Tampilkan postingan dengan label Film Komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Komedi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Agustus 2017

Rafathar (2017) ~ Review Film

Mungkin masih belum banyak film Indonesia yang menampilkan anak kecil sebagai pemain utamanya, ditambah lagi dengan sentuhan efek canggih CGI. Kali ini hadir film Indonesia yang mengusung tema serupa berjudul Rafathar. Film yang diproduseri Raffi Ahmad dan Anggy Umbara ini memiliki premis yang hampir mirip dengan film-film Hollywood, salah satunya Baby’s Day Out (2014) yang mengisahkan petualangan menculik bayi.

Rafathar, seorang bayi lucu nan menggemaskan, anak adopsi dari pasangan selebriti konglomerat, Bondan (Arie Untung) dan Mila (Nur Fazura) yang sudah lama mendambakan kehadiran anak. Sebagai seorang public figure ternama, keberadaan Rafathar membuat media mengeksposnya habis-habisan. Kabar ini pun sampai ke telinga Bos Viktor (Agus Kuncoro) yang punya rencana jahat. Ia lalu menyuruh dua anak buahnya, Jonny Gold (Raffi Ahmad) dan Popo Palupi (Babe Cabita) untuk menculik Rafathar.

Sempat ragu dan tidak tega, namun akhirnya Jonny dan Popo tetap menuruti permintaan sang bos untuk menculik Rafathar. Ternyata perjalanan Jonny dan Popo tidak semudah yang dbayangkan. Rafathar ternyata bukanlah bayi biasa, ia adalah bayi mutan yang memiliki kekuatan super telekinesis yang mampu mengendalikan barang-barang berbahan logam. Adegan penculikan pun diwarnai dengan aksi kejar-kejaran yang kerap memancing gelak tawa. Secara perlahan perjalanan ini mulai membuka sebuah konspirasi besar dan asal usul kekuatan super yang dimiliki oleh Rafathar.

Akankah Jonny dan Popo berhasil menculik Rafathar? Siapakah sebenarnya Rafathar, dari mana ia mendapatkan kekuatan supernya?

Mengusung tema superhero dan menampilkan anak kecil sebagai tokoh utamanya tentu bukanlah hal yang mudah. Karena itulah sang ayah sekaligus produser dalam film ini juga menggandeng Anggy Umbara sebagai produser dan Bounty Umbara yang mengarahkan langsung filmnya. Raffi pun mengungkap bahwa film ini terinspirasi dari beberapa film-film populer di tahun 90’an seperti Baby’s Day Out (1994) dan Home Alone (1990).

Selama 91 menit, boleh diakui Rafathar memang punya sesuatu yang berbeda jika dibanding film Indonesia pada umumnya. Duo perampok handal, Jonny dan Popo selalu berhasil mengundang tawa di setiap aksinya. Kehadiran Rafathar juga berhasil membuat kegemasan sendiri kala melihat tingkahnya yang lucu. Bayi superhero ini mengingatkan kita dengan karakter Kevin McCallister di film Home Alone dengan segala kepintaran yang tidak dimiliki bayi lain.

Sayangnya, alur cerita filmnya yang terburu-buru membuat film ini kurang greget, ditambah lagi dengan plot twist yang kurang memuaskan. Meski begitu, Rafathar tetap punya nilai plus tersendiri seperti penggunaan motion capture dan efek CGI yang digarap oleh Epic FX Studio Indonesia. Seperti diketahui, studio film ini pernah terlibat dalam beberapa film besar Hollywood seperti Superman Returns, The Incredible Hulk dan Night at the Museum.

Film Rafathar turut dimeriahkan oleh Nagita Slavina, Hengky Solaiman, Ence Bagus, Verdi Solaiman, Inggrid Widjarnako, dan Ana Pinem. Film ini sangat cocok disaksikan bersama keluarga terutama untuk kamu yang suka film bergenre komedi. Rafathar tayang serentak di bioskop mulai 10 Agustus 2017.

Rabu, 09 Agustus 2017

Baywatch (2017) ~ Review Film

Apa yang kita harapkan saat menonton film berjudul Baywatch dengan poster yang diisi oleh pemain berbodi seksi yang memakai baju renang? Pantai, otot, dan "belahan". Asyik sebagai hiburan 5 menitan, namun tidak demikian sebagai sebuah film panjang. Kita perlu lebih dari itu.

Sama-sama diadaptasi dari serial TV lawas, mereka bilang film Baywatch akan seperti 21 Jump Street. Pendekatannya serupa, dimana keduanya hampir sepenuhnya mengabaikan materi asli, alih-alih menggantinya dengan komedi-aksi digawangi duo yang suka saling meledek serta diselingi dengan humor self-referential. Saya beri tahu anda: Baywatch tak sepadan dengan 21 Jump Street. Keduanya memakai formula yang mirip, namun dalam berkomedi, Seth Gordon tak sekreatif dan secerdik duo Phil Lord & Christopher Miller.

Serial Baywatch dibintangi David Hasselhoff sebagai penjaga pantai yang memecahkan berbagai kasus kriminal receh, namun saya curiga ia lebih populer karena menampilkan Pamela Anderson yang bergerak slow-motion dalam balutan pakaian renang. Kedengarannya konyol. Para pembuat film Baywatch tampaknya juga menyadari hal tersebut dan mereka tak segan menunjukkannya pada kita. Ini lucu, namun jika bagian terlucu dari film hanya ini saja maka namanya usaha filmmaking yang malas.

Film ini berating "R" / "Dewasa", sehingga mengijinkannya menyajikan lawakan yang lebih bebas, hingga ke taraf vulgaritas yang membuat saya sedikit canggung. Ada beberapa lemparan sumpah serapah, namun tak ketinggalan pula lelucon mengenai penis yang lucu sesaat lalu menjadi garing ketika berlebihan. Di satu momen bahkan Zac Efron harus bermain dengan penis seorang mayat. "Yup" or "Yikes" tergantung selera anda.

