Minggu, 24 Agustus 2014

Jim Carrey dan Jeff Daniel, Memparodikan Scarlet Johansson Di Lucy, Dalam Poster Dumb And Dumber To

Film terbaru Universal yang bertajuk 'Dumb and Dumber To' baru – baru ini merilis sebuah poster. Film komedi yang disutradarai oleh Bobby dan Peter Ferrelly ini menampilkan wajah para pemeran utama dalam posternya. Lucunya, poster yang dirilis tersebut memparodikan film laga Scarlett Johansson yang berhasil masuk dalam jajaran box office.

Dilansir dari laman Aceshowbiz, melihat kesuksesan film Johansson, 'Dumb and Dumber To' terinspirasi dan sengaja memparodikan film ‘Lucy’ melalui poster film. Seperti diketahui di film ‘LucyJohansson dapat mengakses 100 persen dari kapasitas otaknya setelah salah menelan obat sementara Jim Carrey dan Jeff Daniels hanya bisa menggunakan 1 persen dari otak mereka

"Rata-rata orang menggunakan 10% dari kapasitas otak mereka. Bayangkan apa yang bisa dilakukannya dengan 1%” ungkap tulisan di poster 'Dumb and Dumber To' yang baru saja rilis. Sementara di poster ‘Lucy’ tertulis kalimat “Rata-rata orang menggunakan 10 persen dari kemampuan otak mereka. Bayangkan jika dia melakukannya dengan 100 persen,"

Dua film berbeda genre tersebut diproduksi oleh Universal Pictures. 'Dumb and Dumber To' mengisahkan tentang dua sahabat yakni Lloyd dan Harry yang melakukan petualangan untuk mencari anak perempuan Harry yang telah diadopsi oleh orang lain.

'Dumb and Dumber To' dibintangi oleh Jim Carey, Jeff Daniels, Angela Kerecz, Kathleen Turner, Jennifer Lawrence, Laurie Holden, Rachel Melvin, dan Rob Riggle. Rencananya 'Dumb and Dumber To' siap rilis di Amerika Serikat pada 14 November 2014 mendatang.

Dan gambar berikut ini adalah poster film Dumb and Dumber To serta Lucy :


The Forbidden Kingdom (2008) ~Pertama Kalinya Mempertemukan Jackie Chan Dan Jet Li~


Alkisah, ada seorang anak asal Boston yang menggilai cerita-cerita asal China. Dia hobi berkunjung ke daerah pecinan dan berburu film bajakan cerita China. Toko ini dikelola oleh seorang yang sangat tua. Suatu hari, anak ini melihat ada sebatang tongkat di toko tersebut. Ia mengenal tongkat itu sebagai tongkan Raja Kera. Pak tua pemilik toko menjelaskan, tongkat itu menunggu untuk ditemukan oleh seseorang yang akan mengembalikannya kepada Raja Kera. Kakek pak tua itu, dulu menunggu orang tersebut, tapi tak datang juga. Kini, giliran dia yang menunggu. Sekelompok anak berandalan hendak merampok toko Pak Tua itu, ketika Pak Tua tertembak, ia berpesan kepada anak Amerika untuk mengembalikan tongkat itu kepada pemiliknya. Anak ini lari, kabur membawa tongkat, hingga ke atas gedung, dikepung oleh kawanan berandalan yang hendak membungkamnya. Di sinilah kemudian dia merasa, tongkat itu menariknya. Tahu-tahu ketika sadar, ia telah berpakaian pengembara ala China dan telah terlempar ke tahun lampau. Dimulailah pengembaraannya mengembalikan tongkat ke Raja Kera yang sedang dikutuk jadi batu oleh Panglima Giok di Kerajaan Terlarang. Yang asik, anak amerika ini bertemu tokoh legenda cerita China lainnya, seperti Drunken Master (Pendekar Mabuk, yang kemudian jadi gurunya -diperankan oleh Jackie Chan), Sparrow (Pendekar Burung Walet), juga Crow (Siluman Gagak, musuh Kera Sakti).

Tonton streaming Video Full film The Forbidden Kingdom


The Forbidden Kingdom adalah film produksi Amerika yang notabene adalah Hollywood, namun di sana-sini diwarnai silat ala China yang segar, yang sangat akrab bagi saya ataupun para penggemar film-film martial art produksi Mandarin (HK/China) yang kerap nonton film-film silat China (lebih segar dari silat di film Crouching Tiger Hidden Dragon). Dan satu hal lagi, di film ini dipasang dua nama yang seolah menjadi jaminan mutu untuk setiap film Mandarin, ya... Jackie Chan dan Jet Li, yang untuk pertama kali-nya di duetkan di satu film.

Ditambah dengan penulis naskah kenamaan John Fusco membuat film yang disutradarai oleh Rob Minkoff ini patut diacungi jempol. Walaupun memang ada beberapa kejanggalan yang kurang diperhatikan sang sutradara, seperti :

1. Jason tiba-tiba mahir menunggang kuda padahal di dunia nyata tidak ada penjelasan sama sekali bahwa Jason mahir menunggang kuda.
2. Ada adegan dimana pintu gerbang Istana Giok dijaga ketat oleh ratusan pasukan tentara Giok namun dengan mudahnya the Silent Monk dan Golden Sparrow menembus mereka untuk menyusul Jason yang sudah terlebih dahulu bertemu dengan jade Warlord.

Tapi semua itu tidak menjadikan film ini cacat untuk ditonton sampai akhir, bahkan, cukup memuaskan.

Dari ide cerita, sebetulnya gak fresh banget, kisah anak yang “terlempar” ke dunia antah-berantah, tentu bukan tema baru. Ada The Never Ending Story (film lama, kalau tidak salah diproduksi tahun 1979), lalu ada film animasi Alice in Wonderland (ini juga film lama). Film-film baru dengan tema sama; Narnia: The Witch, The Lion and The Wardrobe. Kisah Peter Pan yang dibintangi oleh Robin Williams, diangkat dengan judul The Hook, juga dibuka dengan tokoh yang tiba-tiba masuk ke dunia anak abadi di balik awan.

Akhir kata, saya tidak mau berbicara soal tehnik kamera, pencahayaan, adegan mubadzir, and all that crap, karena saya sedang girang. Lagipula, memang tidak ada yang perlu dipersoalkan. Bahkan ending cerita yang sudah bisa ditebak, yaitu ketika tokoh Sparrow dihidupkan kembali di dunia nyata sebagai gadis China yang bekerja di toko seberang toko milik Pak Tua, pun mampu menghibur saya. Semua rasanya pas.

