Tampilkan postingan dengan label Comedy Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy Movie. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 September 2017

Download Film ~ Hindi Medium (2017)

Title : Hindi Medium (2017)

Directed by: Saket Chaudhary

Stars: Irrfan Khan, Saba Qamar, Neha Dhupia

Language: Hindi | Subtitle : English (embed)

Country: India | Imdb Info | Dvdrip

Also Known As : Hindi Medium

Description: "A couple from Chandni Chowk aspire to give their daughter the best education and thus be a part of and accepted by the elite of Delhi."

Trailer :

850MB | 02h 12mins | 1280x544 | mkv
LINK FREE DOWNLOAD : DISINI

Sabtu, 26 Agustus 2017

Download Film ~ Saviour of the Soul (1991)


Title : Saviour of the Soul

Directed by: David Lai, Corey Yuen

Stars: Andy Lau, Anita Mui, Aaron Kwok

Language: Cantonese | Subtitles: English [srt]

Country: Hong Kong | Imdb Info | Ar: 16:9 | Hdtvrip

Also known as: Gau yat: San diu hap lui, Terrible Angel

Description: "A graying black-clad swordsman slays palace guards, as he flies through the air to an uncertain purpose. Centuries (or is it days?) later, gun-toting, Armani-clad super policemen — Hong Kong’s Saviours — are devastated by a cloaked assassin. Kinetic medieval fantasy; overstructured, outgunned urban nightmare. And that’s only the first ten minutes! A highly entertaining, eye-popping genre bender in every way."

Trailer

Screenshot

2:11GB | :01:26:35 | 1280×720 | mkv

LINK FREE DOWNLOAD:
SPLIT 1 : DISINI
SPLIT 2 : DISINI

Kamis, 24 Agustus 2017

The Hitman's Bodyguard (2017) ~ Review Film

The Hitman’s Bodyguard adalah sketsa dari sebuah film aksi-komedi yang lebih bagus. Saya bisa membayangkan film yang lebih berkesan jika penggarapannya lebih baik. Ada momen komedik yang membuat kita ngakak dengan tulus, ada momen aksi lebay yang sensasional, dan ada penggunaan lagu “Hello”-nya Lionel Richie yang mungkin paling tak cheesy sepanjang masa, namun filmnya kurang menggigit karena hanya sedikit kepedulian untuk membuat karakternya lebih menarik daripada stereotype yang sudah kita kenal.

Terkadang kita bisa membaca film hanya dari casting-nya saja. The Hitman’s Bodyguard memasangkan Ryan Reynolds dengan Samuel L. Jackson, dua aktor yang identik dengan peran cerewet bermulut kasar. Ini akan jadi buddy movie yang vulgar. Mereka akan membuat membuat gerah satu sama lain dalam lelucon yang blak-blakan. Tentu saja, kita bakal mendengar banyak kutipan “B**ch please” atau “motherf***er” yang merdu saat keluar dari mulut Samuel L. Jackson. Anda pikir ini film apa?


Reynolds bermain sebagai Michael Bryce, mantan bodyguard kelas AAA yang kehilangan kredibilitas saat salah satu kliennya yang sangat berpengaruh tewas di depan matanya. Bryce masih mencari nafkah di bidang profesi ini dan bisa dibilang masih cukup kompeten, namun kelas sosialnya sudah begitu anjlok sampai ia harus tinggal dan buang air di mobil pribadi yang katanya baunya seperti keringat lansia.

Jackson menjadi Darius Kincaid, pembunuh bayaran legendaris yang nyaris tak bisa dibunuh, yang katanya sudah membantai sampai 150 orang. Kincaid sekarang sudah tertangkap, dan akan dibawa oleh Interpol dari Manchester menuju Mahkamah Internasional di Den Haag. Namun bukan untuk diadili, melainkan menjadi saksi kunci bagi kejahatan perang yang dilakukan oleh Vladislav Dukhovich (Gary Oldman), diktator sebuah negara totaliter di Eropa Timur. Sebagai imbalan atas testimoninya, Interpol akan membebaskan istri Kincaid, Sonia (Salma Hayek).

Pemindahan ini awalnya dikoordinasi oleh agen Amelia Roussel (Elodie Yung), tapi mengingat reputasi Kincaid dimana semua orang ingin membunuhnya, khususnya antek Dukhovich, maka timbul kekacauan di tengah jalan. Hanya Bryce yang bisa mengantar Kincaid, karena ada pengkhianat di tubuh Interpol. Lagipula Bryce adalah mantan pacar Amelia, jadi Amelia seharusnya bisa percaya dia kan? Anda tahulah, tidak semua mantan itu buruk.

Di film seperti ini, kita perlu Bryce dan Kincaid untuk saling membenci. Bahkan, mereka sebenarnya adalah musuh bebuyutan. Kincaid katanya sudah 28 kali hampir membunuh Bryce. Dengan begini, kita akan mendapatkan banyak adu mulut, saling mengerjai atau melempar sumpah serapah, sembari mereka berkeliling Eropa menghancurkan mobil, merusak fasilitas umum, menghamburkan peluru, membunuhi penjahat, atau menghindari ledakan. Dan tentu saja, dalam perjalanan, mereka akan belajar untuk saling menghormati.