Yang menggantikan Mitch-nya Hasselhoff adalah Dwayne Johnson yang terlihat seperti Dwayne Johnson biasanya: jagoan tangguh berotot besar yang tak hanya akan menyelamatkan anda saat anda tenggelam, tapi tampaknya juga bisa membantai hiu cuma dengan satu tangan. Bersama dua rekannya, CJ (Kelly Rohrbach) dan Stephanie (Ilfenesh Hadera), Mitch sedang mengadakan ujian penerimaan penjaga pantai baru. Kandidatnya adalah :

1. Matt (Efron), juara dunia renang dua kali yang karirnya kandas karena muntah di arena renang saat Olimpiade. Ia terpaksa ikut ujian karena ini satu-satunya pilihan. Namun egonya mendapat rival yang sebanding dengan ego Mitch.

2. Summer (Alexandra Daddario), yang tak hanya sangat kompeten di bidang per-penjaga-pantai-an, tapi juga punya bodi sangat seksi dan wajah cantik yang membuat banyak mulut pria ternganga. Tapi saya tidak.

3. Ronnie (Jon Bass), dengan fisik yang dalam sekali pandang sudah bisa dibilang tak cocok menjadi penjaga pantai. Tapi siapa saya untuk nge-judge orang, Ronnie berhati emas walau mungkin seharusnya bisa lebih mengontrol diri saat melihat CJ.

Dan sebagai catatan penting, sebagian besar durasi dihabiskan oleh Johnson dan Efron dengan tak berbaju, memamerkan otot bisep dan otot perut masing-masing. Begitu pula dengan Rohrbach, Hadera dan Daddario. Mereka juga tak berbaju... tapi bohong! Tentu saja mereka memakai pakaian renang yang layak, meski memang sangat minim; jika tidak, ini akan menjadi film yang sama sekali berbeda.

Plot sebenarnya bukan ujian masuk, melainkan melibatkan Priyanka Chopra sebagai Victoria Leeds, konglomerat yang memborong semua properti di pantai areanya Mitch demi melancarkan usaha perdagangan narkobanya. Temuan beberapa kemasan kecil mencurigakan di pantai membuat Mitch berniat menyelesaikan kasus ini, meski ditentang oleh bosnya (Rob Huebel) dan polisi setempat (Yahya Abdul-Mateen II) yang gampang sekali tersinggung.

Plot mengenai penyelundupan narkoba adalah elemen paling menjemukan disini, tapi film memainkannya dengan serius. Bahkan penampilan over-the-top dari Chopra tak terlihat menghibur lagi. Sekuens aksi ledakan kapal dan kejar-kejaran boat terkesan seadanya; asal nempel karena ini adalah film komedi-AKSI. Perkembangan cerita seperti ini merupakan perkembangan cerita yang kita temukan, uhm, dalam setiap film aksi kelas B dan serial TV generik ala CSI. Begitu standar hingga saya kepikiran kenapa penulis naskah sampai repot-repot menggunakannya.

Karisma Johnson dan comic-timing dari Efron membuat beberapa leluconnya cukup mengena, khususnya saat Johnson memanggil Efron dengan nama ledekan seperti "Bieber", "One Direction", atau "High School Musical". Begitu juga dengan lelucon self-referential mengenai karakter yang bilang bahwa kenapa karakter seksi selalu terlihat bergerak dalam slow-motion. Kemunculan Hasselhoff di momen tak terduga lumayan menyengat saraf tawa, namun kasihan dengan Anderson yang mendapat cameo sepele. Mungkin diberi kesempatan untuk film sekuelnya. Kalau ada.

Humor referensi yang meledek diri sendiri tak pernah tak lucu, namun Baywatch membuktikan bahwa sebuah film komedi yang benar-benar lucu butuh lebih dari itu. Ironis saat film yang meledek serialnya sebagai film yang cheesy dan receh berakhir menjadi film yang cheesy dan receh pula. Namun jika anda hanya ingin melihat Baywatch sebagai film dalam kalimat kedua dari paragraf pertama ulasan saya, saya tak bisa melarang anda.

Selasa, 08 Agustus 2017

Once Upon a Time in Venice (2017) ~ Review Film

Once Upon a Time in Venice berisi berbagai petualangan absurd yang hampir membuatnya menjadi film sinting. Sekuens aksinya yang paling berkesan adalah Bruce Willis yang mengendarai skateboard di jalanan, saat tengah malam, sembari di kejar polisi, dalam keadaan telanjang, lalu menyelipkan pistol di pantatnya. Iya, ini lelucon ofensif. Film ini sendiri sebenarnya banyak berisi humor vulgar, rasis, dan seksis yang biasanya membuat admin Movie Mania meringis. Sebagai tambahan, Movie Mania juga akan melihat grafiti tentang oral sex dan tea-bagging (nanti Movie Mania akan tahu sendiri, admin takkan menjelaskannya). Itulah kenapa LSF memberinya rating "21+".

Namun bagi admin Movie Mania lucu karena ini Bruce Willis. Leluconnya bekerja karena Bruce Willis. Willis, yang dulu pernah menjadi bintang film aksi kelas A tapi belakangan ini banyak bermain dalam film kelas C dan D seperti yang dilakukan Nicolas Cage, membuat peran memalukan ini tak begitu memalukan, malahan jadi terlihat lucu. Mungkin karena personanya yang membumi, tidak mencoba terlalu berlebihan untuk terlihat lucu. Ia natural. Lelucon ofensif tak terasa begitu menyengat. Saat Willis melakukannya, kita hanya berpikir, "Dasar tua bangka gila."

Willis bermain sebagai Steve, detektif swasta yang berlokasi di Venice. Bukan, bukan yang di Itali, tapi sebuah pantai di Los Angeles. Ia jauh dari kesan detektif yang kompeten. Sehari-hari ia berdandan seperti anak muda, kemana-mana dengan skateboard, nongkrong dengan teman karibnya Dave (John Goodman), dan sesekali tidur dengan wanita. Karena wanita teranyar yang ditidurinya adalah saudari dari dua pria kekar yang sangar, maka Willis harus kabur dengan menerobos jendela (dalam keadaan telanjang) dan ber-skateboarding seperti yang tadi admin bilang.