Mau download film The Forbidden Kingdom dengan subtitle Indonesia (hardsub) ? silahkan masuk KESINI !



Sabtu, 23 Agustus 2014

How to Train Your Dragon 2, Jadi Film Animasi Terlaris Tahun 2014


Film How to Train Your Dragon 2 dikabarkan sukses dipasaran dunia, pasalnya film yang mengisahkan pertualangan Hiccup dan Toothless ini berhasil mencetak rekor dengan meraih pendapatan tertinggi sepanjang tahun ini.

Dilansir dari laman Aceshowbiz, film animasi yang disutradarai oleh Dean DeBlois itu meraih kesuksesan yang luar biasa pada saat film tersebut tayang di Cina tanggal 14 Agustus lalu. Sekuel kedua How to Train Your Dragon 2 berhasil menduduki box office dengan meraih pendapatan USD 5,6 juta (Rp 65 miliar). Sampai saat ini, film yang diproduksi oleh DreamWorks Animation telah melewati angka USD 500 (Rp 5,8 triliun).

How to Train Your Dragon 2 telah melampaui pendapatan film animasi lainnya yang dirilis tahun ini termasuk diantaranya film garapan Warner Bros, The Lego Movie (USD 468 juta), Rio 2 (USD 496 juta) dan Mr.Peabody & Sherman (USD 268,7 juta).

"Kami sangat bangga atas keberhasilan How to Train Your Dragon 2 sejak awal kami melihatnya. Dan kami senang film ini bisa membuat penonton di seluruh dunia merasa sangat antusias melihatnya," ungkap Kepala Marketing Dawn Taubin.

"Keberhasilan film ini tak hanya terbukti secara teknis dan artistik untuk DreamWorks tetapi keberhasilan film ini dibuktikan pula secara global dengan masuk daftar box office dunia, hal tersebut membuktikan bahwa penonton merasa How to Train Your Dragon 2 sebagai salah satu film animasi yang paling menghibur di tahun ini" jelas Dawn Taubin.

"Hasilnya sangat luar biasa dan layak diakui untuk pencapaian film How to Train Your Dragon 2," ungkap Chris Aronson selaku Presiden Distribusi Area Domestik di 20th Century Fox. "Kami berharap film tersebut bisa meraih kesuksesan yang lebih besar di box office.”

Rencananya, How to Train Your Dragon 2 akan mulai tayang perdana di Italia pada akhir pekan ini. Film ini menceritakan tentang petualangan Hiccup yang tiba – tiba bertemu ibunya saat ia tengah berusaha menyelamatkan para naga yang diincar oleh Drago Bludvist.

Sejumlah artis Hollywood turut terlibat sebagai pengisi suara para karakter, mereka adalah Djimon Hounsou (Drago), Jay Baruchel (Hiccup), Cate Blanchett (ibu Hiccup, Valka), Gerad Butler (ayah Hiccup, Stoick) dan America Ferrera (Astrid).

99 Cahaya di Langit Eropa (2013) ~Mengungkap Rahasia Islam di Benua Eropa~


Film yang diangkat dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini dimulai dengan pembukaan yang apik yaitu menceritakan sejarah penaklukan Austria oleh Turki dibawah pimpinan Kara Mustafa Pasha.

Sepanjang film mata saya dimanjakan oleh berbagai pemandangan indah di Eropa. Berkali-kali saya takjub akan keindahan arsitektur yang menjadi latar di film ini. Saya mendapatkan sebuah paket lengkap saat menonton, mata yang dimanjakan melalui keindahan setting film yang seluruhnya di Eropa, hati yang disentuh inspirasi melalui pesan luhur menjadi agen muslim yang baik di manapun berada, serta membuka wawasan tentang fakta sejarah yang terabaikan terutama tentang kejayaan Islam di masa lalu.

Semuanya ditampilkan begitu sederhana namun sarat makna. Saya menikmati film ini dari awal hingga akhir. Meskipun akhir filmnya sangat tidak terduga yaitu akan ada Part 2. Dari trailer sekilas di akhir film, part 2 memang layak untuk dinantikan.

Dari unsur pemain, akting para bintang film papan atas Indonesia yang terlibat dalam film ini juga terasa pas dan mengalir dengan indah. Salah satu yang mencuri perhatian saya adalah Nino Fernandez yang sukses memerankan seorang atheis bernama Stefan , ia berhasil menjadi pemain watak yang menguras emosi saya, menyebalkan sekaligus menggemaskan. 

Acha Septriasa juga cukup sukses memerankan Hanum Rais, kebosanan Hanum setelah beberapa lama tinggal di Wina tanpa kegiatan, belum lagi kendala bahasa sehari-hari yaitu bahasa Jerman, diskriminasi terhadap muslim dan pendatang, sampai pertengkaran dengan tetangga gara-gara masalah sepele seperti bau saat menggoreng ikan asin mampu digambarkan dengan baik oleh Acha melalui akting apiknya. Cukup membangkitkan emosi dan imajinasi saya tentang kehidupan seorang istri yang mendampingi suaminya S3 di luar negeri sekaligus juga bagaimana menjembatani gap budaya dan menyebarkan kebaikan melalui misi “menjadi agen Muslim yang baik”.

Begitu pula dengan Abimana Aryasetya yang sukses memerankan Rangga, suami Hanum. Ia sukses memerankan suami idaman setiap wanita yang cerdas, penyayang, sabar, humoris, sekaligus memiliki keteguhan iman. Saat Ia dihadapkan kepada pilihan antara mengikuti shalat Jum’at atau ujian yang apabila ditinggalkan akan mengancam kelulusannya, Ia sukses menyadarkan saya bahwa menjadi minoritas itu sulit, apalagi yang tengah diuji adalah keimanan.

Dari segi jalinan cerita, humor-humor yang disisipkan bisa ditempatkan dengan porsi sesuai dan tidak berlebihan, cukup membuat saya terhibur, apalagi dialog yang berkaitan dengan Stefan, mampu menghadirkan perdebatan tentang keberadaan Tuhan secara santai, lucu, tanpa kehilangan esensi sebenarnya dari pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Kehadiran Marissa Nasution, teman kuliah Rangga, memberikan warna tersendiri, ia sukses memerankan seorang perempuan yang ‘menggoda’ keteguhan dan kesetiaan Rangga.

