Jumat, 18 Agustus 2017

Karakter-karakter Lucu di Film Cars 3

Sudah tidak sabar menyaksikan aksi balap Lightning McQuenn dan kawan-kawan? Tahun ini Disney dan Pixar Animation Studios membawa Cars kembali ke layar lebar. Film animasi garapan Brian Fee (Wall E & Inside Out) ini menjadi film ketiga dari Cars series. Dalam seri ketiganya, selain kembali menampilkan karakter-karakter lamanya, Cars 3 juga akan menghadirkan karakter-karakter baru yang akan semakin menambah keseruan filmnya.

Ini dia karakter-karakter utama yang seru dan lucu di film Cars 3. Siapa saja?

Owen Wilson sebagai Lightning McQuenn
Sejak kemunculannya di film pertama Cars (2006), karakter utama yang menampilkan mobil Chevrolet Corvette merah bernama Lightning McQueen ini sudah mencuri perhatian. Namun sang sutradara mengungkap bahwa di seri ketiganya ini aksi balap McQueen sudah tidak secepat dahulu. Lightning McQueen masih diisi suara oleh Owen Wilson.

Armie Hammer sebagai Jackson Storm
Nah ini dia karakter baru dalam Cars 3 yaitu Jackson Storm yang diisi suara oleh Armie Hammer. Mobil balap generasi terkini warna hitam ini akan menjadi musuh besar untuk mengalahkan McQueen di dunia balap, karena Storm memiliki tekhnologi yang jauh melebihi McQueen.

Cristela Alonzo sebagai Cruz Ramirez
Karakter baru lainnya adalah mobil balap berwarna kuning yang bernama Cruz Ramirez. Cruz adalah penyelamat McQueen yang bersedia menjadi pelatih untuk menghadapi kedigdayaan Storm. Karakter ini digambarkan sangat ceria, pemberani dan ramah. Cruz diam-diam adalah penggemar berat McQuenn.

Larry the Cable Guy sebagai Mater
Mobil derek tua yang sudah berkarat ini merupakan sahabat McQueen yang selalu setia menemani. Di seri ketiganya, Mater akan kembali hadir dengan aksinya yang kocak dan menemani perjalanan McQueen agar tetap semangat di arena balap.

Bonnie Hunt sebagai Sally Carrera
Diisi suara oleh Bonnie Hunt, karakter Sally adalah seorang pengacara Radiator Springs yang juga merupakan pacar dari Lightning McQueen. Sally sering menyebut McQueen dengan sebutan Stiker lantaran lampu depannya palsu.

Selain karakter-karakter di atas, masih banyak sekali karakter-karakter lainnya yang tentunya tidak kalah seru. Jangan sampai terlewatkan melihat aksi balap McQuenn dan kawan-kawan di bioskop ya. Cars 3 sudah tayang mulai 16 Agustus 2017.

Car 3 (2017) ~ Review Film

Sekarang kita sudah berada di film ketiga dari franchise Cars, jadi saya pikir kita semua sudah belajar untuk menerima kenyataan, terlepas dari pertanyaan kenapa di semesta ini mobil-mobil bertingkah layaknya manusia, kenapa tak ada manusia yang tampak apalagi yang mengendarai mobil, atau bagaimana bos Pixar, John Lasseter bisa punya ide untuk membuat film tentang mobil yang bisa bicara. Oh, atau kenapa traktor menjadi hewan ternak bagi mobil, padahal traktor juga termasuk mobil. Iya, itu konyol. Namun Cars 3 adalah film Cars yang next-level. Kali ini jagoan kita dihadapkan pada problematika yang relevan dimana ia harus merengkuh masa lalu untuk bisa mengalahkan tantangan masa depan di dunia balap mobil.

Saya senang saat tahu bahwa Pixar kembali menempatkan Lightning McQueen (Owen Wilson) di jalur fitrahnya: trek balap. Meski di beberapa titik cukup menikmati kekonyolan McQueen dkk beraksi di dunia mata-mata dalam Cars 2, saya tak bisa menghilangkan perasaan bahwa itu bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan McQueen. Lebih senang lagi ketika mendapati bahwa Cars 3 akhirnya merapat ke jalur Pixar, sort of; menyajikan kisah yang meyampaikan pesan yang bermakna yang akan membuat kita kepikiran sembari menonton. Ada sesuatu mengenai penerimaan diri dan adaptasi terhadap perubahan yang mengalir dengan subtil, namun filmnya tetap simpel dan ceria.

Lightning McQueen sekarang sudah menjadi legenda balap, dimana ia melesat di arena melewati pesaingnya sembari meledek mereka. Siap untuk menjadi yang pertama sampai di garis finis, tapi tunggu dulu — ia hanya berada di podium kedua. McQueen dikalahkan di saat-saat terakhir oleh mobil mewah, canggih, generasi terbaru bernama Jackson Storm (Armie Hammer). Giliran McQueen yang diledek karena ia adalah produk lama yang sudah ketinggalan jaman. Pembalap di generasi Storm bisa berlari di kecepatan 320 km/jam tanpa kesulitan, sementara McQueen hanyalah mantan jawara bermesin tua.

Apakah ini sudah waktunya untuk pensiun? Tidak juga, karena McQueen siap menggeber mesinnya lebih keras. Naasnya, dalam sebuah sekuens yang spektakuler, ia mengalami kecelakaan parah. Ia pulang kandang ke Radiator Spring. Apakah ini sudah waktunya untuk pensiun? Masih belum, karena McQueen mendapat satu kesempatan terakhir dari sponsor barunya, konglomerat bernama Sterling (Nathan Fillion). Sterling adalah penggemar berat McQueen, tapi ia juga seorang pebisnis. Jadi ia membuat kesepakatan: jika kalah, McQueen harus pensiun dan siap menjadi duta endorsement dari produk mobil milik Sterling.

Cars 3 adalah soal jaman yang sudah semakin berkembang dan bagaimana attitude kita terhadapnya. Tetap statis dan tak berubah tidaklah cukup, karena kita akan ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri. McQueen tahu harus beradaptasi, tapi ia tak begitu siap untuk mencoba alat simulator yang disediakan di fasilitas canggih milik Sterling. McQueen memutuskan untuk melakukannya dengan “cara lama”, yaitu langsung turun ke jalanan yang penuh lumpur dan kerikil. Literally.

Film ini adalah debut bagi animator dan storyboard artist veteran di Pixar, Brian Fee. Fee menyajikan animasi yang detail dan, saya yakin, tetap sangat menarik bagi anak-anak. Sekuens latihan balap di pantai yang sangat cerah, misalnya. Kontras dengan itu, McQueen bergelap-gelapan (karena berlumur lumpur dan waktunya adalah malam hari) saat ikut dalam adu mobil semacam kontes Crush Gear bagi Cars. Adegan flashback juga membawa kita melihat footage jadul saat mentor McQueen, Doc Hudson balapan di sirkuit tanah.

Di fasilitas pelatihan, McQueen mendapat pelatih Cruz (Cristela Alonzo) yang penuh semangat, namun kerap memperlakukannya sebagai mobil jompo, alih-alih legenda hidup. McQueen membawa kabur Cruz untuk ikut dalam pelatihan “cara lama”-nya, tapi Cruz tak sedemikian kompeten dalam hal balapan berkotor-kotoran. Perlahan-lahan, saya mulai heran akan apa yang ingin dituju film ini. Di satu titik, saya merasa McQueen-lah yang mengajari Cruz. Dan akhirnya menjelang balapan akhir, semua menjadi jelas: adaptasi bagi McQueen tak seperti yang saya duga. Klimaksnya yang tak bisa dibilang super-emosional tapi sampai dengan memuaskan ini, relatif mengejutkan untuk ukuran film yang ditujukan khusus untuk anak-anak.

Tanpa bermaksud untuk mengungkap poin penting, film ini adalah mengenai guru dan murid. McQueen butuh mentor tapi Doc sudah tiada. Karakter yang diisikan suaranya oleh mendiang Paul Newman ini hanya muncul dalam flashback, tapi krusial dalam membawa narasi film. McQueen pergi ke kampung halaman Doc, kemudian bertemu dengan mentor Doc, Smokey (Chris Cooper), dan di satu momen yang menarik, juga bersua dengan para mantan legenda balap yang sedang nongkrong. Sementara itu, hubungan McQueen-Cruz semakin mirip dengan hubungan Doc-McQueen. Ternyata Cruz sendiri juga bermimpi menjadi pembalap, tapi ia tak percaya diri di industri ini. McQueen pribadi tak bisa lagi hanya bergantung pada kejayaan masa lalu, ia harus melesat ke depan.