Steve kemudian dimintai tolong oleh seorang pakar properti bernama "Lew the Jew" (Adam Goldberg) untuk menyelidiki orang yang mencoreti gedung yang akan dijualnya dengan grafiti vulgar. Dan karena belum ada cukup masalah bagi Steve, anjing miliknya baru saja diculik oleh raja narkoba lokal, Spyder (Jason Momoa, yang sangat bagus untuk urusan menggeram) yang meminta tebusan tiga ribu dolar; empat ribu dolar karena Steve juga merusak jendela rumah Spyder.

Film dihabiskan dengan Steve yang melakukan deal kesana-sini di Venice kepada beberapa orang, mulai dari penipu, pebisnis, teman lama, gangster, rentenir, sampai waria. Semakin ia berusaha menyelesaikan masalah, semakin kacau situasinya, karena Steve adalah pria slenge'an yang suka berbuat serampangan. Di satu titik, ia masuk begitu saja ke sarang gangster dengan menyamar sebagai pengantar pizza, lalu mencuri mobil milik Spyder. Atau meminjam uang pada rentenir, lalu harus meminjam lagi pada orang lain untuk melunasi hutang yang tadi karena ia sudah ditagih debt collector. Meski begitu, stake-nya ringan sekali. Tak ada kesan bahwa karakter Steve benar-benar terlibat bahaya atau tidak.

Ada banyak aktor yang cuma numpang lewat untuk melontarkan satu atau dua lelucon. Kal Penn menjadi kasir minimarket. David Arquette adalah seorang pecandu. John Goodman lucu sebagai pemilik kedai peralatan surfing, namun subplot mengenai perceraian dan perebutan harta gono-gininya sama sekali tak nyambung. Ada pula Famke Jenssen yang disia-siakan sebagai adik Steve yang baru saja ditinggal suami. Yang lebih sekenanya adalah Thomas Middlemitch sebagai partner Steve yang canggung dan suka ngedumel sendiri (tak jauh berbeda dengan perannya dalam serial Silicon Valley), yang sepertinya bisa dihilangkan sama sekali. Namun ia punya andil sebagai narator bagi film.

Meski banyak yang dialami karakter Steve, film ini nyaris tak punya plot sungguhan selama 94 menit durasi. Penulisannya berantakan karena ada banyak poin plot yang tak ada hubungannya satu sama lain. Timbul kesan bahwa film ini lebih banyak dibuat di ruang editing daripada dari skrip. Filmnya semacam dibangun dari lelucon random, tapi untungnya mengena. Movie Mania tahu, film ini masuk dalam kategori hancur tapi admin tak bosan saat menontonnya.

Mungkinkah sutradara/penulis Mark Cullen dan Robb Cullen ingin menyasar petualangan absurd seperti The Big Lebowski? Hmm, masih jauh. Once Upon a Time in Venice susah untuk ditanggapi dengan serius karena kemalasan dalam filmmaking-nya. Admin Movie Mania bisa membayangkan jika film ini dibuat dengan lebih kompeten maka ia bisa menjadi film komedi yang bagus. Untuk sementara, admin hanya akan menikmati Bruce Willis ber-skateboarding sambil telanjang.

Jumat, 06 November 2015

PITCH PERFECT 2 (2015)


Tiga tahun lalu Pitch Perfect membuka jalan bagi Hollywood untuk kembali mendatangkan timbunan uang lewat sajian musikal. Berbekal lagu-lagu radio hits yang dikemas dalam bentuk akapela, film ini menjadi sleeper hit. Pengaruhnya pun begitu kuat pada pop culture dengan begitu banyaknya orang yang meng-cover ulang lagu When I'm Gone dengan bermodalkan gelas plastik sebagai perkusi (even Kira Kazantsev won Miss America 2015 after performing "Happy" with cup as a percussion). Tapi harus disadari bahwa kesuksesan film pertamanya cukup banyak dipengaruhi oleh elemen kejutan yang dirasakan penonton. Saat itu mayoritas dari kita tidak menyangka akapela bisa menjadi sesuatu yang keren dan gelas bisa menjadi perkusi yang menghasilkan ritme menarik. Saat itu juga adalah kali pertama penonton berkenalan dengan anggota Barden Bellas yang memiliki karakterisasi berbeda-beda dengan keunikan masing-masing. Kita dikejutkan oleh semua hal "segar" itu.

Sebagai sekuel, akan percuma bagi Pitch Perfect 2 untuk mengulangi semua itu. Sayangnya hal itulah yang pada mayoritas bagian dilakukan oleh film ini. Tentu ceritanya sudah berbeda, dimana Barden Bellas kini semakin dikenal sebagai grup akapella paling populer di Amerika Serikat khususnya setelah tiga kali beruntun memenangkan lomba nasional. Bahkan mereka mendapat kesempatan tampil di Kennedy Center dalam rangka peringatan ulang tahun Presiden Obama. Namun kesempatan besar itu justru dapat menjadi awal kehancuran mereka setelah kecelakaan memalukan yang menimpa Fat Amy (Rebel Wilson). Akibatnya The Bellas mendapatkan skorsing dan menjadi bahan olok-olok masyarakat. Satu-satunya cara mendapatkan reputasi mereka kembali adalah dengan memenangkan kejuaran dunia akapela yang akan diadakan di Kopenhagen, Denmark.