Fatma Pasha menjadi tokoh yang banyak difavoritkan di novel 99 Cahaya di Langit Eropa yang menjadi based dari film 99 Cahaya di Langit Eropa ini, ia merupakan tokoh penting yang membuka mata (dan juga hati) sang tokoh utama, Hanum Rais, dalam mengenal sisi lain sejarah Islam di Eropa. Ia tak hanya sekedar sahabat dekat tetapi sekaligus juga pemberi inspirasi yang mengubah pandangan Hanum tentang kehidupan. Sosok sederhana yang memiliki ketebalan iman untuk tetap mempertahankan jilbabnya di kota modern, Wina. Memiliki misi menjadi agen muslim yang baik di tempat dimana Islam memiliki image yang kurang baik, dianggap sebagai agama dengan ajaran penuh kekerasan dan identik dengan teroris. Juga ketegarannya saat terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya, Ayse, membuat saya begitu mengagumi Fatma. Dan Raline Shah cukup berhasil membawakan peran Fatma Pasha.

Dialog dalam film ini menggunakan beberapa bahasa yang berbeda yaitu Indonesia (paling dominan), Inggris, Jerman dan Turki. Dialog ini agak sedikit mengganggu saya dalam beberapa scene, seperti contohnya Fatma yang seorang perempuan Turki tapi dalam beberapa scene menggunakan bahasa Indonesia. Atau Marion Latimer (Dewi Sandra) yang menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen Perancis, padahal ia seorang perempuan Perancis bukan seorang blasteran Indonesia-Perancis. Ada juga teman-teman Rangga, seperti Stefan dan Khan, yang jelas-jelas merupakan international student di Wina tapi berbicara bahasa Indonesia. Sedikit mengurangi kesempurnaan film ini, tapi cukup bisa dimaklumi mengingat akan sangat merepotkan penulis skenario jika harus menyusun seluruh dialog dalam bahasa asing. Mungkin juga dikhawatirkan akan menyulitkan para pemain sehingga aktingnya kurang total.

Saya juga sedikit terganggu dengan pesan sponsor yang agak memaksa, Marion Latimer yang seorang perempuan Perancis memakai produk kosmetik lokal buatan Indonesia yang jadi sponsor? Agak sedikit tidak masuk akal. Kalaupun harus menampilkan sponsor tampilkanlah secara wajar, seperti Hanum yang memang asli Indonesia cukup masuk akal menggunakan produk ini atau seperti Rangga yang menggunakan ATM sebuah bank nasional. Scene yang juga mengganggu adalah scene Fatin syuting vidoklip kemudian kebetulan bertemu Hanum dan Rangga, menurut saya agak sedikit memaksa, mengingat scene tersebut hanya memperpanjang durasi tetapi tidak mendukung jalan cerita sama sekali.

Namun dibalik semua kelebihan maupun kekurangannya, menonton film ini membuat saya bersyukur hidup di Indonesia, dimana Islam sebagai mayoritas, bebas menjalankan ibadah, tidak seperti Rangga yang dihadapkan pada pilihan mengikuti ujian atau melaksanakan shalat Jum’at. Tidak seperti Rangga yang kesulitan mencari tempat shalat di kampus sehingga terpaksa shalat di ruang ibadat seluruh agama, diantara salib, patung budha, dan asap hio. Tidak seperti Rangga yang harus berhati-hati memilih makanan halal. Tidak seperti Fatma dan Ayse yang menghadapi berbagai kesulitan karena jilbabnya. Sesuatu yang sangat patut disyukuri mengingat kebanyakan dari kita yang terlalu dimanjakan dalam posisi mayoritas di negeri ini dan terkadang kurang menghargai kepentingan minoritas.

Link Free Download film 99 Cahaya di Langit Eropa ada DISINI

Jumat, 22 Agustus 2014

Michael Bay, Garap Ulang Animasi UP ?

Masih ingat dengan film animasi UP ?
Yap, film yang mengisahkan tentang petualangan Mr. Fredrickson dan Russel bersama ribuan balon gas ini sukses menjadi salah satu film terlaris sepanjang tahun 2009 silam.

Film arahan Pete Docter ini pun sangat disukai para penggemar film karena mengandung unsur romantis dan kesetiaan. Namun, apa jadinya jika film UP digarap oleh sutradara Transformers?

Dilansir dari laman Digitalspy, belakangan beredar sebuah video di YouTube yang mengandaikan jika sosok sutradara Transformers, Michael Bay didapuk untuk menangani film animasi UP buatan Pixar dan Disney tersebut.

Hasilnya video yang berdurasi dua menit ini tampil berbeda dan menakjubkan, gaya penyutradaraan Michael Bay pun terlihat jelas. Di video versi trailer UP ini menampilkan banyak adegan menegangkan, ledakan demi ledakan seperti dalam film Transformers pun tampil dalam video film tersebut.

Video tersebut diketahui diunggah oleh akun YouTube milik MrStratman7, video berjudul What if Michael Bay Directed ‘UP’? ini sudah disaksikan lebih dari enam juta orang. Selain efek ledakan ala Transformers, film ini menggunakan jenis huruf yang mirip dengan bentuk huruf yang ada di film autobot tersebut. Jenis huruf ini digunakan untuk judul film, kredit pemain dan para kru.

Mari kita saksikan video UP berikut ini :


Modus Anomali (2012)

Film ini diawali dengan seorang pria (diperani Rio Dewanto) yang terbangun di tengah hutan dalam kondisi terkubur. Pria yang mengalami amnesia ini tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana dia berada di tengah hutan. Dalam penelusuran, dia menemukan sebuah rumah di tengah hutan, yang terdapat mayat seorang wanita hamil dan rekaman film adegan pembunuhan atas perempuan tersebut. Panik, pria itu kemudian kabur dan bersembunyi ketakutan di tengah hutan. Dia kemudian menemukan dompetnya, di mana dia menemukan kalau namanya adalah John Evans.

Dia kemudian terus menelusuri hutan, mencari jawaban mengapa dia berada di tengah hutan. Satu demi satu petunjuk dia dapatkan, dan akhirnya John menyadari kalau dirinya berada di hutan bersama dua orang anaknya. John harus menyelamatkan keduanya, sembari menghidar dari kejaran orang-orang yang misterius yang terus-menerus mengejarnya.


Film yang disutradarai Joko Anwar dan diperani Rio Dewanto, Marsha Timothy, Hanna Al-Rashid, Izzi Isman, dan Aridh Tritama ini merupakan film bergenre thriller produks Indonesia. Filmnya cukup menarik karena dibuat dengan menggunakan dialog bahasa Inggris. Tujuan untuk menghadirkan film lokal yang bisa "go international" patut diapresiasi. Sayangnya, meski sudah berusaha menayangkan sebuah tontonan yang berkelas Hollywood, film ini penuh cacat yang sangat mengecewakan (meski sejak awal film ini sudah berhasil menarik penonton untuk menontonnya hingga tuntas).

