film Avengers XXX: A Porn Parody

 

Sabtu, 10 Oktober 2015

Download Video XXX Cum Over Nuns [Warning 26+++]

Cum Over Nuns
Original title : Exzesse mit Wein, Weib und Gesang
Rated : XXX / Hardcore porn
Kategory : Video
Durasi : 82 min
Tahun rilis : 1997
Sutradara : Hary S. Morgan
Pemain : Adeline Lange, Claude Noire, Mona Lisa
Bahasa : Jerman
Negara : Jerman
Format file : AVI Video (*.avi)
Kualitas gambar : DVDRip
Resolusi : 720x544
Subtitle :-



Two soldiers accidentally fall into the female monastery. After which they begin to penetrate deep into the dark and deep nuns vaginas and explore the misteries of the monastery. Exzesse mit Wein was filmed by director of dirty nuns movie

KLIK DISINI INI UNTUK MENDAPATKAN LINK FREE DOWNLOAD VIDEO : CUM OVER NUNS


Jumat, 02 Oktober 2015

Download Film Cinderella: An Axel Braun Parody (2014) [26++]

Judul film : Cinderella: An Axel Braun Parody
Tahun produksi : 2014
Kategori : Video
Durasi video : 108 menit
Rated : Adult Movie / XXX
Genre : Adult, Fantasy
Rilis perdana di Amerika Serikat : 24 September 2014
Sutradara : Axel Braun
Pemain : Samantha Saint, Veronica Avluv, Penny Pax
Bahasa : Inggris
Produksi : Amerika Serikat
Plot cerita : Versi xxx parodi dari cerita Cinderella

Klik DISINI untuk mendapatkan link free download film Cinderella; An Axel Braun Parody berkualitas gambar WEB-DL


Jumat, 22 Mei 2015

Once Upon A Time in Shanghai (2014)

"Pemuda miskin dari kampung bernama Ma Yongzhen (Philip Ng) datang ke Shanghai untuk mengadu nasib mencari peruntungan. Sayangnya kehidupan Shanghai terlalu keras bagi anak kampung seperti Yongzhen. Satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakoninya sebagai kuli angkut tak mengubah nasibnya terlalu banyak. Malah kemampuan beladirinya yang unik membuat Yongzhen sering berhadapan dengan masalah dan kekerasan. Hingga akhirnya Yongzhen berkenalan dengan seorang gangster muda yang sedang naik daun, Longqi (Andy On). Dari awalnya bertengkar, beradu kungfu, hingga akhirnya akrab berteman. Kekuasaan Longqi makin lama membuat gangster kapak terintimidasi dan mereka mulai menyusun rencana untuk menyingkirkan Longqi dengan cara bekerja sama dengan pihak Jepang."


Movie Mania pernah mendengar nama Philip Ng? Jangankan penggemar film biasa, penggemar film martial arts Hongkong sekalipun mungkin tidak kenal. Padahal Philip Ng adalah aktor muda yang digadang-gadang sebagai penerus Donnie Yen. Perjalanan karir Philip Ng dan Donnie Yen memang agak mirip. Jika Donnie Yen lahir di Guangdong China dan sejak usia 11 tahun diboyong kedua orang tuanya ke Boston Amerika, Philip Ng lahir di Hongkong lalu ketika masih kecil diboyong dan dibesarkan orangtuanya di Chicago Amerika. Keduanya mulai diajarkan berinteraksi dengan bela diri sejak kecil oleh orangtua masing-masing. Jika Donnie Yen sejak kecil dilatih ibunya Bow-Sim Mark seorang master Taichi, maka Philip Ng berlatih Choy Lee Fut dibawah bimbingan ayahnya Sam Ng.

Keduanya sama-sama berprofesi ganda sebagai aktor dan action choreographer, juga mengembangkan MMA (Mixed Martial Arts) dan memasukkan gaya MMA kedalam film yang tata laganya dikoreografi sendiri. Sayangnya karir Philip di Hongkong tak semulus Donnie. Mengawali karirnya di dunia perfilman Hongkong sejak tahun 2003, peran Philip tak pernah jauh dari penata laga dan peran pembantu. Akhirnya kesempatan unjuk gigi sebagai pemeran utamapun tiba. Dalam Once Upon A Time in Shanghai (OUATIS) ini, Philip Ng akhirnya mencicipi peran sebagai tokoh utama.
Philip Ng

Movie Mania, saya tertarik menonton film ini karena OUATIS disebut-sebut sebagai remake film tahun 1972 yang berjudul Boxer from Shantung yang disutradarai legenda Shaw Brothers Chang Cheh. Bahkan Chen Kuantai yang berperan sebagai Ma Yongzhen dalam Boxer from Shantung juga diajak main di OUATIS sebagai salah satu pemimpin Gang Kapak.