Dasar cerita dalam naskah tulisan Kay Cannon sebenarnya sudah bergerak ke arah yang tepat. Kompetisi lebih besar, konflik yang bukan lagi bertemakan "membangun" tapi "mempertahankan", hingga fakta bahwa anggota The Bellas akan segera lulus yang berarti kejuaraan dunia itu mungkin bakal menjadi penampilan terakhir mereka. Ketiganya menjadi formula yang sempurna untuk menggerakkan cerita kearah baru sekaligus modal untuk membangun kisah yang hangat, bahkan bisa jadi emosional. Meminjam istilah Fast & Furious bisa jadi ini merupakan one last ride bagi The Bellas. Tapi sungguh disayangkan kesemua aspek tersebut pada akhirnya tidak ada yang tersaji maksimal. Daripada melakukan eksplorasi kuat, Elizabeth Banks yang kali ini juga berperan sebagai sutradara lebih memilih menjadikan ceritanya sebagai jembatan untuk adegan musikal satu ke yang lain. Konflik tidak pernah benar-benar mencapai titik puncak, dan resolusi hadir begitu cepat lewat cara yang terkesan menggampangkan. Momen graduation dan perpisahan bisa jadi bagian paling emosional, tapi yang kita dapat hanya adegan singkat saat The Bellas berfoto bersama setelah sebelumnya menyanyikan lagu "When I'm Gone" bersama di depan api unggun.

Pitch Perfect 2 seolah melupakan penggalian karakter yang jadi kekuatan penting film pertamanya. Baik mereka yang mendapatkan sub-plot maupun para pemeran pembantu yang tugasnya menyegarkan suasana tidak lagi semenarik dulu. Mereka yang mendapat konflik personal menderita akibat permasalahan yang sama dengan cerita utama film, yakni tidak adanya penghantaran sekaligus resolusi konflik yang mumpuni. Beca (Anna Kendrick) memegang peran penting dalam perpeahan yang terjadi dalam The Bellas saat ia diam-diam magang di sebuah perusahaan rekaman. Tapi perselisihan nyata berkaitan akan hal itu hanya benar-benar terjadi satu kali, dan tidak sampai 10 menit kemudian kita sudah mendapat penyelesaian dengan cara yang amat menggampangkan. Fat Amy yang mendapat porsi romansa disini tidak lebih dari usaha memberikan lebih banyak screen time pada karakter favorit penonton. Sedangkan Emily (Hailee Steinfeld) si anggota baru mendapati tidak adanya ruang lagi bagi pengembangan sub-plot miliknya. Padahal Emily adalah karakter menarik: gadis cantik yang berbakat tapi clumsy dan mendapati impiannya bergabung dengan The Bellas tidak seindah angan-angan. Terlalu banyak yang coba diceritakan film ini hingga tidak ada satupun yang maksimal walau potensi tiap kisah begitu besar termasuk salah satunya "olok-olok" terhadap budaya cover akapela.

Saya juga dikecewakan oleh bagaimana para supporting character dihadirkan. Pada sosok mereka, faktor "kesegaran" yang diawal saya sebutkan benar-benar berpengaruh. Lily (Hana Mae Lee) dengan tingkah absurd yang menjurus creepy adalah karakter favorit saya di film pertama. Kali ini porsi eksploitasi kegilaannya bertambah secara kuantitas tapi menurun secara kualitas. Masih ada beberapa adegan yang mengundang tawa, tapi efek kejut yang telah menurun jelas amat berpengaruh. Ditambah lagi Elizabeth Banks nampak kurang mampu memaksimalkan sosok Lily. Now she's just weird but not hillarious, and I missed her beatbox performance. Stacie (Alexis Knapp) lebih parah lagi. Setelah pembuka yang cukup efektif (that "I'll do whoever" joke) karakternya nyaris menghilang dari peredaran. Hanya Flo (Chrissie Fit) sang imigran dari Guatemala lewat cerita-cerita sedihnya (baca: ekstrim) yang cukup berhasil dimaksimalkan. Permasalahan karakter ini berujung fatal, karena disaat konfliknya membahas tentang kebersamaan, penonton justru tidak lagi terlalu terikat dengan mereka semua, baik secara individu maupun satu kesatuan Barden Bellas.

Tapi biar bagaimanapun Pitch Perfect 2 adalah komedi musikal, dengan aspek musikal sebagai faktor yang lebih dititik beratkan. Meski lagi-lagi tidak sekuat film pertamanya, momen-momen musikal yang dimiliki film ini masih terasa menyenangkan. Saya masih beberapa kali dibuat ingin berdiri, menghentakkan kaki, ikut bernyanyi dan menari menikmati rangkaian lagu yang dibawakan. Puncaknya adalah pada klimaks kejuaraan dunia yang menjadi pertarungan antara The Bellas dengan grup akapela dari Jerman, "Das Sound Machine". Tidak hanya antara keduanya, klimaks itu juga menjadi gambaran sempurna pertarungan antara kesempurnaan teknik dengan kesederhanaan yang menggunakan hati. Sepanjang film, The Bellas disibukkan dengan berbagai koreografi dan gimmick unik yang pada akhirnya justru merugikan mereka. Pada kejuaraan inilah mereka menemukan kembali esensi harmoni The Bellas lewat sebuah nomor musikal yang meski baik secara teknis (opening clap-nya jelas diniati sebagai the next "cups song moment"), tapi performance dari hati yang terasa emosional itu adalah daya pikat utamanya. Setidaknya setelah rangkaian konflik yang kurang maksimal, film ini ditutup dengan klimaks hingga ending memuaskan.

(source : http://movfreak.blogspot.co.id/2015/05/pitch-perfect-2-2015.html)

Judul film : Pitch Perfect 2
Rated : PG-13 / Dewasa
Durasi : 115 menit
Genre : Comedy, Music
Tanggal Rilis : 15 Mei 2015 (USA)
Rating : 6,6/10
Sutradara : Elizabeth Banks
Script : Kay Cannon, Mickey Rapkin
Pemain : Anna Kendrick, Rebel Wilson, Hailee Steinfeld
Bahasa : Inggris
Negara : USA

DOWNLOAD FILM PITCH PERFECT 2 DISINI

DOWNLOAD SOUNDTRACK PITCH PERFECT 2 DISINI




Pitch Perfect (2012)


Suatu  komedi romantis remaja berbalut musikal? Jelas bukan faktor baru, apalagi di masa dimana Glee adalah salah satu serial televisi paling disukai semacam kini ini. Faktor itu jugalah yang membikin saya pernah malas untuk melihat Pitch Perfect ini. Mesikipun film garapan sutradara Jason Moore ini lumayan laku di pasaran serta mendapat pujian dari para kritikus saya tetap ragu bakal dapat menyukai film ini. Formula standar mengenai suatu  grup yang mengikuti kompetisi musik rasanya sudah busuk serta terlalu tak jarang diangkat, meskipun dalam Pitch Perfect ada inovasi dimana grup musiknya bukan sekedar vocal group melainkan suatu  grup akapela. Pada akhirnya saya tetap melihat film ini dengan ekspektasi yang tak terlalu tinggi. Pada akhirnya faktor tersebut justru membikin saya sanggup menikmati film ini sebagai suatu  sajian yang sangat menghibur walau punya naskah yang biasa saja. Dalam Pitch Perfect kami tak bakal dibawa ke masa SMA semacam pada Glee, tapi di masa kuliah yang dalam suatu  adegan (yang dengan cara tak langsung menyinggung Glee) disebutkan sebagai masa yang lebih serius serta bukan lagi main-main.