Sekilas, film ini menawarkan premis tontonan yang sangat menarik. Dua puluh menit pertama juga merupakan tontonan yang mendebarkan dan sangat berhasil menghipnotis penonton, karena menampilkan adegan mendebarkan yang nyaris tanpa dialog. Sayang, menit-menit berikutnya, tontonan berdurasi 90 menit ini justru meninggalkan kekecewaan yang teramat dalam.

Banyak bagian dalam film ini yang sangat mengganggu dan - entah mengapa - terkesan dibuat asal-asalan. Yang paling mengganggu adalah kameranya yang sering bergoyang-goyang, padahal sedang adegan statis. Misalnya saat adegan kedua anak John sedang duduk diam di semak-semak sambil berbisik, tiba-tiba kamera yang merekam adegan tersebut bergoyang-goyang. Sepertinya kameramen tergelincir saat merekam adegan tersebut. Anehnya, bagian ini tidak diperhatikan oleh Sutradara dan tidak melakukan "re-take" pada bagian tersebut.

Hal lain terjadi saat adegan John menengok ke jendela rumah tua. Kamera yang dibawa kameramen seharusnya menjadi "mata" John, justru tidak melakukan fungsinya. Alih-alih menjadi "mata", kamera untuk shooting film ini justru terkesan menjadi pengekor. Setelah John selesai menengok isi rumah, gantian kamera ikut-ikutan "kepo" melongok ke dalam rumah tua tersebut. Adegan yang tadinya menunjukkan John sendirian, jadi seperti John sedang berjalan bersama seseorang yang memegang kamera. Akibatnya, ketegangan yang semula sudah sangat solid dibangun menjadi hilang dan berganti kekonyolan. Akting totalitas Rio Dewanto yang tadinya sudah baik, menjadi sia-sia gara-gara pengambilan gambar seperti ini.

Film yang seharusnya menarik, berubah menjadi menggelikan. Film ini sebenarnya telah mampu berhasil menahan penonton selama 20 menit pertama menyaksikan adegan penuh ketegangan. Sayang, 70 menit berikutnya menjadi sangat membosankan karena kesalahan-kesalahan tersebut. Sayang sekali....

Link Free Download film Modus Anomali ada DISINI

Si Cantik Chloe Moretz Jadi Putri Kaguya

The Tale of Princess Kaguya alias Putri Kaguya rencananya akan dirilis di Amerika Serikat, film ini membuat para penggemar film animasi disana tak sabar ingin menyaksikannya. Pasalnya film asal jepang dengan judul asli Kaguya-hime no Monogatari ini melibatkan aktris remaja ternama yakni Chloe Moretz.

Dilansir dari Ace Showbiz, Chloe Moretz didapuk sebagai tokoh Putri Kaguya dalam film animasi yang diadaptasi dari cerita rakyat Jepang ini. Tak hanya Chloe namun bintang lain turut bergabung dalam film garapan Studio Ghibli, mereka adalah James Marsden, Lucy Liu, Darren Criss, James Caan, Dean Cain, Oliver Platt, Beau Bridges, dan Mary Steenburgen.

The Tale of Princess Kaguya bercerita tentang seorang gadis kecil yang ditemukan di dalam batang bambu, gadis yang hanya seukuran jari tersebut ditemukan oleh seorang pria tua yang sehari-harinya berprofesi sebagai penjual bambu. Kemudian gadis kecil itu diberi nama Kaguya.

Dibesarkan oleh seorang pemotong bambu tua dan istrinya, Kaguya pun tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cantik. Tinggal dari desa ke ibukota besar membuat Kaguya harus menghadapi sebuah takdir rahasia.

Film animasi ini digarap oleh sutradara asal Jepang yaitu Isao Takahata dan merupakan film perdana ia sejak keterlibatannya dalam dunia perfilman pada 14 tahun silam. Rencananya, The Tale of Princess Kaguya tayang di Amerika Serikat pada 17 Oktober 2014 mendatang.


Kamis, 21 Agustus 2014

Bagaimana Nasib 'Mrs. Doubtfire 2' Setelah Tragedi Bunuh Dirinya Robin Williams ?


Aktor kawakan Robin Williams semula didapuk untuk membintangi karakter pengasuh dalam sekuel kedua Mrs. Doubtfire yang rilis pada 2016 mendatang. David Berenbaum, selaku penulis naskah Mrs. Doubtfire juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertemu Williams dalam beberapa bulan terakhir untuk mengerjakan draft naskah Mrs. Doubtfire 2.

Sayangnya, sebelum memulai produksi film yang hits tahun 1993 ini harus kehilangan sang tokoh utama yang diperankan oleh Robin Williams, pria berusia 63 tahun tersebut diketahui tewas dirumahnya akibat bunuh diri. Lantas, bagaimana nasib film Mrs. Doubtfire 2 ?

Dilansir dari laman Aceshowbiz, film yang rencananya akan digarap kembali oleh sutradara Chris Columbus ini besar kemungkinan batal diproduksi. Suasana masih berduka, Chris sangat kehilangan aktor terbaik sekaligus sahabat terdekatnya. "Penampilannya selalu mengejutkan dan berbeda, bakat aktingnya seperti datang dari suatu tempat spiritual dan dunia lain. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pantas dijuluki "jenius", " ungkap Chris.

"Aku berteman selama 21 tahun. Anak-anak kami tumbuh bersama, ia mengilhami ku untuk tinggal di San Francisco dan aku menyayanginya seperti saudara. Dunia jadi tempat yang lebih baik karena ada Robin” jelas Chris.

Sementara itu, selain terlibat dalam Mrs. Doubtfire 2 mendiang Robin Williams juga terlibat dalam beberapa judul film lainnya yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat , film tersebut adalah Night at the Museum: Secret of the Tomb, Boulevard, Merry Friggin, Christmas dan Absolutely Anything.



Intip Photo Perdana 'Ant-Man', Superhero Terbaru dari Marvel Studio

Satu lagi film superhero garapan Marvel Studio yang siap tayang di bioskop seluruh dunia. Yap, ‘Ant-Man’ yang sedang 'hangat' dibicarakan ini baru saja merilis foto perdana yang menampilkan sang tokoh utama.

Dilansir dari laman Aceshowbiz, foto perdana yang diungkap Marvel tersebut memperlihatkan aktor Paul Rudd yang berperan sebagai ‘Scott Lang’ di film ‘Ant-Man’. Pada foto itu, Rudd sedang berdiri di depan sebuah van yang diparkir dekat dengan jembatan Golden Gate di San Fransisco.