Sayangnya Boxer from Shantung garapan Chang Cheh yang bergaya noir dan gritty, penuh kisah keserakahan manusia malah dibelokkan sutradara OUATIS, Wong Chingpo menjadi film bertema nasionalisme. Boxer from Shantung berfokus pada perkembangan karakter seorang pemuda kampung nan lugu yang berangsur-angsur kehilangan identitas keluguannya, terkikis oleh sifat serakah dan tamak kekuasaan akibat pengaruh kehidupan kota Shanghai yang keras. Adegan Chen Kuantai bertarung dikeroyok Gang Kapak dengan sebilah kapak tertancap diperutnya benar-benar memorable, sebuah karya sutradara legendaris Chang Cheh yang tak terlupakan.

Sedangkan OUATIS malah membagi fokusnya antara si lugu Yongzhen, si gangster patriot Longqi, gang kapak, hingga spionase Jepang. Tak ada pengembangan karakter yang jelas dan semua tokoh cenderung hitam-putih, khas film-film nasionalisme melawan penjajahan. Malah dalam beberapa adegan, terlihat jelas penulis cerita dan sutradara OUATIS ingin memasukkan 2 film Bruce Lee ke dalam OUATIS.

Seperti karakter yang dibawakan aktor senior Sammo Hung mengingatkan saya pada Huo Yuanjia guru tokoh Chenzhen (yang diperankan oleh Bruce Lee dalam Fist of Fury). Dengan menambahkan embel-embel spionase Jepang, makin terlihat betapa cerita Fist of Fury ingin dijejalkan ke dalam OUATIS.

Lalu adegan final fight yang mengambil setting pertarungan akhir di sebuah pagoda dimana tiap tingkat telah menunggu lawan yang lebih tanguh, keliatan sekali ngikut Game of Death.

Tapi sejauh itu, untungnya film ini memiliki Yuen Woo-ping sebagai penata laga. Yuen menunjukkan kelasnya sebagai fight choreographer senior yang mumpuni. Pertarungan dalam film ini memang tak ada yang baru dan tak ada yang spesial, tapi tetap saja enak untuk ditonton. Kungfu tangan kosong Yongzhen terlihat tangguh, ditambah dengan kemampuan Philip Ng yang memang seorang martial artist asli. Philip Ng mampu menunjukkan dirinya sebagai aktor laga yang memiliki kemampuan beladiri solid. Setiap adegan laga mampu dilakoni Philip dengan lincah dan bertenaga.

Cuma sangat disayangkan film ini sendiri lemah dalam bercerita dan itu turut memberi andil kurang suksesnya film ini.

So, Movie Mania ingin melihat aksinya Philip Ng sebagai penerus Donnie Yen di OUATIS ? Download aja filmnya DISINI...



Senin, 16 Maret 2015

HORNS (2014) ~Manusia bertanduk di Kepala, apakah jelmaan dari Setan ??~

Dibuka dengan indah bersama narasi dan dialog-dialog yang sama indahnya, “I’m gonna love you for the rest of my life.” Sulit diyakini bahwa ternyata Horns mengalir menjadi sebuah thriller supranatural kelam setelahnya. Dan sungguh lebih diluar dugaan, bahwasanya film ini adalah besutan dari Alexander Aja yang biasanya tidak pernah bermanis-manis setelah Furia pada medio 1999 lalu.


Diceritakan, Ignatius “Ig” Perrish (Daniel Radcliffe), pemuda lokal Gideon, New Hampshire yang dituduh memperkosa dan membunuh pacarnya sendiri, Merrin Williams (Juno Tempel). Meskipun tidak pernah didakwa karena tidak cukup bukti, ia mendapat hukuman sosial dari masyarakat yang percaya bahwa ia memang melakukannya. Kematian Merrin tentu saja membuatnya sedih dan depresi, tetapi masalah baru saja dimulai ketika ia medapati dua tanduk tumbuh di kepalanya setelah terbangun dari mabuk hebat. Untuk melengkapi penderitaanya, tanduk itu juga memberikannya kemampuan ajaib untuk membuat seseorang mengeluarkan sisi tergelap mereka yang nantinya dimanfaatkan Ig untuk menyelidiki siapa pelaku pembunuh Merrin yang sudah menghancurkan hidupnya.