Universitas Barden memiliki dua grup akapela. Yang pertama adalah Treblemaker yang adalah juara bertahan lomba akapela mahasiswa tingkat nasional serta diisi oleh para laki-laki yang rutin tampil atraktif. Yang kedua adalah Bellas yang tampil rutin dengan imej anggun serta cantik tetapi penampilannya monoton. Di final nasional tahun lalu pernah terjadi peristiwa memalukan bagi Bellas dimana Aubrey (Anna Camp), salah satu anggotanya muntah di tengah pertunjukkan. Alhasil tahun ini disaat Aubrey menjadi ketua ia berusaha mencari anak buah paling baik untuk memenangkan kompetisi. Seusai melewati suatu  auidisi, terkumpul anggota-anggota baru termasuk Becca (Anna Kendrick) yang menjadi tokoh sentral film ini. Becca adalah seorang gadis yang berimpian menjadi seorang DJ di Los Angeles. Bellas tahun ini tak semacam tahun-tahun sebelumnya sebab tak sedikit diisi oleh orang-orang yang unik bahkan aneh, mulai dari Becca yang susah diatur serta rutin menyuarakan perubahan, Fat Amy (Rebel Wilson) yang berbadan tambun serta cerewet, Cynthia (Ester Dean) gadis kulit hitam eksentips yang juga seorang lesbian, Stacey (Alexis Knapp) yang rutin berpikir mengenai seks, hingga Lily (Hana Mae Lee) yang bicara dengan sangat pelan serta rutin mengatakan hal-hal aneh.

Jelas tak ada yang spesial dari cerita Pitch Perfect. Seorang gadis pemberontak yang kemudian menemukan dunia miliknya serta yang tentu menemukan cintanya. Tetap ada kisah persahabatan sejati, kisah mengenai pendobrakan batas serta perubahan, serta segala hal-hal klise lain yang sudah tak jarang kami temui di film-film yang bertemakan kompetisi apapun bentuknya. Saya juga tak menemukan perbedaan mengenai setting di dunia kuliah yang digunakan disini. Tak ada bedanya dengan film-film sama yang punya latar SMA, tetap ringan dengan konflik yang tak jauh tak sama. Kisahnya predictable serta segala konflik yang ada juga berakhir dengan sangat mudah serta begitu cepat. Drama yang disaapabilan juga tak terlalu menyentuh, begitu pula dengan kisah romansanya yang terasa bagai tempelan serta tak terasa segi romantisnya. Sehingga apa yang membikin saya tak memberbagi rating kurang baik pada film ini? Jawabannya adalah pada peristiwa pemilihan musik, peristiwa komedi serta tokoh-tokoh yang timbul di film ini.


Musik yang ditampilkan sanggup terasa begitu membahagiakan didengar, apalagi dengan aransemen akapela yang membikin tiap lagunya menjadi punya keunikan tersendiri. Lagu-lagu dari Miley Cyrus, Jessie J, Bruno Mars sampai David Guetta dibawakan dengan cara yang tak serupa dari yang selama ini kami dengar. Faktor tu membikin tiap peristiwa kompetisi musiknya rutin luar biasa. Untuk komedinya sendiri, saya merasa Pitch Perfect bagai versi musikal dari Bridesmaids. Ya, film ini juga menampilkan deretan karakter wanita yang saling akrab serta meperbuat beberapa faktor konyol satu serupa lain. Untuk urusan komedi, film ini sanggup membungkusnya dengan begitu baik. Saya beberapa kali dibangun tertawa lepas oleh sajian komedi yang sebetulnya tak terlalu cerdas tapi punya timing yang cocok. Yep, comedy is all about timing.

Untuk karakter yang ada sebetulnya tak punya karakterisasi yang mendalam, tetapi bagi saya semuanya punya ciri khas yang mengena serta manjur untuk setidaknya menghantarkan peristiwa komedi dengan baik. Yang paling tak sedikit mendapat pujian adalah Rebel Wilson sebagai Fat Amy yang punya kepercayaan diri luar biasa serta punya mulut yang seenaknya, mengingatkan saya pada peran Melissa McCarthy di Bridesmaids. Dirinya konyol, lucu tetapi bertalenta. Beberapa obrolan luar biasa lucu tak jarang terlontar (lari vertikal?). Kemudian ada Hana Mae Lee sebagai Lily yang punya volume bicara super rendah tapi rutin melontarkan kata-kata aneh yang sanggup memancing tawa. Anna Kendrick sendiri lumayan baik sebagai karakter mutlak yang mudah disukai. Aktris lainnya juga lumayan baik membawakan karakter mereka, sampai semuanya menjadi klimaks di suatu  adegan super acak-acakan serta super lucu yang berhubungan dengan muntah menjelang klimaks.Overall ini merupakan suatu  tontonan ringan yang super menghibur. Musik menyenangkan, pemain yang keren serta komedi yang begitu lucu, gadis-gadis ini memberbagi waktu yang membahagiakan bagi saya.