Ant-Man’ mengisahkan tentang tokoh Scott Lang yang bertugas sebagai 'Ant-Man' alias pencuri, ia bekerjasama dengan Dr. Hank Pym (Michael Douglas) untuk memuilihkan teknologi canggih yang dicuri. Mereka berdua bersatu untuk menyelamatkan dunia.

Seperti diketahui bahwa kostum superhero Ant-Man memiliki kekuatan untuk merubah seseorang jadi lebih kecil dalam ukuran tertentu, kostum tersebut juga mampu meningkatkan kekuatan orang yang menggunakannya.

Selain Michael Douglas dan Paul Rudd, ‘Ant-Man’ juga menampilkan bintang lainnya seperti Evangeline Lilly, Corey Stoll, Bobby Cannavale, dan Michael Pena. Rencananya, ‘Ant-Man’ akan dirilis pada 17 Juli 2015 mendatang.


7 Assassins (2013) ~A Gathering of Legends~

Kesuksesan The Expendables dalam mengumpulkan kembali bintang-bintang lama dalam sebuah film agaknya sudah menjadi trend sinema baru, bahkan sampai ke Asia. Dari sinema HK dan China, kini hadir 7 Assassins yang pembuatannya sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu dan sempat tertunda perilisannya. Sayangnya, ketika dirilis resmi di mainland China dan HK Juni 2013 lalu, gaungnya hampir tak terdengar, dengan promosi yang minim pula dibanding banyak film lain dari negaranya. Padahal, deretan cast yang dikumpulkan di film ini sangat menarik.


Begitu banyak aktor dari berbagai generasi, dari era Shaw Brothers cinema, serial-serial televisi TVB, ’80-‘90s HK action termasuk yang sudah lama tak tampil di layar lebar hingga generasi sekarang, 7 Assassins yang awalnya diberi tajuk dengan judul Glory Days ini digarap oleh Eric Tsang, yang lebih sering dikenal sebagai komedian, bersama Xiong Xinxin / Hung Yan Yan, aktor dan action director yang sudah mengembangkan karirnya sampai ke Hollywood. Namanya mungkin tak pernah jadi sebesar Yuen Woo Ping maupun Tony Ching Siu-Tung, namun karyanya sudah kita saksikan dari Fist Of Fury, The Blade, Seven Swords hingga Hollywood actions seperti Double Team, The Musketeer dan Half Past Dead, diantaranya.

Keduanya ikut juga berperan bersama seabrek bintang-bintang terkenal itu, dengan peran utama yang dipegang Felix Wong yang sangat dikenal lewat serial TVB The Legend Of The Condor Heroes (Sia Tiauw Eng Hiong) versi 1983 bersama Max Mok dan Ray Lui yang sudah lama tak muncul. Selebihnya ada Ti Lung, Jason Pai Piao, Chen Kuan Tai, Tony Liu Yung dari era Shaw Brothers, Bryan Leung, Kara Hui, Simon Yam, Dick Wei, Waise Lee, Lawrence Ng, Ben Ng, Ken Lo, Yu Rong Guang, Ellen Chan, Michael Wong, hingga Guo Tao dan Gigi Leung. Meski sebagian diantaranya hanya mendapat kesempatan sekedar cameo, namun ini sudah memunculkan feel nostalgic yang kuat sebagai daya jualnya.

Dengan plot yang sedikit banyak diilhami oleh Seven Samurai, 7 Assassins mengisahkan sebuah desa kecil berisi para pelarian yang dikepalai Mao (Eric Tsang) yang terpaksa menampung seorang pimpinan pemberontak, Tie Yun (Felix Wong), yang tengah berada dalam pelarian akibat mencuri emas kerajaan. Sebelumnya, Raja Qin (Ray Lui) yang murka memerintahkan Ma Tianhong (Ni Hongjie), pembunuh bayaran wanita kepercayaannya untuk menghabisi Tie Yun namun Gubernur Zhuo (Ti Lung) yang diam-diam mendukung perjuangan Tie mengirimnya ke desa Mao. Mau tak mau, kini Mao bersama sejumlah pendekar disana harus mempertaruhkan desa mereka untuk melindungi Tie Yun dari amukan Ma dan pasukan kerajaan. Meski tak seimbang, ada Hu (Simon Yam) yang membantu persenjataan mereka ditambah jago-jago tua lainnya yang sama-sama menentang Raja Qin.

Kecuali tampilan deretan bintang-bintang lintas generasi itu, memang tak ada yang terlalu spesial dari 7 Assassins. Masalah terbesar ada pada karakternya yang terasa penuh sesak sehingga tak pernah bisa terlalu fokus ditampilkan dengan pembagian merata. Dan ini masih berdampak ke eliminasi satu-persatu karakter itu yang tak semuanya jadi ter-handle dengan detil sesuai nama mereka. Belum lagi usaha Eric dan Xiong yang malah menambahkan beberapa dramatisasi yang selain kelewat klise juga dipanjang-panjangkan hingga menurunkan pace-nya. Bahkan part lovestory yang disempalkan antara Eric Tsang dan Gigi Leung lebih terasa awkward ketimbang menyentuh.

Begitupun, sinematografi dari Parkie Chan serta scoring dari Paul Wong cukup bekerja dengan baik di beberapa adegannya. Latar belakang beladiri yang minim dari beberapa tokoh utamanya termasuk Felix Wong yang jarang-jarang kita saksikan beraksi bak seorang jago kung fu memang sedikit mengganggu, juga dengan Eric Tsang yang meski sudah terlihat berusaha tetap tak terlalu pantas memerankan leader diantara bintang-bintang lain dengan suara kartunnya, namun action choreography dari Xiong Xinxin tetap bisa tampil memikat di banyak adegan aksinya. At least, masih ada Max Mok yang tampil sangat meyakinkan dibalik mockup-nya, Ni Hongjie yang paling mencuri perhatian sebagai villain bersama Xiong sendiri berikut jago-jago tua lainnya termasuk adegan duel Kara Hui dan Dick Wei dan final showdown yang cukup seru.

So begitulah. 7 Assassins jelas bukan sebuah film wuxia yang gagal di tengah filosofi-filosofi pendekar melawan tirani yang tetap harus disempalkan sebagai elemen wajibnya. Klise-klise lain juga sebenarnya tak salah dalam template plot seperti ini, hanya saja, ia gagal memberi keseimbangan lebih baik antara dramatisasi dan aksi seperti deretan nama-nama legendaris yang ada di dalam susunan cast-nya. Awfully cliché at times, but still works as a gathering of legends. Paling tidak, untuk melepas rasa kangen penontonnya pada nama-nama besar yang belum tentu bisa kita saksikan lagi dalam satu film yang sama nantinya.