Cars 3 adalah film yang ringan tapi berisi, dan tak terbatas untuk anak-anak (atau orang dewasa dengan semangat anak-anak) saja. Dengan durasi yang singkat dan plot yang sederhana, pacing-nya mantap. Pelajarannya mungkin akan lebih beresonansi bagi orang dewasa, tapi saya takkan komplain karena saya memang tak hanya sekedar ingin melihat mobil saling ber-bruum-bruum ria sampai durasi berakhir. Memang tak ada bagian yang akan membuat saraf emosi anda trauma sebagaimana beberapa film luar biasa Pixar, tapi saya tak pernah sefokus dan se-enjoy ini menonton film-film Cars.

Catatan: Cars 3 dibuka dengan film pendek berjudul Lou, tentang seorang tukang bully sekolah yang akhirnya mendapat pelajaran. Pesan moralnya sangat bagus, tapi tak secerdas Sanjay’s Super Team dalam bercerita.

Memoirs of a Geisha (2005) ~ Review Film

Kisah Sayuri (Zhang Ziyi) bermula di desa nelayan miskin pada tahun 1929, ketika sebagai anak perempuan berusia sembilan tahun, dengan mata biru kelabu yang luar biasa, dia dijual ke sebuah rumah geisha terkenal. Tidak tahan dengan kehidupan di rumah itu, dia mencoba melarikan diri. Tindakan itu membuat dia terancam menjadi pelayan seumur hidup. Saat meratapi nasibnya di tepi Sungai Shirakawa, dia bertemu Pak Ketua (Ken Watanabe). Di luar kebiasaan, pria terhormat ini mendekati dan menghiburnya. Saat itu Sayuri bertekad akan menjadi geisha, hanya demi mendapat kesempatan bisa bertemu lagi dengan pria itu, suatu hari nanti.

Melalui Sayuri, kita menyaksikan suka duka wanita yang mempelajari seni geisha yang berat; menari dan menyanyi; memakai kimono, makeup tebal, dan dandanan rambut yang rumit; menuang sake dengan cara sesensual mungkin; bersaing dengan sesama geisha memperebutkan pria-pria dan kekayaan mereka. Namun ketika Perang Dunia II meletus, dan rumah-rumah geisha terpaksa tertutup, Sayuri, dengan sedikit uang, dan lebih sedikit lagi makanan, harus mulai lagi dari awal untuk menemukan kebebasan yang langka dengan cara-caranya sendiri.

Ide cerita Memoirs of a Geisha sebenarnya sederhana, bahkan cenderung klise. Tentang perempuan muda yang mengalami berbagai rintangan dan cobaan sebelum menemukan kebahagiaan. Sayuri si tokoh utama digambarkan memiliki kecantikan tak biasa dan berbagai kelebihan, dilengkapi kelemahan khas Cinderella. Tokoh-tokoh antagonis digambarkan seantagonis mungkin. Ibu dan Nenek dengan mulut tajam dan fisik buruk, sementara Hatsumomo (Gong Li) yang cantik memiliki sifat jahat berlebihan ala sinetron Indonesia.

Tapi bukan berarti tak layak ditonton. Ini cerita historical romance yang indah. Saya sendiri sudah menontonnya berulangkali sejak film ini rilis di tahun 2005, dan lagi, lagi, dan lagi.

Mengikuti perjalanan hidup Sayuri sebagai gadis kecil dari desa nelayan sampai menjadi perempuan bebas yang berhasil meraih cintanya sama sekali tak membosankan, karena ide cerita yang sederhana tersebut dipadukan dengan detil-detil ‘cantik’ yang memanjakan imajinasi. Latar budaya Jepang zaman dulu, atau lebih spesifik lagi budaya geisha yang gemerlapan sekaligus dramatis.

Dalam urusan romance, mengingat Sayuri jatuh cinta pada Ketua sejak masih anak-anak seharusnya ada semacam chemistry antara keduanya. Tapi saya justru merasakan chemistry pada Sayuri dan Nobu. Saya merasa sifat keduanya yang bertolak belakang namun saling menyayangi, sangat serasi.

Filmya sendiri menyuguhkan sinematografi yang indah dengan para pemeran yang mumpuni. Perlu diketahui, aktor-aktris dalam film ini harus mengucapkan dialog mereka dalam bahasa Inggris berdialek Jepang. Padahal Gong Li dan Zhang Ziyi saat itu bahkan tak fasih berbahasa Inggris, apalagi Jepang. Saya tak paham apakah dialek Kyoto mereka bagus, tapi bagaimanapun saya salut pada upaya mereka. Apalagi mereka memang mempelajari berbagai seni geisha selama beberapa bulan sebelum syuting.

Rabu, 16 Agustus 2017

Jab Harry Met Sejal (2017) ~ Review Film

Banyak yang bilang ada sihir di setiap film-film Shah Rukh Khan. Kali ini The King of Romance, SRK, kembali beraksi di film terbarunya berjudul Jab Harry Met Sejal. Kamu pun akan kembali terpesona seperti penampilan SRK di film-film sebelumnya, Jab We Met (2007) dan Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995).

Film ini berkisah tentang pertemuan Sejal (Anushka Sharma) dan Harry (Shah Rukh Khan) di Eropa. Sejal, yang sedang berlibur bersama keluarganya tiba-tiba kehilangan cincin tunangannya. Ia terpaksa tinggal untuk menemukan cincin tersebut dengan bantuan seorang pemandu wisata bernama Harry, mereka berdua pun bersama-sama mencari cincin itu. Dalam perjalanannya, Harry dan Sejal menemukan sesuatu yang tidak mereka sadari telah hilang dari kehidupan mereka.

Seperti sutradara pada umumnya, Imtiaz Ali juga memiliki gaya sendiri di setiap film-film garapannya. Syuting film ini mengambil lokasi di kota-kota indah di Eropa, tempat yang menjadi impian banyak fotografer. Tapi meski melakukan syuting di luar negeri ternyata tidak membuat Imtiaz Ali kehilangan sentuhan Bollywood. Menemukan lokasi yang tepat memang mudah, tapi menggambarkannya dengan indah lewat layar kamera adalah proses yang cukup sulit dalam pembuatan sebuah film. Penggambaran visual di film ini tentunya akan terlihat seindah kisah cinta Harry dan Sejal.

Anushka Sharma telah berkali-kali membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekedar aktris Bollywood. Anushka mampu memainkan karakter sebagai seorang gadis Gujju dan mempertahankan intensitas khas Gujju di sepanjang film (bahkan setelah klimaksnya). Lewat aksen dan bahasa tubuhnya, setiap hal akan mengingatkan kamu pada gadis Gujarat yang berasal dari keluarga pedagang berlian. Anushka pun menyempurnakan karakter ini dan membuat peran Sejal semakin gemas dan menyenangkan.

Jab Harry Met Sejal kembali membuktikan bahwa SRK adalah rajanya film-film romantis. Film ini menggambarkan penglihatannya yang menakjubkan, dengan tato besar di sebelah kanan dadanya, tubuh yang dipahat, dan juga cara berpakaiannya yang khas. Setiap shot close-up nya dijamin akan membuat kamu terpana. SRK memainkan peran sebagai anak laki-laki Punjabi yang bisa berbicara bahasa Hindi, Inggris, Prancis, dan sedikit bahasa Gujarati. Sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta pada sosok SRK di film ini.

Film ini tidak pernah kehilangan pesonanya. Ada pesona klasik Shah Rukh Khan dan Anushka Sharma yang mampu menggambarkan karakternya dengan apik. Dan tentunya Imtiaz Ali dengan naskahnya yang otentik.

Jab Harry Met Sejal tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Agustus 2017. Buat kamu fans berat Shah Rukh Khan, Anushka Sharma, dan film-film Imtiaz Ali kamu pasti akan menyesal jika melewatkan filmnya begitu saja.

Rafathar (2017) ~ Review Film

Mungkin masih belum banyak film Indonesia yang menampilkan anak kecil sebagai pemain utamanya, ditambah lagi dengan sentuhan efek canggih CGI. Kali ini hadir film Indonesia yang mengusung tema serupa berjudul Rafathar. Film yang diproduseri Raffi Ahmad dan Anggy Umbara ini memiliki premis yang hampir mirip dengan film-film Hollywood, salah satunya Baby’s Day Out (2014) yang mengisahkan petualangan menculik bayi.

Rafathar, seorang bayi lucu nan menggemaskan, anak adopsi dari pasangan selebriti konglomerat, Bondan (Arie Untung) dan Mila (Nur Fazura) yang sudah lama mendambakan kehadiran anak. Sebagai seorang public figure ternama, keberadaan Rafathar membuat media mengeksposnya habis-habisan. Kabar ini pun sampai ke telinga Bos Viktor (Agus Kuncoro) yang punya rencana jahat. Ia lalu menyuruh dua anak buahnya, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) untuk menculik Rafathar.