(source : http://movfreak.blogspot.co.id/2013/01/pitch-perfect-2012.html)

Judul film: Pitch Perfect (2012)
Rated : PG-13 / Remaja
Durasi : 112 menit
Genre : Komedi, Musical, Romance
Tanggal rilis : 5 Oktober 2012 (USA)
Rating : 7,2/10
Sutradara : Jason Moore
Script : Kay Cannon
Pemain : Anna Kendrick, Brittany Snow, Rebel Wilson
Bahasa : Inggris
Negara : USA

DOWNLOAD FILM PITCH PERFECT DISINI

DOWNLOAD SOUNDTRACK PITCH PERFECT DISINI




Minggu, 08 Maret 2015

The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015) ~Ketika SpongeBob dan Kawan-Kawan Keluar Dari Air~

Adegan dibuka dengan Seorang bajak laut yang bernama Burger-Beard (Antonio Banderas) beserta dengan bandnya yang terdiri dari burung-burung camar melakukan perjalanan ke sebuah pulau untuk mendapatkan sebuah buku ajaib yang setiap teks yang ditulis akan menjadi kenyataan. Setelah melewati beberapa rintangan berbahaya, Burger Beard akhirnya mendapatkan buku ajaib tersebut yang tenyata isinya bercerita tentang SpongeBob SquarePants, si spons laut yang punya sifat polos layakna anak-anak. SpongeBob kesehariannya bekerja sebagai koki di Krusty Krab, sebuah restoran cepat saji di Bikini Bottom. SpongeBob sangat mencintai pekerjaannya tersebut dan setia menjaga formula rahasia Krabby Patty dari Plankton, musuh bebuyutannya Mr. Krabs.

Di kota bawah laut Bikini Bottom, Krusty Krab diserang oleh Plankton. Setelah pertempuran militer dengan makanan raksasa dan bumbu, Plankton berpura-pura menyerah: ia menggunakan umpan untuk menawarkan kepada Mr. Krabs yang emang serakah sekeping koin sen dollar, yang ternyata adalah palsu. Setelah Mr, Krabs memasukkan koin tersebut ke brankas, Plankton yang bersembunyi di kepingan koin tersebut langsung beraksi mencuri formula Krabby Patty yang disimpan di lemari besi tersebut. Plankton hampir berhasil mencuri formula rahasia tersebut tapi SpongeBob menangkapnya, dan terjadi rebutan formula rahasia sampai tiba-tiba CLING, formula rahasia tersebut hilang entah kemana...

Tanpa formula rahasia, SpongeBob tidak dapat membuat Krabby Patties lagi, dan ketiadaan Krabby Patties di dunia bawah laut Bikini Bottom membuat para pelanggan menjadi rusuh. Suasana Bikini Bottoms menjadi gawat dan berubah mnjadi neraka. Mr. Krabs, sang pemilik formula rahasia menuduh Plankton yang menghilangkan formula rahasia dan menghasut penduduk Bikini Bottom untuk menghukum Plankton. SpangeBob yang percaya kalau Plankton tidak bersalah, menyelamatkannya dengan bubble, dan mereka melarikan diri dari penduduk yang marah. Penduduk yang kalap, memburu mereka berdua.

Lalu, kalau memang Plankton tidak bersalah, siapakah yang telah mencuri formula rahasia Krabby Patty ? Dan berhasilkah SpongeBob menemukan kembali formula rahasia tersebut dan memulihkan kembali kedamaian Bikini Bottom yang berubah rusuh laksana neraka ??


The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water adalah film animasi Amerika Serikat yang tayang pada tahun 2015 dan dirilis pada tanggal 6 Februari 2015 di bioskop-bioskop Amerika Serikat. Sedangkan untuk bioskop-bioskop Indonesia, film ini dijadwalkan tayang pada tanggal 18 Maret 2015. Film ini diproduksi oleh Nickelodeon Movies dan Paramount Animation. Pengisi suara dalam film itu diantaranya adalah aktor serial TV terkenal Tom Kenny, Bill Fagerbakke, Rodger Bumpass, Clancy Brown, dan Carolyn Lawrence.

Film yang mengangkat kisah SpongeBob dan teman-temannya dari Bikini Bottom seperti Patrick si Bintang Laut, Sandy sang Tupai, Mr. Krabs, Plankton, dan Squidward ini menggabungkan animasi CGI dan live act dari aktor2 manusia yang tampil di awal adegan dan beberapa menit adegan klimaks di akhir cerita yang menggambarkan SpongeBob dan kawan-kawannya naik ke daratan dalam rangka mencari formula rahasia, yang lalu berubah menjadi rombongan sosok superhero pada saat berjuang memperebutkan formula rahasia.

Movie Mania penggila film umunya dan penggemar animasi SpongeBob khususnya, pasti tidak akan melewatkan film animasi asyik ini yang dijadwalkan akan tayang di bioskop-bioskop Tanah Air, nanti pada tanggal 18 Maret 2015. Dan segera jadwalkan waktu menonton Anda ke bioskop pada tanggal tersebut, jangan sampai ketinggalan...

Namun, kalau Movie Mania tidak sempat untuk pergi ke bioskop nanti pada saat film The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water ini tayang, dari sekarang sudah bisa mengoleksi filmnya melalui blog ini, meskipun qualitasnya masih cam tapi lumayanlah... :p

KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN LINK FREE DOWNLOAD FILM THE SPONGEBOB MOVIE: SPONGE OUT OF WATER


Kamis, 05 Maret 2015

Paddington (2015) ~Aksi Lucu Seekor Beruang Peru~

Dikisahkan, seekor beruang muda Peruverian yang mempunyai hasrat untu tinggal di sebuah kota yang telah lama ia idam-idamkan. Berangkat dari suatu hutan di kawasan Peru, ia menuju London dengan menumpang sebuah kereta untuk mencari rumah baru. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya ia tiba di sebuah stasiun yang cukup terkenal di London, yaitu Paddington.

Kota London ternyata sangat berbeda dengan apa yang ia perkirakan. Ia benar-benar asing dengan tempat tersebut. Ia pun segera mencari tahu, dimana ia akan tinggal. Di tengah kebingungan yang melanda dirinya, si beruang muda ini akhirnya menemukan ide untuk mencari orang yang mau mengadopsinya. Lalu, ketemulah dengan keluarga Brown, orang yang bersedia membawa si beruang muda ke rumahnya.