Link Free Download film 7 Assassins ada DISINI



Rabu, 20 Agustus 2014

The Exorcism of Emily Rose (2005) ~Film tentang Upacara Pengusiran Setan yang diangkat dari Kisah Nyata~

" Iblis itu ada !! baik kau percaya atau tidak !" tegas seorang pastur di film ini.Ya, tentu saja ia boleh berkata seperti itu. Sama saja halnya, jika kita juga yang berkata sebaliknya, " Iblis itu tidak ada, baik kau percaya atau tidak !"

Semuanya toh ujung ujungnya kembali ke apa yang kita percayai. Tapi dalam pengadilan, sebuah ranah hukum yang berfondasi pada bukti nyata dan aktual, kepercayaan berdiri diluar "barang bukti". JIka kau bisa membuktikannya, maka kau berhak untuk mempercayainya, begitu juga sebaliknya.


The Exorcist of Emily Rose, yang diangkat dari kisah nyata, filmnya sendiri bercerita dengan gaya flashback dari ruang persidangan tempat Father Moore ( Tom Wilkinson ), seorang pastur yang menjadi tersangka atas meninggalnya seorang perempuan muda, Emily Rose ( Jennifer Carpenter ). Father Moore yang melakukan proses ritual pengusiran roh jahat atas permintaan keluarga Emily, dinilai telah lalai sehingga menyebabkan kematian Emily Rose. Dia sebenarnya ditawari sebuah kesepakatan, jika ia mengakui dakwaannya tanpa perlawanan, mungkin hukumannya bisa lebih ringan. Tapi ia menolaknya. "Aku tidak peduli dengan hukuman atau reputasiku, aku tidak takut dengan penjara, yang aku pedulikan adalah menceritakan kisah Emily Rose ini !!".Tentu hal ini membuat kelimpungan sang pengacara, Erin Brunner ( Laura Linney ), yang agnostik dan cenderung atheis. Brunner sebenarnya mengagumi tekad Father Moore, dia sendiri tentu saja tidak percaya dengan adanya roh jahat. Jaksa penuntut nya sendiri, Ethan Thomas (Campbell Scott ), adalah seorang religius dan jemaat gereja dan sebenarnya percaya dengan Father Moore, tapi profesi pengacara kadang harus berhadapan, berargumen melawan apa yang mereka percayai, bagian dari profesi mereka.

Dan siapakah Emily Rose ? Dia adalah mahasiswi, penganut katolik taat dari keluarga menengah. Ia mulai dihampiri eksistensi roh roh jahat tersebut secara tiba tiba, teman teman dan semua orang berubah berwajah menyeramkan, dihantui mimpi buruk, merasa tertindih saat sedang tidur, penurunan berat badan secara drastis, dia pun menelpon rumahnya meminta pertolongan dalam keadaan menangis. Dengan kondisi yang membingungkan, dipanggil lah sang pastur setempat, yang kemudian oleh Father Moore, telah terindikasi bahwa Emily kerasukan roh jahat. Proses penengkingan ( pengusiran ) roh jahat pun dimulai, hingga sampai pada dalam prosesnya, Emily Rose meninggal.

Yang menarik adalah, film ini mengetengahkan kisah tentang drama pengadilan dengan sebuah kasus mistis, yang diurus oleh lembaga hukum resmi, dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin para juri dan hakim tidak memiliki jawabannya. Siapakah yang bersalah ? benarkah Father Moore yang lalai dalam proses penengkingan tersebut atau Emily Rose meninggal karena kerasukan roh jahat ?

Kemudian, kunci hubungan itu ada terdapat antara Father Moore dan pengacaranya. Erin Brunner tidak mempercayai eksistensi roh jahat, tapi dia percaya dengan Father Moore dan dia percaya apa yang dipercayai Father Moore. "Ada kekuatan jahat yang melingkupi sidang ini", Father Moore memperingati Erin, dan ia menyarankan Erin untuk berhati hati karena mungkin dia sudah dijadikan target oleh para roh jahat itu. Sosok Erin Bruner, seorang yang tak percaya setan dan berubah jadi ragu-ragu akan hal tersebut, menjadi cermin betapa ada kecenderungan spiritual terdalam dalam diri setiap orang.

Mengadaptasi kisah nyatanya, film ini bukan sekedar kisah murahan tentang kematian gadis muda yang tergantung dengan obat obatan. Filmnya tetap mempertahankan keutuhan kisah asalnya dan mengajak penonton untuk ikut berpikir dan ikut bertanya. Film ini terbuka untuk ditanggapi dengan banyak sisi, percaya, tak percaya, atau ragu ragu. walaupun kasusnya sendiri telah usai, toh tetap sampai sekarang kita akan tetap membincangkan mengenai kebenaran apakah nyata atau tidak kerasukan setan itu. Inilah sebuah film segar yang patut diapresiasi karena keterbukaan dan konsistensi nya.

Kemudian lagi, scene puncak yang bisa membuat siapa saja merinding, saat proses penengkingan itu dilakukan, Father Moore menggunakan media media yang umum digunakan seperti, air yang telah diberkati, Doa Bapa Kami, dan ayat ayat alkitab. Layaknya film film horror, situasi dibuat semencekam mungkin, dan hal hal yang tiba tiba terjadi dan mengagetkan mulai diperlihatkan, kucing kucing yang menyerang Father Moore, Emily yang memukul ayahnya, kemudian pergi ke sebuah kandang kuda. Semua yang mengikuti proses itu  (Father Moore, ayah emily, pacar Emily, dan seorang dokter), terhentak saat melihat Emily yang kemudian berbicara dalam bahasa Latin, Jerman dan Aram (bahas yang dipergunakan saat jaman Yesus). Father Moore dengan segala doa-doa nya sebagai perlawanan, memaksa roh jahat yang ada dalam tubuh Emily mengakui jati dirinya, dan dalam keadaan kerasukan seperti itu, Emily dengan 6 suara yang berbeda menyebutkan satu persatu roh jahat tersebut, Nero, Yudas, Kain, Baal, Lucifer dan Legion. Menyeramkan, karena keenam nama itu memang mempunyai latar mengerikan tersendiri dalam sejarah manusia, dan di dalam kitab perjanjian ( alkitab ) ;

1. Nero, kaisar Romawi yang membakar Roma dan membunuh banyak pengikut Kristus.
2. Yudas, murid Yesus yang akhirnya berkhianat dan menyerahkan-Nya ke pengadilan tua-tua Yahudi.
3. Baal, setan yang tersurat dalam Alkitab Perjanjian Lama.
4. Kain, tokoh dalam pembunuhan pertama dalam buku Kejadian. Kain membunuh saudaranya sendiri, Babel, karena dengki.
5. Lucifer, raja setan, malaikat yang berkhianat kepada Allah
6. Legion, setan yang diusir oleh Yesus