Sempat ragu dan tidak tega, namun akhirnya Jonny dan Popo tetap menuruti permintaan sang bos untuk menculik Rafathar. Ternyata perjalanan Jonny dan Popo tidak semudah yang dbayangkan. Rafathar ternyata bukanlah bayi biasa, ia adalah bayi mutan yang memiliki kekuatan super telekinesis yang mampu mengendalikan barang-barang berbahan logam. Adegan penculikan pun diwarnai dengan aksi kejar-kejaran yang kerap memancing gelak tawa. Secara perlahan perjalanan ini mulai membuka sebuah konspirasi besar dan asal usul kekuatan super yang dimiliki oleh Rafathar.

Akankah Jonny dan Popo berhasil menculik Rafathar? Siapakah sebenarnya Rafathar, dari mana ia mendapatkan kekuatan supernya?

Mengusung tema superhero dan menampilkan anak kecil sebagai tokoh utamanya tentu bukanlah hal yang mudah. Karena itulah sang ayah sekaligus produser dalam film ini juga menggandeng Anggy Umbara sebagai produser dan Bounty Umbara yang mengarahkan langsung filmnya. Raffi pun mengungkap bahwa film ini terinspirasi dari beberapa film-film populer di tahun 90’an seperti Baby’s Day Out (1994) dan Home Alone (1990).

Selama 91 menit, boleh diakui Rafathar memang punya sesuatu yang berbeda jika dibanding film Indonesia pada umumnya. Duo perampok handal, Jonny dan Popo selalu berhasil mengundang tawa di setiap aksinya. Kehadiran Rafathar juga berhasil membuat kegemasan sendiri kala melihat tingkahnya yang lucu. Bayi superhero ini mengingatkan kita dengan karakter Kevin McCallister di film Home Alone dengan segala kepintaran yang tidak dimiliki bayi lain.

Sayangnya, alur cerita filmnya yang terburu-buru membuat film ini kurang greget, ditambah lagi dengan plot twist yang kurang memuaskan. Meski begitu, Rafathar tetap punya nilai plus tersendiri seperti penggunaan motion capture dan efek CGI yang digarap oleh Epic FX Studio Indonesia. Seperti diketahui, studio film ini pernah terlibat dalam beberapa film besar Hollywood seperti Superman Returns, The Incredible Hulk dan Night at the Museum.

Film Rafathar turut dimeriahkan oleh Nagita Slavina, Hengky Solaiman, Ence Bagus, Verdi Solaiman, Inggrid Widjarnako, dan Ana Pinem. Film ini sangat cocok disaksikan bersama keluarga terutama untuk kamu yang suka film bergenre komedi. Rafathar tayang serentak di bioskop mulai 10 Agustus 2017.

Selasa, 15 Agustus 2017

The Emoji Movie (2017) ~ Review Movie

Emoji memang berfungsi untuk membumbui komunikasi teks agar lebih ekspresif, bisa menyampaikan emosi dengan lebih sigap dan simpel daripada mengetik teks panjang lebar. Namun setiap emoji hanya berlaku untuk satu ekspresi. Emoji "Cry" dipakai untuk ekspresi sedih. "Blush" untuk tersipu. "Angry" untuk marah. "Laughing" untuk tertawa. Dan "Meh" cocok digunakan ketika kita tak terkesan. Entah itu saat mendengar tren baru yang tak kita pahami darimana hebohnya (Fidget Spinner, misalnya), dikirimi lelucon khas grup WA keluarga, atau saat menonton film The Emoji Movie.

The Emoji Movie, yang sudah dirilis 2 minggu lebih awal di Amerika, mendapat prediket buruk sebagai salah satu film sampah yang pernah dibuat. Saya tak melebih-lebihkan, silakan baca review luar negeri. Telah menontonnya sendiri, saya pikir film ini tak seburuk itu. Tapi saya juga tak bilang ini film yang bagus. The Emoji Movie bukan film yang 💩, melainkan hanya film yang 😒. Filmnya cuma membosankan dan malas saja.

Saya tak bisa menyalahkan anak-anak yang sangat-sangat kecil yang kemungkinan besar akan menikmati film ini sebagai hiburan ringan. Filmnya berisi apa yang mereka suka: warna-warni mencolok dan animasi hiperaktif. Namun The Emoji Movie hanya bermain di permukaan. Filmnya tak menawarkan sesuatu yang benar-benar kreatif atau greget. Leluconnya sangat basic, pembangunan semestanya tak imajinatif, dan plotnya relatif predictable. Filmnya terlalu dangkal dan cenderung bodoh di era dimana film animasi sudah berada di level lebih tinggi. Jika anda pikir anda bisa menebak plotnya hanya dengan mendengar premisnya, maka kemungkinan besar tebakan anda benar.

Nah, coba yang ini. Di dalam sebuah aplikasi perpesanan dalam smartphone, ada kota Textopolis yang populasinya diisi oleh semua emoji. Tugas mereka masing-masing adalah mengekspresikan satu emosi, yang akan di-scan oleh aplikasi kemudian dikirim oleh pemilik smartphone. Tapi Gene (TJ Miller), sebuah emoji "Meh" punya banyak ekspresi, tak seperti emoji normal. Jadi apa yang akan dia lakukan? Tentu saja, melakukan perjalanan untuk mencari jati diri. Tak lengkap jika ia tak ditemani satu teman sebagai tukang ngelawak: Hi-5 (James Corden), dan satu teman lagi yang rasional tapi dalam hal ini sedikit rebel: Jailbreak (Anna Faris).

Sembari menonton, pikiran saya menerawang. Pemilik smartphone ini adalah remaja tanggung bernama Alex (Jake T. Austin) yang selalu ragu saat ingin mengirim emoji kepada gebetannya, Addie (Tati Gabrielle). Karena film hanya berlangsung di smartphone Alex, saya jadi penasaran bagaimana suasana Textopolis di smartphone orang lain. Saat emoji yang dikirim sampai ke smartphone penerima, apa yang terjadi disana? Mungkin tak terjadi apa-apa kali ya, karena di Textopolis Alex tak ada keanehan semacam itu. Entah karena memang mekanikanya begitu, atau justru Alex yang tak pernah mendapat kiriman emoji dari orang lain. Puk puk.

Gene membuat kekacauan saat terlalu grogi sampai menampilkan ekspresi gado-gado saat dikirim Alex. Ini memancing amarah diktator negeri emoji, Smiler (Maya Rudolph) sehingga ia mengutus bot antivirus untuk melenyapkan Gene. Premis film mengijinkan karakter kita berpindah-pindah dari satu area ke area lain. Jika Wreck-It Ralph menyuguhkan set-pieces variatif yang imajinatif, di The Emoji Movie saya curiga ini merupakan promosi komersial untuk beberapa aplikasi. Gene harus menjadi pemain —sebagai candy— di Candy Crush. Gene mengajarkan Jailbreak berdansa di game Just Dance. Di satu momen, mereka berlayar di Spotify (cause it's STREAMING, get it?). Dan tujuan mereka adalah cloud milik aplikasi Dropbox yang "bebas malware dan aman". Ada satu lagi karakter dari aplikasi berlogo burung yang menjadi penyelamat. Bukan, bukan Traveloka.

Film ini tak sedemikian beracun sampai memaksa saya mencuci mata sehabis menonton. Tapi cukup membuat saya menguap berkali-kali. Pembuat The Emoji Movie tak mengisi filmnya dengan humor berbobot, gaya visual, atau perspektif narasi segar yang membuat kita terikat. Kentara sekali film ini adalah produk rapat eksekutif yang oportunis. Sasarannya plot dan humor gampangan. Emoji "Poop" yang dimainkan oleh Yang Terhormat Patrick Stewart punya permainan kata tentang eek yang akan lebih mengena dalam bahasa Inggris. Lalu, apa yang dilakukan emoji "Monkey" yang berpakaian jas? "Monkey business", tentu saja. Hi-5 terutama, terjebak dalam running-gag mengenai memakan muntahan kembali. Dan ngomong-ngomong, film ini dibuka dengan film pendek dari Hotel Transylvania yang berjudul "Puppy!", tentang Drakula yang membelikan cucunya seekor anjing raksasa. Film ini selucu lelucon "monkey business".

Anak-anak mungkin juga takkan keberatan dengan pesan moral mengenai penerimaan diri dan kasih sayang orangtua (yap, Gene punya orangtua yang juga emoji Meh yang diisikan suaranya oleh Steven Wright dan Jennifer Coolidge) yang sudah sering mereka lihat di film yang lebih bagus. Tapi tolong nasihati mereka agar tak salah tanggap mengira bahwa mengirim emoji bisa dengan mudah membuat mereka di-notice seseorang. Oh satu lagi. Candy Crush is awesome, but not that awesome.