Kejadian-kejadian lucu terjadi setelah ia tinggal di rumah keluarga Brown, mulai dengan bertingkah aneh namun tampak konyol dan lucu.

Tapi, tiba-tiba, ketenangan beruang Paddington bersama keluarga Brown terusik dengan munculnya seseorang dari museum. Siapakah orang tersebut ??


Dari sinopsis film Paddington tadi diatas, Movie Mania pasti merasa cukup penasaran dengan tingkah konyol dan menggemaskan dari beruang ini, atau ingin tahu tujuan dari sang tokoh jahat terhadap beruang ini... iya kan ??

Kalau iya, tonton aja filmnya yang sudah tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak dari pertengahan Januari 2015 yang lalu. Mungkin, film ini sudah turun tayang. Kalau belum sempat menontonnya di bioskop, tinggal mendownloadnya di sini. Nanti Admin Movie Mania akan memberikan link free download film Paddington. Jangan khawatir dech ya... hehehehehe


Berbicara soal film Paddington, pembuatan film ini tidaklah main-main, terbukti dengan gerak yang diadaptasi langsung dari sang aktor asli yang diperankan oleh Collin Firth yang direkam menggunakan sensor, jika Movie Mania pernah melihat behind the scene film Ringo, pasti tidak akan asing dengan metode yang digunakan di film Paddington ini.

Sudah menjadi racikan umum, sebuah cerita film takkan seru tanpa adanya tokoh jahat (antagonis). Begitupun di film komedi keluarga yang menggabungkan film live action dengan CGI. dan, siapakah yang menjadi tokoh jahat di film Paddington ?? Tonton sendiri aja yah... Yang pasti si pemeran tokoh jahat ini, adalah seseorang yang kemampuan aktingnya sudah tidak diragukan lagi. Pokoknya top markotop dah...


Paddington sendiri adalah sebuah film komedi 2014, yang disutradarai oleh Paul King dan ditulis oleh King dan Hamish McColl dan diproduksi oleh David Heyman. Film tersebut berdasarkan pada Paddington Bear karya Michael Bond yang disebutkan dalam film tersebut tampil sebagai Kindly Gentleman. Film tersebut dibintangi oleh Hugh Bonneville, Sally Hawkins, Julie Walters, Jim Broadbent, Peter Capaldi dan Nicole Kidman, dengan Ben Whishaw sebagai pengisi suara Paddington. Film tersebut dirilis di Britania Raya pada 28 November 2014, dan kemudian dirilis di AS pada 16 Januari 2015




Selasa, 24 Februari 2015

Birdman ~Ketika Superhero Pensiun~

Awalnya BIRDMAN merupakan suatu film yang tenggelam tanpa berita yang lalu tiba-tiba melambung kembali pada perhelatan Oscar setelah memenangkan penghargaan bergengsi sebagai Film Terbaik. Dalam beberapa bulan terakhir tidak ada update terbaru dari produksi Regency ini. Mereka tampaknya semacam menghilang tertutup oleh berita dari berbagai sinema layar lebar penghasil triliunan rupiah di box office maupun seluruh dunia.

Pada awal 'kemunculannya' project dengan nama resmi BIRDMAN, OR THE UNEXPECTED VIRTUE OF IGNORANCE ini sudah luar biasa perhatian lumayan besar. Dengan review positif serta dua trailer pendulang rasa penasaran, film ini bahkan sudah mencetak rating tinggi bahkan sebelum ada konferensi pers resmi agenda perilisan.


Bercerita mengenai aktor superhero yang diperankan oleh Michael Keaton, film ini memberbagi fotoan bahwa ceritanya bakal lucu serta luar biasa. Semacam terkesan dalam trailer, ceritanya terbukti bukan lazim untuk dijadikan kisah bertema superhero mainstream saat ini. Bakal namun di situlah luar biasanya, bahkan para kritikus pun tidak ragu untuk memberbagi preview positif BIRDMAN, OR THE UNEXPECTED VIRTUE OF IGNORANCE.


Tidak hanya itu, project garapan Alejandro González Iñárritu sutradara peraih Oscar sebagai Sutradara Terbaik melalui film BIRDMAN, ini terkesan lebih dewasa serta dramatis dibandingkan film bertema superhero lainnya. Sang aktor Michael Keaton bahkan memuji kecanggihan Alejandro atas karyanya. Michael mengaku belum sempat melihat filmnya sendiri sebelumnya, namun untuk keterlibatannya disini, ia sudah menyaksikan dua setengah kali untuk hasil kerjanya ini.

Tak hanya cerita, film ini dari sisi teknis juga sangat memukau, mereka bakal memakai scene panjang dalam sekali take. Didukung oleh para nominator serta peraih Oscar, deretan nama pekerja di balik sorotan kameranya tidak kalah berkilau dengan para aktor serta aktrisnya. Sehingga untuk sementara BIRDMAN tetap aman dalam radar para moviegoers yang sudah menanti-nanti kesegaran di layar lebar.

Selain Michael Keaton, bermain juga pacar dari Spider-Man, Emma Stone. Tidak hanya itu tetap ada berbagai nama tenar lainnya, semacam Edward Norton, Naomi Watts, serta Andrea Riseborough. Penasaran dengan hasil akhir filmnya? BIRDMAN, OR THE UNEXPECTED VIRTUE OF IGNORANCE telah tayang di bioskop Amerika Serikat mulai tanggal 17 Oktober 2014, untuk bioskop-bioskop Indonesia, belum ada tanggal pasti kapan mau tayang. Namun meskipun begitu sudah bisa di dapat link free downloadnya, seperti misalnya DISINI...

Minggu, 14 September 2014

Download film : Teenage Mutant Ninja Turtles (2014)


Teenage Mutant Ninja Turtles adalah film laga petualangan komedi Amerika tahun 2014. Disutradarai oleh Jonathan Liebesman dan dibintangi oleh Megan Fox, Johnny Knoxville, William Fichtner, Alan Ritchson. Film ini rilis pada tanggal 8 Agustus 2014.