****
The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film thriller horor yang nampaknya akan sangat memuaskan para penggemar film horor, apalagi bagi mereka yang rindu akan sebuah film horor sejenis dengan The Exorcist yang melegenda itu. Berbekal oleh kisah nyata serta adanya bukti nyata tersebut ditambah lagi inti ceritanya yang mempertanyakan tentang ritual pengusiran setan, Demikianlah film ini menjadi menarik, karena kerasukan setan memang ambigu, namun bukan tidak nyata.
****


Link Free Download film The Exorcism of Emily Rose ada DISINI


Selasa, 19 Agustus 2014

The Nut Job (2014) ~Misi Besar Berbahaya: Pencurian Kacang~


Surly adalah seorang tupai yang paling banyak dibenci oleh hewan-hewan lain di taman kota Oakton karena tingkah lakunya. Awalnya dia hanya dibenci kemudian berubah menjadi lebih parah ketika semua hewan di taman kota dibawah kepemimpinan Raccoon susah payah mengumpulkan makanan untuk persedian musim dingin dan Surly beserta Buddy seekor tikus teman baiknya hanya mengumpulkan makanan untuk diri mereka sendiri. Tidak hanya itu saja, akibat ulah dari Surly pun cadangan makanan yang telah dikumpulkan didalam pohon Oak terbakar habis tanpa tersisa. Akibat dari ulahnya kini dia pun diusir dari taman kota dan harus bertahan hidup di kota.

Kehidupan di kota sangatlah keras, banyaknya manusia belum lagi ancaman dari tikus-tikus kota yang membuat Surly menjadi tidak aman. Tapi dibalik itu semua ternyata Surly dan Buddy tanpa sengaja menemukan sebuah toko kacang yang hanya menjadi kedok dari kelompok mafia yang ingin mencuri sebuah bank. Berkat tidak kesengajaan menemukan tempat ini Surly pun berencana untuk mencuri kacang-kacang itu. Tapi kemudian Andie dan Grayson yang ditugaskan Raccoon untuk mencari cadangan makanan menangkap basah rencana Surly yang membuat Surly mau tidak mau harus menjalankan rencana mencuri kacang bersama Andie dan Grayson.

The Nut Job sebenarnya adalah sebuah film animasi yang mempunyai dua jalan cerita yang beriringan. Cerita utama tentang Surly dan mencuri kacang dan cerita keduanya adalah kelompok mafia yang ingin mencuri bank. Tapi sayangnya dua cerita ini malah membuat cerita di film ini menjadi tidak jelas. Belum lagi karakter-karakter yang menurutku juga tidak jelas malah cenderung konyol malah membuat menonton film ini menjadi sedikit emosi :p. Dan karena ini adalah film kerja sama Korea-Amerika maka di dalam film ini pun ditambahkan lagu yang sempat menjadi hits yaitu Gangnam Style ditambah tariannya yang sebetulnya malah membuat film menjadi tambah aneh.

Link Free Download film The Nut Job ada DISINI



Senin, 18 Agustus 2014

22 Jump Street (2014) ~Ulah Dua Polisi Bodoh Yang Lebih Gila~

Pada tahun 2012 silam, 21 JUMP STREET besutan Phil Lord dan Chris Miller sukses menghentak tangga box office. Mereka berhasil mengadaptasi serial televisi tahun 80-an berjudul sama, dengan cita rasa baru.

Sayangnya, Channing Tatum yang biasa bermain drama, mendadak harus melucu bersama Jonah Hill sebagai pasangan polisi yang ditugaskan menyamar di sebuah SMU untuk mengungkap peredaran obat bius jenis baru; HFS. Jujur saja, selain sajian aksi yang nanggung, performa Tatum juga kalah dari Hill hingga filmnya kurang memuaskan.

Dua tahun kemudian sekuelnya muncul dengan tajuk 22 JUMP STREET. Masih memasang nama Channing Tatum serta Jonah Hill sebagai Greg Jenko dan Morton Schmidt. Kisahnya pun tidak jauh berbeda, di mana Kapten Dickson (Ice Cube) memerintahkan mereka menyamar (lagi) di sebuah universitas untuk membekuk bandar narkoba.


Namun Michael Bacall selaku penulis skenario sepertinya paham betul bila kisahnya hanya sebatas itu, film akan menjadi sangat membosankan. Maka, dimulai dengan dialog sindiran mengenai payahnya kualitas sekuel, film ini berhasil melaju membuat penonton terjaga di kursi dari awal hingga film berakhir.

Menonton 22 JUMP STREET akan kembali mengingatkan kita pada beberapa adegan di film pertama. Namun di saat yang sama, karakternya sukses mengolok-olok apa yang terjadi sebelumnya dan membuat versi baru dengan lebih gila.

Dari segi komedi, sudah tak usah dibicarakan lagi bagaimana polisi bodoh macam Schmidt dan Jenko berhasil membuatmu tertawa terpingkal entah itu guyonan kasar atau tingkah bodoh lainnya. Dari segi drama pun begitu, unsur bromance antara dua tokohnya kini lebih matang serta mengikat. Dalam sebuah adegan diceritakan bila mereka berpisah dan kisah tersebut sukses membuat penonton terbawa emosi hingga turut kehilangan pemantik tawanya.

Sebagai sekuel, Phil Lord dan Chris Miller berhasil meningkatkan dosis tawa dan aksi dibanding pendahulunya. Channing Tatum serta Jonah Hill yang turut duduk di kursi produser, juga Ice Cube yang tak kalah ahli dalam mencuri frame, turut andil membawa level sekuel ini naik beberapa tingkat dengan twist dan kelokan yang mengejutkan.

Seolah belum ingin membuat penonton puas, pesan saya, jangan tinggalkan film sebelum film benar-benar selesai. Karena sepanjang credit title akan digeber sindiran lain tentang sebuah sekuel, hingga bonus after credit yang sangat sayang dilewatkan.

Link Free Download film 22 JUMP STREET ada DISINI

Kamis, 07 Agustus 2014

Deliver Us from Evil (2014) ~Ketika Polisi Menyelidiki Kejadian Supranatural~


Ralph Sarchie (Eric Bana) merupakan polisi malam yang bertugas di kawasan Bronx Selatan, New York. Suatu hari, kasus KDRT yang dialami seorang wanita bernama Lucinda menyeretnya pada rentetan anomali. Rentetan peristiwa aneh seperti aksi seorang ibu yang melempar anaknya ke parit hingga penemuan mayat di ruang bawah tanah kemudian menderanya.