The Hunter's Prayer (2017) ~ Review Film

Saya yakin pembuat The Hunter's Prayer tahu mereka akan membuat film seperti apa, tapi tak cukup tahu bagaimana cara kesana, setidaknya jika saya lihat dari apa yang saya tonton. Hubungan karakter adalah aspek krusial dalam film ini. Tak hanya untuk meningkatkan stakes yang harus dihadapi karakternya, tapi yang lebih mendasar lagi, menjadi alasan rasional bagi pilihan yang mereka ambil sejak awal.

Film ini memakai formula premis Jagoan Misterius Tangguh yang Melindungi Cewek Muda, yang sudah jamak kita lihat mulai dari Leon: The Professional-nya Jean Reno dan Natalie Portman, sampai Safe-nya Jason Statham. Pelindung dan yang dilindungi hidup di dunia yang berbeda, tapi mereka terikat oleh suatu alasan. Tingkat kepercayaan kita akan alasan tersebut menentukan keyakinan kita terhadap hubungan dan motif tindakan mereka nantinya. Namun The Hunter's Prayer tak memberikan hal semacam ini. Mereka baru kenal, tapi bicara seolah sangat peduli satu sama lain, sementara kita tak percaya karena chemistry mereka hambar.

Stephen adalah mantan tentara Irak yang sekarang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Ia juga seorang pecandu. Kita tak percaya itu karena ia tampak seperti pria baik-baik dengan wajah Sam Worthington, namun nanti kita bakal melihat ia memakai narkoba dalam situasi yang memalukan. Misi terbarunya adalah melenyapkan seorang gadis muda bernama Ella (Odeya Rush).

Ella sendiri tak tahu bahwa kedua orangtuanya baru saja dibantai oleh pembunuh bayaran lain yang dikirim oleh bos yang sama dengan pengutus Stephen, karena ia tinggal di asrama sekolah mewah di tempat nun jauh disana. Ella adalah anak orang kaya, jadi ia menghabiskan malam dengan berpesta dan tak merasa aneh saat dikuntit pria besar. "Kadang ayahku menyewa orang untuk mengawasiku," ujar Ella pada pacarnya.

Pria kali ini ternyata adalah Stephen, namun Stephen tak mau menarik pelatuk, alih-alih malah menyelamatkan Ella dari pembunuh lain yang juga mengincar Ella. Well, mungkin bos Stephen tak percaya pada Stephen afterall. Bos ini adalah Richard (Allen Leech), rentenir yang uangnya dibawa kabur oleh mendiang ayah Ella. Ia punya anak buah seorang agen FBI (Amy Landecker) dan pembunuh bayaran yang seefektif Stephen (Martin Compston).

Tentu saja, anda sudah tahu akan ada adu jotos, tembak-tembakan, dan kejar-kejaran mobil. Sutradara Jonathan Mostow, yang pernah menggarap Terminator 3, menanganinya dengan cukup kompeten. Namun tidak demikian dengan naratif film. Itensitasnya tak menggigit karena stakes-nya yang nihil. Tak membantu saat set-pieces dan koreografinya juga generik.

Di samping chemistry tokoh utama kita yang nyaris tak ada, antagonis kita juga masuk dalam kategori konyol untuk film seserius ini. Ia menguasai separuh polisi di Eropa (serius, Stephen yang bilang), dan punya sepasang anjing rottweiler yang sadis, just because. Ini adalah kekonyolan yang cocok dalam film aksi kelas B ringan. Namun The Hunter's Prayer tenggelam dalam pretensinya sendiri. Ia terlalu serius untuk bisa dinikmati. Dan saya tak bisa peduli dengan keseriusannya, karena ia gagal dalam visi paling mendasar.

"Kupikir kamu membantuku!" teriak Ella kepada Stephen di satu adegan. Tak ada yang berpikiran seperti itu, Ella. Cuma kamu saja.

Kamis, 10 Agustus 2017

Annabelle: Creation (2017) ~ Review Film

Annabelle, film horor yang dirilis di 2014, sudah bisa menjadi cerita origin yang cocok bagi boneka iblis yang muncul dalam The Conjuring-nya James Wan. Jadi siapa yang butuh Annabelle: Creation, prekuel dari prekuel The Conjuring yang menceritakan origin SEBENARNYA dari boneka tituler tersebut? Tak ada, apalagi saat cerita asal mulanya ini juga sangat generik. Namun, Annabelle: Creation adalah film horor yang fun. Ia juga lebih baik daripada pendahulunya, meski jika pembandingnya adalah Annabelle, maka film yang bagaimanapun adalah sebuah peningkatan.

Annabelle: Creation melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ouija: Origin of Evil. Keduanya tampil lebih baik daripada film pendahulunya yang sama-sama hancur. Keduanya juga sama-sama merupakan prekuel, mengambil setting jadul jauh sebelum film pertama mereka. Dan keduanya juga punya Lulu Wilson! Konspirasi macam apa ini?


Film horor kekinian tak sedemikian menakutkan lagi seperti jaman dulu, karena sekarang semua bergantung pada kejut-mendadak alias jump-scares. Kita mengharapkan jump-scares dan, di beberapa waktu, tahu kapan ada jump-scares. Pembuat film Annabelle: Creation mungkin menyadari hal ini dan mereka bermain-main dengannya. Saat jump-scares datang kita terhenyak, lalu menertawakan diri sendiri atau teman di sebelah. Pemirsa yang menonton bersama saya berteriak, tertawa terbahak-bahak dan bertepuk tangan, menikmati momen mereka.

Sutradara filmnya adalah David F. Sandberg, yang tahun lalu memberikan kita Lights Out, salah satu film horor dengan jump-scares paling efektif yang pernah saya tonton. Seperti film horor kebanyakan, Annabelle: Creation berisi banyak jump-scares yang sebagiannya palsu. Anda tahu maksud saya. Film tak menanggapinya dengan serius karena sadar mereka mengecoh penonton, tapi Sandberg tak serta-merta membangun suspens sekenanya. Adegannya masih efektif, tapi kita tak merasa dicurangi, alih-alih senang karena dipermainkan. Baru di paruh terakhir lah, film ini menjadi horor sepenuhnya dengan kilasan beberapa gambar eksplisit yang tak saya antisipasi akan datang.

Walau gimmick-nya adalah boneka hantu, tapi film ini pada dasarnya adalah horor haunted-house. Film dibuka dengan keluarga yang pindah ke rumah baru yang sebenarnya rumah lama. Selalu begitu. Latarnya adalah rumah yang diambil langsung dari Wahana Rumah Hantu Sinematis: berukuran luas, punya banyak pintu, berkoridor gelap, berpencahayaan minim, lengkap dengan kamar misterius yang dikunci. Semakin komplit dengan keberadaan boneka menyeramkan di dalamnya. "Keluarga" ini adalah sekelompok anak yatim yang diasuh oleh suster Charlotte (Stephanie Sigman). Kenapa mereka mau pindah ke rumah terpencil ini membuat saya heran. Tapi sudahlah. Semua orang dalam film horor haunted-house selalu begitu.

Yang menampung mereka adalah sepasang suami-istri (Anthony LaPaglia dan Miranda Otto). Di awal film diceritakan bahwa lebih dari satu dekade sebelumnya, suami-istri ini kehilangan putri sematang wayang mereka karena kecelakaan. Demi mengurangi rasa kesepian dan untuk alasan yang takkan saya ungkap karena spoiler, pasangan ini mengundang rombongan anak yatim tadi untuk tinggal di rumah mereka. Sang suami berprofesi sebagai pembuat boneka. Kenapa ia membuat boneka dengan mata seseram Annabelle adalah satu hal lagi yang membuat saya heran. Tapi sudahlah. Boneka dalam film horor selalu begitu.

Semua anak yatim ini adalah cewek-cewek muda dan kecil, dan yang paling mencolok diantara mereka adalah Janice (Talitha Bateman) yang pincang. Bersama sobat karibnya Linda (Lulu Wilson), Janice bermain bersama dan ngobrol tentang masa depan mereka. Tentu saja, rumah ini bukan tempat yang menggembirakan untuk bermain, karena aura mistis menguar dari setiap sudut. Saat menemukan kertas bertuliskan "Find Me", Janice masuk ke dalam kamar misterius yang awalnya dikunci tadi, dan ia membuka sesuatu yang tak boleh dibuka. Kenapa dia berbuat bodoh adalah satu hal lagi yang membuat saya heran. Tapi sudahlah. Semua orang dalam film horor selalu begitu.