Film ini memakai formula buddy movie yang populer di era 80-an, yang sudah teruji sejak lama dan terlalu sering dipakai. Yang akan membedakan adalah seberapa jauh chemistry karakternya dan seberapa seru perjalanan mereka. Dalam kasus ini, The Hitman’s Bodyguard tak pergi kemana-mana. Hubungan mereka setengah matang; kita tak sedemikian peduli dengan karakter mereka kecuali karena diperankan oleh bintang top sekelas Reynolds dan Jackson. Obrolan curhat mereka tentang pasangan masing-masing sangat membosankan. Pembuat film tak bisa menawarkan sesuatu yang lebih banyak daripada apa yang pertama kali terlintas di benak kita saat membaca dua nama aktor tadi di bagian pembuka.

Reynolds mendapat peran sebagai “yang waras” dalam formula; seorang profesional yang mengutamakan misi, punya prinsip untuk tak membunuh kecuali terpaksa, dan punya akal sehat sehingga frustrasi saat melihat kekacauan terjadi. Bertolak belakang dengannya, Jackson adalah “yang gila”, hobi membantai orang dan candu dengan kekacauan. Yang membuat leluconnya mengena bukan karena bobot humor atau pengaturan situasi komedi yang pas, melainkan karena delivery mereka yang jago. Keduanya adalah pakar dalam comedic-timing, dan film ini berhutang banyak pada mereka.

Film ini digarap oleh Patrick Hughes, dan surprisingly, sekuens aksinya lebih menghibur daripada yang dia suguhkan di The Expendables 3. Set-pieces-nya komikal, seringkali menentang hukum Fisika, dan mungkin karena bujet, tampak murahan di beberapa adegan. Dua sekuens yang paling sensasional adalah adu jotos yang dilakukan Reynolds di toko perkakas yang tampaknya diambil dalam satu take, serta adegan kejar-kejaran di kanal Amsterdam yang melibatkan boat, sepeda motor, dan mobil yang terjadi secara simultan. Konyol seperti kedengarannya, tapi juga seru setengah mati. Namun Hughes tak bisa menekankan sense of geography-nya. Kebanyakan adegan aksinya disorot dengan quick-cut yang sulit dicerna, mungkin efektif untuk pertarungan jarak dekat tapi tak demikian dengan sekuens aksi yang berskala lebih besar.

Filmnya cukup menghibur di beberapa waktu, tapi saya merasa ia kurang greget secara keseluruhan. Penggarapannya nanggung. Film aksi-komedi yang bagus punya dinamika dan energi yang mantap sehingga penonton tak merasa jemu saat para karakternya saling menembak terlalu banyak atau melawak terlalu panjang. Ini akan membosankan saat tak dilakukan dengan benar. Ada bagian dalam The Hitman’s Bodyguard dimana karakternya tertawa keras seperti dibuat-buat dengan durasi yang sedikit dipanjangkan, seolah ingin memastikan apakah kita sudah tertawa atau belum. B**ch please. Filmnya lucu saat tak berjuang keras melucu. Saya lebih memilih adegan flashback saat Kincaid pertama kali jatuh hati pada Sonia yang sadis-tapi-romantis. Tak ada karakter yang tertawa di layar, tapi penonton di belakang saya sampai tersedak.

Rabu, 25 November 2015

American Ultra (205)

Tidak perlu menaikkan ekspektasi yang tinggi pada film arahan Nima Nourizadeh ini. Anda pastinya juga tahu hal itu hanya dari penampakan luarnya saja. Tapi paling tidak ada harapan filmnya bisa memberikan hiburan yang ringan dan menyenangkan lengkap dengan aksi full throttle seperti yang sudah terlihat dalam posternya. Dari situ pula dapat ditangkap bila “American Ultra” pastilah banyak mengandung komedi di dalamnya sebagai penyeimbang aksi tembak-tembakan dan ledakan yang akan muncul di dalamnya. Namun adakalanya pula bila film ringan semacam itu justru gagal menghibur dan ujungnya adalah meninggalkan rasa bosan tingkat akut. Pertanyaannya adalah apakah “American Ultra” ini masuk dalam kategori film yang saya sebutkan di atas ?. Sebelum membaca ulasan ini lebih jauh, saya percaya bahwa Anda sudah dapat mengira-ngira jawaban apa yang akan saya sematkan di akhir.

"American Ultra” adalah kolaborasi kedua dari Jesse Eisenberg dengan Kristen Stewart. Keduanya memerankan pasangan kekasih yang saling mencintai dan melengkapi satu sama lain. Jesse Eisenberg berperan sebagai Mike, seorang pecandu sekaligus kasir minimarket yang menikmati hari-harinya dengan begitu monoton selain ketika sedang berduaan dengan kekasihnya, Phoebe (Stewart). Suatu ketika, datanglah seorang agen CIA bernama Victoria Lasseter (Connie Britton), yang memperingatkan Mike akan bahaya yang datang dari saingannya, Adrian yates (Topher Grace) untuk memusnahkannya. Sebab ditengarai bahwa Mike merupakan hasil eksperimen dari projek bernama “Ultra”.