Ditemani pastur nyentrik bernama Mendoza (Edgar Ramirez), Sarchie berusaha mengungkap latar belakang kejadian supranatural yang ia alami. Apakah benar semua terhubung dengan tempat pemujaan setan yang ditemukan di Irak.

Deliver Us from Evil merupakan besutan teranyar Scott Derrickson setelah tahun 2012 lalu sukses mencuri perhatian lewat Sinister. Film yang turut diproduseri oleh Jerry Bruckheimer ini diadaptasi berdasar buku BEWARE THE NIGHT rilisan 2001 karya mantan polisi New York bernama Ralph Sarchie.

Mengingat track record sang sutradara sebelumnya, kemungkinan besar kita bakal berekspektasi cukup tinggi terhadap film ini. Dipastikan akan muncul pertanyaannya seperti, Apa yang akan dilakukan Scott usai horor pengusiran setan THE EXORCISM OF EMILY ROSE atau kepingan rahasia di rumah berhantu yang dihuni Ethan Hawke.

Dan ternyata sutradara berkacamata ini mampu mempresentasikan film terbarunya dengan cukup baik. Scott berhasil memuat penasaran penonton mengenai teka-teki yang mulai digulirkan dalam naskah olahan Paul Harris Boardman. Juga sekuens ketegangan yang pasti sukses membuat terhenyak dari kursi.

Sayang begitu film ditutup, penonton akan mendapati sebuah antiklimaks, sebuah akhir menganga tanpa jawaban. Mungkin Derrickson bermaksud untuk setia pada kisah Sarchie asli seperti yang tertuang dalam memoar. Bahwa tak ada kejadian gaib yang mampu dijelaskan secara nalar. Namun seharusnya ia bisa andai mau melakukan eksplorasi untuk akhir yang lebih 'manis'.

Meski begitu Deliver Us from Evil tidak terlampau mengecewakan dalam meramaikan deretan film musim panas tahun ini. Walau jujur saja, masih di bawah karya horor Scott Derrickson sebelumnya.

Link Free Download film Deliver Us from  Evil ada DISINI

Rabu, 06 Agustus 2014

Dawn of the Planet of the Apes ~Kebijaksanaan Caesar Timbulkan Peperangan~


Apa yang akan terjadi jika spesies hewan kera, makhluk hidup yang dikatakan memiliki kemiripan dengan manusia, tumbuh dan berkembang dengan kepintaran serta mampu bertindak layaknya manusia biasa?
Hal tersebutlah yang menjadi fokus utama dari film franchise “Planet of the Apes”. Franchise ini telah menuai sukses dan mendapat pujian pada film pertamanya “Rise of the Planet of the Apes” di 2011 silam. Kini di tahun 2014, sekuelnya yang berjudul “Dawn Of The Planet Of The Apes” hadir di layar lebar, termasuk di Indonesia sejak 12 Juli 2014 kemarin.


Melanjutkan dari film “Rise of the Planet of the Apes” tahun 2011 lalu, “Dawn Of The Planet Of The Apes” mengambil waktu sepuluh tahun sejak peristiwa virus ALZ-113 yang menggemparkan umat manusia. Para koloni kera yang hidup tenang atas pimpinan Caesar, seekor kera yang memiliki intelejensi tinggi dan mampu bertindak layaknya manusia, harus terusik atas kehadiran manusia yang memasuki wilayah kekuasaan para kera. Koloni kera tersebut pun memperingati para manusia ini untuk tidak mengusik wilayah mereka atau akan melawan balik.

Namun Malcolm, seorang pria yang hidup bersama dengan para manusia yang masih bertahan hidup di wilayah San Fransisco, meminta pertolongan Caesar dan para koloni kera tersebut untuk mengijinkannya memasukki wilayah kekuasaan mereka untuk bisa menghidupkan sumber energi listrik untuk kota manusia, di mana sumber daya itu hanya ada di wilayah kekuasaan para kera. Malcolm juga berjanji bahwa dirinya akan kembali ke kota manusia setelah mereka mendapatkan sumber energi tersebut dan takkan mengusik kota para kera lagi. Akankah permintaan tersebut dikabulkan dan kemudian akhirnya bisa memberikan damai terhadap kedua kubu yang masih berseteru tersebut?

Efek visual film ini perlu diberi jempol atas kualitasnya yang tidak mengecewakan sama sekali. Kualitas gambar dan animasi yang ditampilkan dalam film ini merupakan salah satu dari keunggulan dari film “Dawn Of The Planet Of The Apes”. Penggambaran koloni kera dan makhluk hidupnya terasa sangat nyata, seolah para kera tersebut adalah sungguhan. Bukan sesuatu yang mengherankan jika film “Dawn Of The Planet Of The Apes” ini bisa mendapatkan nominasi untuk visualisasi terbaik di acara penghargaan mendatang. Tidak hanya menghadirkan satu jenis kera saja, tetapi juga beraneka jenis spesies kera bisa kita lihat dalam film tersebut.

Alur kisah yang diberikan juga cukup menarik untuk disimak. “Dawn Of The Planet Of The Apes” memberikan konsep umum akan perseteruan antar dua kubu yang berbeda tetapi sama dalam beberapa aspek, tetapi tetap dikemas menarik dengan karakterisasi kuat dari setiap tokoh yang hadir di dalamnya, terutama Caesar yang sebelumnya telah hadir di film “Rise of the Planet of the Apes”. Walau tidak banyak memberikan flashback dari film sebelumnya dan hampir tidak ada perkembangan tokoh yang berarti, “Dawn Of The Planet Of The Apes” tetap mampu memberikan kisah yang menarik walaupun mungkin Anda belum sempat menonton film pertamanya. Yang cukup disayangkan adalah alur yang diberikan cukup pelan sehingga mungkin bisa memicu rasa bosan.

“Dawn Of The Planet Of The Apes” merupakan salah satu film fiksi ilmiah dengan konsep cerita yang menarik dan hampir mendekati dengan kenyataan di dunia yang bisa saja terjadi di masa depan, ketika teknologi manusia sudah semakin canggih. Alur kisahnya mungkin tergolong lamban di awal film, tetapi penggambaran karakter baik manusia maupun kera dikemas baik dan mampu memberikan sisi emosionalnya. Jika Anda hendak mencari film fiksi ilmiah dengan efek visualisasi berkualitas tinggi, “Dawn Of The Planet of the Apes” bisa menjadi jawabannya.

Link Free Download film Dawn of the Planet of  the Apes ada DISINI

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More