Boneka Annabelle adalah wadah yang menjadi tempat bersarangnya suatu entitas supranatural yang bisa berpindah kemana-mana. Secara logika tak masuk akal dilihat dari sisi manapun, tapi ini adalah aturan dalam filmnya kalau saya tak salah tangkap. Melihat bagaimana Annabelle: Creation bermain dengan longgar terhadap aturan ini, saya curiga penulis skripnya tak menuangkan pikirannya untuk, well, menulis skrip. Satu-satunya hal yang cerdas dari plotnya adalah bagaimana ending-nya berhasil menalikan film ini dengan awal dari film pertama Annabelle. Bahkan, di satu kesempatan ia juga menyentil keberadaan boneka Annabelle yang asli.

Jadi semua tergantung kepada tangan Sandberg untuk membuat filmnya tetap hidup. Meski triknya tak ada yang baru, namun soal kualitas teknis, Sandberg cukup terampil. Seperti Lights Out, ia juga memainkan pencahayaan dan komposisi gambar. Yang paling bagus adalah saat usaha menakutinya minimalis, seperti siluet di latar belakang atau mata berpendar di kegelapan. Ada juga teknik foreshadowing dengan menampilkan beberapa objek yang akan digunakan untuk gimmick nantinya. Saat saya melihat ada kursi pengangkut otomatis bagi Janice untuk naik ke lantai atas, saya langsung tahu kalau Janice akan ketiban sial gara-gara kursi ini.

Keputusan paling bijak dari film ini adalah dengan membiarkan Annabelle tak bergerak, setidaknya tidak di depan layar. Kita tak pernah melihatnya langsung menolehkan wajah, tapi kita tahu ia baru saja menoleh. Ini yang membuatnya lebih seram. Annabelle tak bisa lari atau terbang sambil terbahak-bahak mengejar korbannya. Dan jujur saja, ini bakal terlihat konyol di layar. Saya mau menonton adegan itu, tapi di film lain.

Lionsgate Sinyalkan akan Buat Lagi Film ‘The Hunger Games’ & ‘Twilight’

Semenjak kesuksesan fantastis franchise Harry Potter, banyak studio berlomba-lomba menciptakan franchise film adaptasi young-adult demi mengekor kesuksesan serupa. Namun usaha tesebut tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada yang gagal seperti The Divergent Series besutan Fox yang kandas di tengah jalan. Adapula yang cukup berhasil seperti dua franchise Young Adult andalan Lionsgate, Twilight dan The Hunger Games.


Meski respon kritikus tak selalu bersahabat, dua judul tersebut tetap sukses secara komersil dan mampu mengadaptasi hingga seri novel terakhirnya. Tercatat, The Hunger Games telah menelurkan empat film dan tamat pada 2015, sedangkan Twilight memiliki lima film dan tamat pada 2012.

Seolah ingin kembali menikmati kesuksesan di masa lalu, kini Lionsgate mensinyalkan akan membuat film terbaru The Hunger Games dan Twilight kedepannya. Indikasi ini pun mengemuka saat Variety mengutip pernyataan Jon Feltheimer selaku CEO Lionsgate. Ketika membahas kejayaan The Hunger Games dan Twilight, Feltheimer mengungkapkan,”ada banyak lagi kisah yang bisa dituturkan, dan kami siap menuturkannya saat kreator kami siap menuturkan kisah itu.”

Sementara itu, belum diketahui pasti apakah film teranyar The Hunger Games dan Twilight nanti akan jadi prekuel, sekuel atau reboot. Sebagian besar memprediksi, film-film ini akan dihadirkan dalam bentuk spin-off. Namun yang menjadi pertanyaan ialah, apakah Stephenie Meyer (kreator novel Twilight) dan Suzanne Collins (kreator novel The Hunger Games) bersedia melanjutkan kedua franchise yang digemari kawula muda ini? Mungkin hanya waktu yang akan menjawabnya.

Dunkirk (2017) ~ Review Film

Hampir 4 minggu film Dunkirk tayang dibioskop-bioskop dunia termasuk bioskop-bioskop di tanah air, hampir 4 pekan pula film terbaru karya Christopher Nolan ini nongkrong di tangga box office sebagai film berpendapatan terbanyak. Saya mendengar, bahwa film Dunkirk ini telah membuat heboh dengan membagi penonton menjadi dua kubu dengan polaritas ektsrim; antara sangat menyukai atau sangat tidak menyukai. Namun saya kira kita semua bisa setuju bahwa Dunkirk adalah sebuah film perang yang unik dan sangat menarik. Menurut saya, mungkin ini karena treatment-nya yang berbeda dibandingkan dengan film perang kebanyakan.

Yang pertama, misalnya, menyebutnya film "perang" mungkin kurang tepat. Meski ber-setting perang dan menampilkan sekuens perang, film ini sebenarnya lebih merupakan survival thriller. Film ini tak brutal, tak menampilkan darah sebagaimana Saving Private Ryan-nya Steven Spielberg, tapi soal urusan intensitas, keduanya hampir setara. Ia hanya berfokus pada peristiwa yang dimaksud. Apakah darah dan potongan tubuh dibutuhkan? Tak juga, sepanjang narasinya bisa mencengkeram kita di aspek survival-nya.


Nolan juga membangun filmnya di atas dua elemen krusial yang sangat teknis sekali, yaitu gambar-gambar imersif dari sinematografer Hoyte van Hoytema, serta scoring menggelegar dari Hans Zimmer yang sering menggunakan suara "tik tik tik" untuk menegaskan urgensi. Dunkirk tak memberikan pencapaian emosional, alih-alih menyuguhkan pengalaman indrawi. Hanya sedikit film yang bisa bertahan hanya dari dua elemen tersebut. Tanpanya, Dunkirk akan menjadi film yang sangat biasa.

Perang dimulai oleh pemegang kekuasan, tapi pelaku aktualnya adalah para keroco. Dunkirk adalah film perang yang digawangi keroco-keroco tak bernama, bukan tokoh ikonik atau karakter kunci. Tanpa backstory, tidak memperlihatkan musuh sama sekali, dan hanya punya sedikit konteks, tapi stakes-nya tetap terasa tinggi karena mereka tak mampu berbuat banyak. Konteksnya? Hanya apa yang kita tahu soal peristiwa Dunkirk. Saat Perang Dunia II, 400.000 tentara sekutu terdesak oleh tentara Jerman di pantai Dunkirk, Prancis. Mereka menunggu dievakuasi sebelum Hitler meluluhlantakkan pantai tersebut. Namun kapal militer tak bisa didatangkan karena akan langsung diserbu oleh kapal selam dan pesawat Nazi. Untungnya, puluhan kapal sipil milik nelayan Inggris datang menyelamatkan tentara demi siap berperang lagi di kemudian hari.

Ini adalah cerita yang sederhana, tapi dibuat ribet oleh Nolan dengan struktur naratif yang unik. Ia sepertinya berusaha keras untuk membuat Dunkirk menjadi lebih dari sekedar reka ulang sinematis biasa dari sebuah peristiwa perang penting. Ia mengambil 3 perspektif berbeda dengan 3 rentang waktu yang berbeda pula. Peristiwa di darat terjadi selama 1 minggu, di laut selama 1 hari, dan di udara selama 1 jam. Ketiga plot ini saling berpotongan tapi terjadi secara simultan hingga berjalinan menjadi satu di akhir. Di beberapa titik, kita mendapati pengalaman berbeda dari para tentara yang menyaksikan peristiwa yang sama. Terkadang membingungkan memang, tapi menjadi sarana pamer yang mengejutkan, in a good way, bagi saya.

Di darat, kita melihat tentara belia Tommy (Fionn Whitehead) berlarian di jalanan hingga sampai ke pantai Dunkirk yang sudah dipenuhi oleh barisan tentara sekutu yang siap mengungsi. Ia kemudian bertemu dengan tentara belia lain, diantaranya diperankan oleh Aneurin Barnard dan Harry Styles. Sementara itu, komandan mereka (Kenneth Brannagh dan James D'Arcy) memikirkan keras bagaimana skenario penyelamatan. Di laut, nelayan sipil Dawson (Mark Rylance) dan anaknya (Tom Glynn-Carney) serta satu remaja lokal (Barry Keoghan) siap mempertaruhkan nyawa menjawab panggilan putus asa dari tentara. Mereka mengevakuasi satu tentara yang trauma (Cillian Murphy). Di udara, 3 pilot Spitfire (diantaranya ada Tom Hardy dan Jack Lowden) berjuang menetralisir pesawat musuh yang membombardir kapal dan kanal tempat tentara berbaris.