Saat kita membuang tanduk dan segala embel-embel mitos tentang iblis, kita mungkin akan mendapati Horns hanya sekedar thriller kriminal biasa, tentang pria yang mencari pembunuh kekasihnya dengan bintang Daniel Radcliffe. Tetapi diberikannya sebuah tema supranatural fantasi dengan sedikit aroma biblical, Horns tentu saja menjadi sajian yang lebih istimewa. Ini seperti versi kebalikannya dari Bruce Almighty.

Jika di komedi fantasi keluaran 2003 lalu tersebut, Jim Carrey mendapat pinjaman kekuatan dari Tuhan, maka Radcliffe di sini diberi tanduk yang punya kekuatan untuk mengacaukan, mengungkap sisi terburuk dan setiap godaan-godaan dari manusia, dengan tone komedi yang lebih gelap ala-ala Alexander Aja.

Premisnya jelas menarik, tetapi jujur Horns bisa tetap berjalan dengan atau tanpa konsep tanduk dan setan meskipun harus diakui tanpa ide itu ia mungkin akan membosankan dan jelas kehilangan pesona orisinilitasnya. Jika Movie Mania belum pernah membaca novel Hill, Horns akan mengejutkanmu. Tanduk yang tumbuh adalah simbol iblis dalam diri setiap manusia, ia muncul akibat dari murtadnya karkater Ig kepada Tuhan pasca kehilangan cinta duniawi dalam wujud si rambut merah cantik Merrin yang kemudian menghancurkannya, selanjutnya membuatnya menjadi Hellboy versi seksi, tidak hanya sebagai hukuman namun juga anugerah yang aneh di mana kemudian dengan kemampuan ajaibnya ternyata bisa banyak membantunya mengorek informasi tersembunyi dari manusia-manusia di sekitarnya. Tentu saja seperti layaknya sebuah film yang berintikan elemen thriller kriminal misteri pembunuhan, pencarian kebenaran masih menjadi bagian paling menarik dari Horns meskipun tidak ada pencarian petunjuk yang kompleks dan terlepas banyaknya sub plot tambahan tentang persahabatan dan romansa dari masa lalu yang menyatu, membentuk kepingan-kepingan cerita yang diakhiri dengan sebuah konklusi yang mungkin sedikit dipaksakan emosinya.

Satu hal yang paling menarik dalam Horns selain tanduk setan, pembunuhan, Juno Tampel yang manis dan polos serta romansa picisannya, tentu saja adalah penampilan Daniel Radcliffe yang prima.

Sejak meninggalkan Hogwarts, baru kali ini saya merasa Radcliffe benar-benar tampil lepas,menanggalkan alamamater kebesarannya, bertransformasi cantik menjadi sosok anti-hero depresi dengan tanggung jawab dari kekuatannya yang menakutkan. Tidak ada yang lebih pas dari karakter bertampang baik-baik yang kemudian diberi tanduk iblis dan membuatnya melakukan segalanya demi membalaskan dendam kekasihnya, dan bersama banyak ular termasuk yang melingkar di lehernya, Radcliffe tampil sempurna membawakan karakter paling gelap dalam kariernya.

Tiga tahun pasca seri terakhir Harry Potter, Daniel Radcliffe semakin menjauh dari karakter penyihir yang membesarkan namanya itu di setiap film baru yang dibintanginya. Tidak mudah memang melepaskan imej dari salah satu tokoh paling ikonis dalam sejarah film yang akan selalu dikenang. Tetapi usaha Radcliffe untuk membuktikan bahwa ia bisa hidup tanpa Hary Potter jelas patut diacungi jempol. Dan ketika ia membintangi thriller fantasi Horns, adaptasi novel cult karangan Joe Hill yang juga ditukangi oleh master gore horor, Alexander Aja mungkin Movie Mania akan benar-benar melupakan sosok Hary Potter dalam diri Radcliffe.


PENASARAN INGIN MELIHAT PENAMPILAN LAIN DARI DANIEL RADCLIFFE SETELAH LEPAS DARI SOSOK HARRY POTTER YANG SUDAH MEMBESARKAN NAMANYA ?? DOWNLOAD FILM HORNS DISINI

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More