Pengenalan awal dari dua karakter utama di sini sebenarnya saya rasa cukup menarik. Dua pasangan ‘tidak biasa’ yang bisa dikatakan ‘bermasalah’, terutama dari kebiasaan mereka berdua yang suka menghisap ganja, cukup mempertahankan atensi saya dalam menontonnya. Beberapa lelucon terselip di antaranya dan cukup memancing tawa meski dalam dosis yang tidaklah banyak. Chemistry antara Mike dan Phoebe sebagai pasangan kekasih di bagian awalnya boleh dikatakan terbangun dengan baik. Atau mungkin bisa dibilang terlalu ‘sempurna’ bila ada pasangan yang saling mencintai tanpa cela selain hanya di negeri dongeng. Namun harus saya katakan bahwa chemistry itu mulai luntur di pertengahan bahkan hingga di bagian akhir. Tentunya dengan lunturnya chemistry itu, rasa kepedulian saya pada karakter semakin berkurang dan itu juga dipengaruhi oleh tidak konsistennya Nima Nourizadeh dalam membentuk Mike dan Phoebe yang mulai terasa berat sebelah.

Tidak bertahan lama bahwa bagian awal perkenalan yang cukup menarik itu berakhir menjadi menjemukan dan cenderung membuat saya ingin men-skip tiap adegannya. Build-up yang intensitas awalnya terjaga cukup baik itu mulai bertele-tele dan terlalu panjang dalam menuturkan. Bahkan butuh durasi hingga lebih dari 50 menit untuk membicarakan omong-kosong di saat filmnya sendiri berjalan kurang dari 2 jam. Rasa penasaran dan bertanya-tanya tentu saja bermunculan dalam pikiran saya. Namun rasa penasaran itu bukan berasal dari keingintahuan besar tentang apa yang coba diceritakan oleh naskah dari Max Landis, melainkan pertanyaan kapan berakhirnya narasi yang berputar-putar di paruh awal tersebut. Dengan kelemahan besar yang bahkan telah muncul di bagian awal itu, tidak ada lagi yang diharapkan selain sekuen aksinya yang diharapkan mampu menghibur. Pada akhirnya, menghiburkah ?.

Saya cukup mengapresiasi bila Nima Nourizadeh tidak hanya menghadirkan aksi seru tembak-tembakan dan ledakan saja di sini, melainkan juga pertarungan tangan kosong berbalutkan gore yang tidak lain merupakan favorit saya. Mike adalah karakter yang mendapat jatah di sektor itu. Sebagai manusia hasil eksperimen yang memiliki kekuatan di atas manusia rata-rata, Mike tidak sekedar kuat secara fisik, melainkan juga intelejensi. Dalam keadaan terjepit, ia diceritakan mampu menggunakan benda-benda tidak lazim sebagai senjata, sebut saja panci. Hal itu merupakan bagian dari intelejensi yang dimiliki oleh Mike. Namun amat sangat disayangkan, porsi untuk adegan aksi yang ada begitu minim dan seolah-olah Nourizadeh tergesa-gesa demi mengejar durasi film. Antagonis sebagai lawan tanding juga tampak ‘miskin’ dalam kuantitas, bila melihat potensi yang dimiliki oleh karakter Mike ini sebagai sosok tough. Terasa sangat hambar, kurang menggigit, dan lebih didominasi ‘petak umpet’ ketimbang aksi man to man. Maka jelaslah bila di bagian aksi tersebut sangatlah jauh dari menghibur.

Bagian yang paling menyebalkan dari “American Ultra” adalah tidak konsistennya antara apa yang kita lihat dalam film dengan teaser poster yang telah beredar beberapa bulan lalu. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, karakter Mike dan Phoebe terlihat berat sebelah bila melihat dalam teaser poster, keduanya tampak berimbang dengan aksi yang diemban. Kenyataannya berkata lain, Mike memang tampil perkasa, namun di sisi lain Phoebe justru tampak sebagai karakter yang menderita sebagai sandera dan tidak mampu unjuk gigi. Hal itupun ditunjukkan hampir di seluruh bagian film. Lemah di sisi aksi berikut pula karakter, makin menambah ‘kekacauan’ ketika film ini dieksekusi dengan begitu buruknya. Maka terbukti sudah bila ‘American Ultra” gagal menjadi guilty pleasure yang menghibur dengan segala lubang menganga di sepanjang filmnya. Harapan besar aksi bombastis dan gila-gilaan lengkap dengan komedinya walaupun dikemas brainless, telah hancur sudah.

(Source : http://iza-anwar.blogspot.co.id/2015/10/american-ultra-2015.html)

Belum sempet nonton American Ultra (2015) ?? Download film nya DISINI , kualitas BluRay 720p dengan subtitle Indonesia yang sdh hardsub...



Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More