Anda lihat, mereka memang punya nama. Namun saya tak terpikir akan nama mereka saat menonton (saya mendapatkan nama ini dari IMDb untuk penulisan review saja). Film ini soal peristiwa, bukan karakter. Narasi dari Dunkirk tak mengijinkan kita untuk terikat dengan karakter, tapi terlibat pada apa yang mereka alami. Deretan pemainnya diisi beberapa nama top, tapi tak ada mencolok. Mereka hanya berperan seadanya, sesuai kebutuhan. Sama seperti tentara yang hanya menunaikan tugas negara, para aktor Dunkirk menunjukkan penampilan yang membumi, tak egois ingin memamerkan porsi mereka.

Dengan intensitasnya yang sering menciptakan teror, disorientasi, dan kepanikan, saya ingin bilang bahwa Dunkirk adalah gambaran realistis dari perang. Namun saya tak pernah melihat perang secara langsung, jadi argumen saya tidak valid. Namun Nolan memang menghindari penekanan dramatis pada momen heroik. Tak ada pidato menggebu-gebu atau one-liner macho, bahkan film ini sangat minim dialog atau eksposisi. Kita ditempatkan langsung di tengah-tengah medan perang. Jika ingin dibagi dalam 3 babak naratif, maka 3 menit pertama Dunkirk adalah prolog, 3 menit terakhir adalah epilog, dan durasi diantara keduanya adalah klimaks.

Nolan juga menolak menggunakan trik komputer untuk mengeskalasi skala filmnya, melainkan memakai practical effects yang masif. Kita melihat ratusan pemain ekstra berbaris dengan seragam tentara lengkap. Dan beberapa kapal dan pesawat yang diledakkan itu? Asli, meski saya yakin itu adalah hasil modifikasi alih-alih kendaraan tempur jadul sungguhan (ia bisa diciduck sejarawan nanti). Bersama Hoytema, Nolan memasang kamera IMAX langsung di pesawat, lalu menciptakan adegan kejar-kejaran pesawat dengan benar-benar mengejar pesawat sungguhan, sehingga menciptakan sekuens yang benar-benar otentik. Ini adalah sebuah pencapaian sinematis untuk urusan pertempuran di udara.

Dalam satu wawancara, Nolan bilang bahwa ia tak begitu menyukai ide menonton film secara streaming lewat gadget. Bahkan untuk beberapa filmnya —yang paling heboh adalah Interstellar— ia sampai berbuat lebih jauh dengan memastikan agar bioskop menayangkan sesuai dengan spesifikasi darinya. Baiklah, ia memang memberikan argumen yang sangat bagus lewat film ini. Tonton Dunkirk di layar selebar mungkin dan sound system sebising mungkin.

Rabu, 09 Agustus 2017

Baywatch (2017) ~ Review Film

Apa yang kita harapkan saat menonton film berjudul Baywatch dengan poster yang diisi oleh pemain berbodi seksi yang memakai baju renang? Pantai, otot, dan "belahan". Asyik sebagai hiburan 5 menitan, namun tidak demikian sebagai sebuah film panjang. Kita perlu lebih dari itu.

Sama-sama diadaptasi dari serial TV lawas, mereka bilang film Baywatch akan seperti 21 Jump Street. Pendekatannya serupa, dimana keduanya hampir sepenuhnya mengabaikan materi asli, alih-alih menggantinya dengan komedi-aksi digawangi duo yang suka saling meledek serta diselingi dengan humor self-referential. Saya beri tahu anda: Baywatch tak sepadan dengan 21 Jump Street. Keduanya memakai formula yang mirip, namun dalam berkomedi, Seth Gordon tak sekreatif dan secerdik duo Phil Lord & Christopher Miller.

Serial Baywatch dibintangi David Hasselhoff sebagai penjaga pantai yang memecahkan berbagai kasus kriminal receh, namun saya curiga ia lebih populer karena menampilkan Pamela Anderson yang bergerak slow-motion dalam balutan pakaian renang. Kedengarannya konyol. Para pembuat film Baywatch tampaknya juga menyadari hal tersebut dan mereka tak segan menunjukkannya pada kita. Ini lucu, namun jika bagian terlucu dari film hanya ini saja maka namanya usaha filmmaking yang malas.

Film ini berating "R" / "Dewasa", sehingga mengijinkannya menyajikan lawakan yang lebih bebas, hingga ke taraf vulgaritas yang membuat saya sedikit canggung. Ada beberapa lemparan sumpah serapah, namun tak ketinggalan pula lelucon mengenai penis yang lucu sesaat lalu menjadi garing ketika berlebihan. Di satu momen bahkan Zac Efron harus bermain dengan penis seorang mayat. "Yup" or "Yikes" tergantung selera anda.

Yang menggantikan Mitch-nya Hasselhoff adalah Dwayne Johnson yang terlihat seperti Dwayne Johnson biasanya: jagoan tangguh berotot besar yang tak hanya akan menyelamatkan anda saat anda tenggelam, tapi tampaknya juga bisa membantai hiu cuma dengan satu tangan. Bersama dua rekannya, CJ (Kelly Rohrbach) dan Stephanie (Ilfenesh Hadera), Mitch sedang mengadakan ujian penerimaan penjaga pantai baru. Kandidatnya adalah :

1. Matt (Efron), juara dunia renang dua kali yang karirnya kandas karena muntah di arena renang saat Olimpiade. Ia terpaksa ikut ujian karena ini satu-satunya pilihan. Namun egonya mendapat rival yang sebanding dengan ego Mitch.

2. Summer (Alexandra Daddario), yang tak hanya sangat kompeten di bidang per-penjaga-pantai-an, tapi juga punya bodi sangat seksi dan wajah cantik yang membuat banyak mulut pria ternganga. Tapi saya tidak.

3. Ronnie (Jon Bass), dengan fisik yang dalam sekali pandang sudah bisa dibilang tak cocok menjadi penjaga pantai. Tapi siapa saya untuk nge-judge orang, Ronnie berhati emas walau mungkin seharusnya bisa lebih mengontrol diri saat melihat CJ.

Dan sebagai catatan penting, sebagian besar durasi dihabiskan oleh Johnson dan Efron dengan tak berbaju, memamerkan otot bisep dan otot perut masing-masing. Begitu pula dengan Rohrbach, Hadera dan Daddario. Mereka juga tak berbaju... tapi bohong! Tentu saja mereka memakai pakaian renang yang layak, meski memang sangat minim; jika tidak, ini akan menjadi film yang sama sekali berbeda.

Plot sebenarnya bukan ujian masuk, melainkan melibatkan Priyanka Chopra sebagai Victoria Leeds, konglomerat yang memborong semua properti di pantai areanya Mitch demi melancarkan usaha perdagangan narkobanya. Temuan beberapa kemasan kecil mencurigakan di pantai membuat Mitch berniat menyelesaikan kasus ini, meski ditentang oleh bosnya (Rob Huebel) dan polisi setempat (Yahya Abdul-Mateen II) yang gampang sekali tersinggung.

Plot mengenai penyelundupan narkoba adalah elemen paling menjemukan disini, tapi film memainkannya dengan serius. Bahkan penampilan over-the-top dari Chopra tak terlihat menghibur lagi. Sekuens aksi ledakan kapal dan kejar-kejaran boat terkesan seadanya; asal nempel karena ini adalah film komedi-AKSI. Perkembangan cerita seperti ini merupakan perkembangan cerita yang kita temukan, uhm, dalam setiap film aksi kelas B dan serial TV generik ala CSI. Begitu standar hingga saya kepikiran kenapa penulis naskah sampai repot-repot menggunakannya.

Karisma Johnson dan comic-timing dari Efron membuat beberapa leluconnya cukup mengena, khususnya saat Johnson memanggil Efron dengan nama ledekan seperti "Bieber", "One Direction", atau "High School Musical". Begitu juga dengan lelucon self-referential mengenai karakter yang bilang bahwa kenapa karakter seksi selalu terlihat bergerak dalam slow-motion. Kemunculan Hasselhoff di momen tak terduga lumayan menyengat saraf tawa, namun kasihan dengan Anderson yang mendapat cameo sepele. Mungkin diberi kesempatan untuk film sekuelnya. Kalau ada.

Humor referensi yang meledek diri sendiri tak pernah tak lucu, namun Baywatch membuktikan bahwa sebuah film komedi yang benar-benar lucu butuh lebih dari itu. Ironis saat film yang meledek serialnya sebagai film yang cheesy dan receh berakhir menjadi film yang cheesy dan receh pula. Namun jika anda hanya ingin melihat Baywatch sebagai film dalam kalimat kedua dari paragraf pertama ulasan saya, saya tak bisa melarang anda.

Guardian of the Galaxy Vol. 2 (2017) ~ Review Film

Guardians of the Galaxy Vol.2 meperbuat "dosa" yang biasa diperbuat oleh sekuel film blockbuster, tetapi berhasil lolos sebab tetap berpegang pada citarasa dan formula yang membikin film pertamanya berhasil. Iya itulah Movie Mania, saya bilang bahwa film ini tidak sekeren Guardians of the Galaxy. Walau demikian, ia tetap lebih baik dibandingkan tidak sedikit film superhero modern yang tidak jarangkali hanya berisi parade efek visual tanpa esensi.

Tiga tahun lalu, Guardians of the Galaxy menjadi hit yang mengejutkan dengan pendapatan lebih dari tiga perempat miliar dolar dari seluruh dunia. Sementara film superhero biasanya dibuat dengan topik self-serious seperti konflik personal alias villain yang mengancam dunia, Guardians of the Galaxy yang membawakannya dengan lebih riang menjadi sajian yang menyegarkan. Pergi dari superhero yang tidak dikenal, kini mungkin sebagian penonton malah mengidolakan monster pohon atau rakun yang dapat bicara. Dengan ekspektasi dengan tinggi itu, the only way is go bigger, perhaps. Kami dapat merasakan bahwa Guardians of the Galaxy Vol.2 seolah merasa berkeharusan untuk sehingga lebih lucu, lebih seru, dan lebih spektakuler, yang sebetulnya tidak persoalan seandainya ia tidak mencoba terlalu keras.

Saya tidak bermaksud bilang bahwa film ini tidak lagi lucu, seru, dan spektakuler. Dinamika kocak antarkarakter, semesta yang imajinatif dan efek visual menyilaukan tetap ada, tapi kini terasa sedikit maksa. Film ini tetap ditulis dan disutradarai oleh pembuat film pertamanya, James Gunn. Mungkin menyadari bahwa suguhannya tidak lagi segar dan sudah kehilangan efek kejut, Gunn melipatgandakan semuanya. Saya pikir ada dosis tertentu bagi lelucon, plot dan karakter yang dapat dimuat dalam satu film.

Yang menjadi pusatnya tetap tim kita, para penjaga galaksi: Peter Quill (Chris Pratt), manusia, ehm, separuh dewa yang ngebet dipanggil Star Lord; Gamora (Zoe Saldana), alien wanita hijau yang tangguh; Drax (Dave Bautista), si gempal superkuat yang punya selera humor kacangan; Rocket (disuarakan oleh Bradley Cooper), rakun cerdas yang bermulut kasar; dan pasti saja, Groot (disuarakan oleh Vin Diesel) monster pohon yang kini mungil unyu-unyu sangat menggemaskan. Mereka mendapat misi dari petinggi alien berkulit emas, Ayesha (Elizabeth Debicki) untuk mengambil baterai berharga yang kemudian separuhnya dimaling oleh Rocket. Ayesha yang murka mengirim pasukannya untuk memburu para Guardian sebelum akhirnya diselamatkan oleh Ego.

Okey, Movie Mania, ini bukan spoiler... Ego adalah ayah biologis dari Quill. Sehalu penjelasan saya, ia bukan manusia melainkan "celestial" yang dapat disandingkan dengan dewa. Ia dapat mengambil wujud manusia dalam bentuk Kurt Russell. Ego menciptakan planet yang berisi taman dan kastil dengan dekorasi supermewah. Ia bilang sudah menghabiskan tidak sedikit waktu untuk mencari anak yang lama tidak dijumpainya ini. But really, saya rasa Movie Mania sudah dapat mencium gelagat tidak sedap.

Sementara itu, Rocket dan Groot yang ditinggalkan bersama Nebula (Karen Gillan) — Nebula adalah saudarinya Gamora. Movie Mania masih ingat, kan ??— harus berhadapan dengan tim berandalan yang dipimpin si biru Yondu (Michael Rooker) yang malah berujung pada bergabungnya Yondu dengan tim Guardian kita. Saat mereka semua dipenjara di sebuah kapal ruang angkasa, Yondu menceritakan masa lalunya dengan Quill yang otomatis melejitkannya dari karakter sampingan menjadi salah satu karakter yang penting dalam semesta Guardians of the Galaxy.

Selagi Quill membangun kembali hubungan dengan sang ayah, tergolong bermain lempar bola sebab lempar bola tampaknya adalah rutinitas ikonik ayah-anak, Gamora juga harus menyelesaikan persoalan dengan saudarinya Nebula yang memburunya sampai ke planet Ego. Mekanika plotnya menjadi seperti Star Trek ala-ala, dimana Quill dan Gamora yang hari ini berada di bawah sorotan, sementara yang lain ngelawak di belakang; Drax menjalin interaksi romatis dengan Mantis (Pom Klementieff), pembantu Ego yang punya mata besar dan dua antena, dan Rocket dan Groot yang berusaha kabur dari penjara.

Movie Mania, admin sangat suka adegan pembukanya yang sebetulnya adalah sekuens aksi. Baby Groot menari diiringi lagu "Mr. Blue Sky" dari ELO, sementara rekan-rekan tengah bertarung setengah mati melawan monster gurita raksasa di latar belakang. Ini keren. Kamera hanya berfokus pada Groot, menegaskan bahwa Gunn pede dengan gayanya dan tidak mau pamer sekuens aksi. Sayangnya, film kemudian mencoba terlalu keras menonjolkan kedua elemen tadi. Hasilnya keren tapi tidak exciting.

Apakah Gunn tetap mengutilitisasi lagu lawas untuk adegan aksinya? Tentu, Iya !! — diantaranya ada "Brandy (You're Fine Girl)"-nya Looking Glass dan "The Chain"-nya Fleetwood Mac— tapi eksekusinya tidak seberkesan film sebelumnya. Celutukan dan bantering yang dilempar setidak jarang mungkin, berbagai diantaranya meleset. Referensi adat pop rutin asyik disimak (Cheers, David Hasselhoff, Mary Poppins) dan Groot rutin menggemaskan dilihat, tapi lelucon Rocket yang mengena hanya soal "Taserface". Saya pikir tidak sedikitnya jokes di tempat yang tidak cocok mencederai intensitasnya. Mereka terkesan tidak peduli kepada apa yang terjadi dengan melempar lelucon dimana-mana.

Sekuens aksinya yang melibatkan serangan efek spesial, mengagumkan dengan cara visual meskipun minim intensitas. Lingkungan digitalnya berada di level yang tidak sama. Tidak tidak sedikit yang dapat seperti Gunn dalam membikin ledakan dan efek spesial overload yang tetap terasa menghibur walau komposisinya riuh dan nyaris tanpa dimensi. Adegan klimaksnya berisi tidak sedikit ledakan. Gunn sanggup membawa peristiwa klasik film superhero, tergolong berbagai klise sinema seperti asmara antarprotagonis dan hero shot dalam slow-motion, tidak tampak begitu cheesy.

Tetapi yang adalah keterampilan paling atas Gunn disini adalah dari sisi komersil. Ia selain berhasil merangkai narasi yang tidak fokus ini tanpa ada yang terbuang (serius, detil kecil di awal nyatanya ada maksudnya di akhir), tapi juga berhasil mempersembahkan kontinuitas untuk menjalin seporsi kisahnya ini dengan semesta MCU yang mahaluas tanpa menjegal narasi. Movie Mania mungkin takkan mengingat Gamora yang menenteng senapan sebesar motor, tetapi cameo dari Sylvester Stallone dan Michelle Yeoh bakal meninggalkan kesan. Di suatu waktu, di sebuah film MCU, Movie Mania dapat mengatakan, "Oh, mereka awalnya muncul dalam Guardians of the Galaxy Vol.2".

Selasa, 08 Agustus 2017

Wish Upon (2017) ~ Review Film

“You're a psycho b***ch!”
Itu yang dikatakan Meredith (Sydney Park) saat mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh teman karibnya, Clare (Joey King). "What is wrong with you!" sering diteriakkan oleh teman-teman Clare lainnya yang juga tahu. Jelas, ada yang tak beres dengan Clare. Ini dia tokoh utama yang dirancang simpatis tapi selalu berbuat egois setiap waktu, sampai admin Movie Mania tidak tahu apakah film ini ingin agar kita peduli atau malah membencinya.

Clare adalah siswi SMA yang tampaknya culun karena ia tak pede dan sering di-bully oleh ratu sekolah (Josephine Langford). Saat masih kecil, ibunya bunuh diri dengan cara gantung diri di depan matanya. Ia juga malu dengan sang ayah (Ryan Philippe) yang hobi memulung, bahkan hingga ke pekarangan SMA-nya. Namun ia harusnya berterima kasih, karena berkat sang ayah, Clare mendapat kotak ajaib bertuliskan aksara Cina yang bisa mengabulkan 7 permintaan apapun. Sekarang ia bisa membuat dunia lebih baik atau menyembuhkan kanker. Tapi tidak. Clare menggunakannya untuk mendapatkan popularitas, warisan, dan cowok paling populer di sekolah.


Kekurangannya adalah setiap mengabulkan satu permintaan, kotak tersebut akan mencabut nyawa satu orang terdekat si empunya permintaan. Nah, film ini sekarang menjadi horor body-count, dimana satu persatu orang akan tewas setiap kali Clare meminta sesuatu. Namun Clare tak tahu hal ini. Well, tidak juga. Bahkan setelah Ryan (Ki Hong Lee), salah satu teman sekelas yang naksir padanya menduga bahwa kotak ini adalah kotak setan, Clare tetap saja minta ini-itu.

Ada 7 permintaan, jadi film ini setidaknya butuh lebih dari 7 karakter selain Clare untuk dibunuh. Dan mereka tak butuh karakterisasi. Ini adalah formula klise dalam horor body-count, dimana kita sama sekali takkan peduli dengan karakter manapun, karena bakal mati juga nanti. Pada dasarnya, ini sama saja dengan film Final Destination, hanya saja dengan gimmick "make-a-wish". Serunya dua kali lipat, seharusnya. Jika di Final Destination kita sudah tahu siapa yang akan mati sehingga hanya menanti lewat cara brutal apa nyawa mereka melayang, maka dalam Wish Upon kita menebak siapa sekaligus bagaimana mereka akan mati (ada satu adegan nanti yang memanfaatkannya untuk membangun suspens). Namun, filmnya seru hanya di saat kita mencoba mengerti mekanika gimmick-nya.

Admin Movie Mania takkan mengungkap bagaimana mereka mati, karena akan mengurangi sensasi dalam menonton. Tapi admin Movie Mania akan bilang bahwa cara matinya tak begitu kreatif. Apalagi seberkesan sekuens gila dari Final Destination. Adegan tewasnya mulai dari yang konyol hingga receh; seringkali sepele sehingga terkesan malas. Admin Movie Mania biasanya tak begitu suka brutalitas tanpa konteks, tapi dalam sebuah film horor body-count, dimana keseruannya kalau tidak demikian?

Karena sudah bilang begitu, admin Movie Mania akan membuat kesimpulan bahwa Wish Upon tak seseru Final Destination. Filmnya mencoba terlalu keras untuk ditanggapi dengan serius. Di setiap pembunuhan, filmnya seperti ingin memastikan agar kita merasakan ketragisan mendalam. Mungkin ada pesan yang ingin disampaikan, tapi saya pikir akan sulit sekali ditangkap saat sedang menonton.

Sutradaranya adalah John R. Leonetti yang pernah menangani permainan gimmick dalam The Butterfly Effect 2 dan membawakan kita Annabelle tiga tahun lalu. Disini ia juga tak bisa menghadirkan keseraman yang menggigit, tapi setidaknya filmnya tak ngawur kemana-mana dan tak ada aktor yang memberikan penampilan menggelikan. Bahkan Ryan Philippe sebagai ayah Clare, yang gara-gara permintaan kotak, berubah dari pemulung menjadi musisi jazz tak tampak konyol saat memainkan solo saksofon di sekeliling rumah. Eits, tunggu!! yang ini memang benar-benar menggelikan.

Once Upon a Time in Venice (2017) ~ Review Film

Once Upon a Time in Venice berisi berbagai petualangan absurd yang hampir membuatnya menjadi film sinting. Sekuens aksinya yang paling berkesan adalah Bruce Willis yang mengendarai skateboard di jalanan, saat tengah malam, sembari di kejar polisi, dalam keadaan telanjang, lalu menyelipkan pistol di pantatnya. Iya, ini lelucon ofensif. Film ini sendiri sebenarnya banyak berisi humor vulgar, rasis, dan seksis yang biasanya membuat admin Movie Mania meringis. Sebagai tambahan, Movie Mania juga akan melihat grafiti tentang oral sex dan tea-bagging (nanti Movie Mania akan tahu sendiri, admin takkan menjelaskannya). Itulah kenapa LSF memberinya rating "21+".

Namun bagi admin Movie Mania lucu karena ini Bruce Willis. Leluconnya bekerja karena Bruce Willis. Willis, yang dulu pernah menjadi bintang film aksi kelas A tapi belakangan ini banyak bermain dalam film kelas C dan D seperti yang dilakukan Nicolas Cage, membuat peran memalukan ini tak begitu memalukan, malahan jadi terlihat lucu. Mungkin karena personanya yang membumi, tidak mencoba terlalu berlebihan untuk terlihat lucu. Ia natural. Lelucon ofensif tak terasa begitu menyengat. Saat Willis melakukannya, kita hanya berpikir, "Dasar tua bangka gila."

Willis bermain sebagai Steve, detektif swasta yang berlokasi di Venice. Bukan, bukan yang di Itali, tapi sebuah pantai di Los Angeles. Ia jauh dari kesan detektif yang kompeten. Sehari-hari ia berdandan seperti anak muda, kemana-mana dengan skateboard, nongkrong dengan teman karibnya Dave (John Goodman), dan sesekali tidur dengan wanita. Karena wanita teranyar yang ditidurinya adalah saudari dari dua pria kekar yang sangar, maka Willis harus kabur dengan menerobos jendela (dalam keadaan telanjang) dan ber-skateboarding seperti yang tadi admin bilang.

Steve kemudian dimintai tolong oleh seorang pakar properti bernama "Lew the Jew" (Adam Goldberg) untuk menyelidiki orang yang mencoreti gedung yang akan dijualnya dengan grafiti vulgar. Dan karena belum ada cukup masalah bagi Steve, anjing miliknya baru saja diculik oleh raja narkoba lokal, Spyder (Jason Momoa, yang sangat bagus untuk urusan menggeram) yang meminta tebusan tiga ribu dolar; empat ribu dolar karena Steve juga merusak jendela rumah Spyder.

Film dihabiskan dengan Steve yang melakukan deal kesana-sini di Venice kepada beberapa orang, mulai dari penipu, pebisnis, teman lama, gangster, rentenir, sampai waria. Semakin ia berusaha menyelesaikan masalah, semakin kacau situasinya, karena Steve adalah pria slenge'an yang suka berbuat serampangan. Di satu titik, ia masuk begitu saja ke sarang gangster dengan menyamar sebagai pengantar pizza, lalu mencuri mobil milik Spyder. Atau meminjam uang pada rentenir, lalu harus meminjam lagi pada orang lain untuk melunasi hutang yang tadi karena ia sudah ditagih debt collector. Meski begitu, stake-nya ringan sekali. Tak ada kesan bahwa karakter Steve benar-benar terlibat bahaya atau tidak.

Ada banyak aktor yang cuma numpang lewat untuk melontarkan satu atau dua lelucon. Kal Penn menjadi kasir minimarket. David Arquette adalah seorang pecandu. John Goodman lucu sebagai pemilik kedai peralatan surfing, namun subplot mengenai perceraian dan perebutan harta gono-gininya sama sekali tak nyambung. Ada pula Famke Jenssen yang disia-siakan sebagai adik Steve yang baru saja ditinggal suami. Yang lebih sekenanya adalah Thomas Middlemitch sebagai partner Steve yang canggung dan suka ngedumel sendiri (tak jauh berbeda dengan perannya dalam serial Silicon Valley), yang sepertinya bisa dihilangkan sama sekali. Namun ia punya andil sebagai narator bagi film.

Meski banyak yang dialami karakter Steve, film ini nyaris tak punya plot sungguhan selama 94 menit durasi. Penulisannya berantakan karena ada banyak poin plot yang tak ada hubungannya satu sama lain. Timbul kesan bahwa film ini lebih banyak dibuat di ruang editing daripada dari skrip. Filmnya semacam dibangun dari lelucon random, tapi untungnya mengena. Movie Mania tahu, film ini masuk dalam kategori hancur tapi admin tak bosan saat menontonnya.

Mungkinkah sutradara/penulis Mark Cullen dan Robb Cullen ingin menyasar petualangan absurd seperti The Big Lebowski? Hmm, masih jauh. Once Upon a Time in Venice susah untuk ditanggapi dengan serius karena kemalasan dalam filmmaking-nya. Admin Movie Mania bisa membayangkan jika film ini dibuat dengan lebih kompeten maka ia bisa menjadi film komedi yang bagus. Untuk sementara, admin hanya akan menikmati Bruce Willis ber-skateboarding sambil telanjang.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More