Sinopsis Teenage Mutant Ninja Turtles:

Sinopsis
Masa depan kota New York menjadi tidak jelas saat kota tersebut telah dikuasai oleh kejahatan. The Shredder (William Fichtner) dan kelompoknya berhasil mengusai kota dengan menyogok polisi dan politisi. Harapan datang lewat empat bersaudara yang awalnya terbuang dan tidak diakui Teenage Mutant Ninja Turtles. Bersama reporter cantik April O'Neil (Megan Fox) dan juru kamera Vernon Fenwick (Will Arnett), Teenage Mutant Ninja Turtles berusaha menyelamatkan kota dan mengungkap rencana jahat The Shredder.

Link Download Teenage Mutant Ninja Turtles:

Link Free Download film Teenage Mutant Ninja Turtles ada DISINI





Minggu, 24 Agustus 2014

Jim Carrey dan Jeff Daniel, Memparodikan Scarlet Johansson Di Lucy, Dalam Poster Dumb And Dumber To

Film terbaru Universal yang bertajuk 'Dumb and Dumber To' baru – baru ini merilis sebuah poster. Film komedi yang disutradarai oleh Bobby dan Peter Ferrelly ini menampilkan wajah para pemeran utama dalam posternya. Lucunya, poster yang dirilis tersebut memparodikan film laga Scarlett Johansson yang berhasil masuk dalam jajaran box office.

Dilansir dari laman Aceshowbiz, melihat kesuksesan film Johansson, 'Dumb and Dumber To' terinspirasi dan sengaja memparodikan film ‘Lucy’ melalui poster film. Seperti diketahui di film ‘Lucy’ Johansson dapat mengakses 100 persen dari kapasitas otaknya setelah salah menelan obat sementara Jim Carrey dan Jeff Daniels hanya bisa menggunakan 1 persen dari otak mereka

"Rata-rata orang menggunakan 10% dari kapasitas otak mereka. Bayangkan apa yang bisa dilakukannya dengan 1%” ungkap tulisan di poster 'Dumb and Dumber To' yang baru saja rilis. Sementara di poster ‘Lucy’ tertulis kalimat “Rata-rata orang menggunakan 10 persen dari kemampuan otak mereka. Bayangkan jika dia melakukannya dengan 100 persen,"

Dua film berbeda genre tersebut diproduksi oleh Universal Pictures. 'Dumb and Dumber To' mengisahkan tentang dua sahabat yakni Lloyd dan Harry yang melakukan petualangan untuk mencari anak perempuan Harry yang telah diadopsi oleh orang lain.

'Dumb and Dumber To' dibintangi oleh Jim Carey, Jeff Daniels, Angela Kerecz, Kathleen Turner, Jennifer Lawrence, Laurie Holden, Rachel Melvin, dan Rob Riggle. Rencananya 'Dumb and Dumber To' siap rilis di Amerika Serikat pada 14 November 2014 mendatang.

Dan gambar berikut ini adalah poster film Dumb and Dumber To serta Lucy :


Kamis, 21 Agustus 2014

Bagaimana Nasib 'Mrs. Doubtfire 2' Setelah Tragedi Bunuh Dirinya Robin Williams ?


Aktor kawakan Robin Williams semula didapuk untuk membintangi karakter pengasuh dalam sekuel kedua Mrs. Doubtfire yang rilis pada 2016 mendatang. David Berenbaum, selaku penulis naskah Mrs. Doubtfire juga mengungkapkan bahwa dirinya pernah bertemu Williams dalam beberapa bulan terakhir untuk mengerjakan draft naskah Mrs. Doubtfire 2.

Sayangnya, sebelum memulai produksi film yang hits tahun 1993 ini harus kehilangan sang tokoh utama yang diperankan oleh Robin Williams, pria berusia 63 tahun tersebut diketahui tewas dirumahnya akibat bunuh diri. Lantas, bagaimana nasib film Mrs. Doubtfire 2 ?

Dilansir dari laman Aceshowbiz, film yang rencananya akan digarap kembali oleh sutradara Chris Columbus ini besar kemungkinan batal diproduksi. Suasana masih berduka, Chris sangat kehilangan aktor terbaik sekaligus sahabat terdekatnya. "Penampilannya selalu mengejutkan dan berbeda, bakat aktingnya seperti datang dari suatu tempat spiritual dan dunia lain. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang pantas dijuluki "jenius", " ungkap Chris.

"Aku berteman selama 21 tahun. Anak-anak kami tumbuh bersama, ia mengilhami ku untuk tinggal di San Francisco dan aku menyayanginya seperti saudara. Dunia jadi tempat yang lebih baik karena ada Robin” jelas Chris.

Sementara itu, selain terlibat dalam Mrs. Doubtfire 2 mendiang Robin Williams juga terlibat dalam beberapa judul film lainnya yang rencananya akan dirilis dalam waktu dekat , film tersebut adalah Night at the Museum: Secret of the Tomb, Boulevard, Merry Friggin, Christmas dan Absolutely Anything.



Selasa, 19 Agustus 2014

The Nut Job (2014) ~Misi Besar Berbahaya: Pencurian Kacang~


Surly adalah seorang tupai yang paling banyak dibenci oleh hewan-hewan lain di taman kota Oakton karena tingkah lakunya. Awalnya dia hanya dibenci kemudian berubah menjadi lebih parah ketika semua hewan di taman kota dibawah kepemimpinan Raccoon susah payah mengumpulkan makanan untuk persedian musim dingin dan Surly beserta Buddy seekor tikus teman baiknya hanya mengumpulkan makanan untuk diri mereka sendiri. Tidak hanya itu saja, akibat ulah dari Surly pun cadangan makanan yang telah dikumpulkan didalam pohon Oak terbakar habis tanpa tersisa. Akibat dari ulahnya kini dia pun diusir dari taman kota dan harus bertahan hidup di kota.

Kehidupan di kota sangatlah keras, banyaknya manusia belum lagi ancaman dari tikus-tikus kota yang membuat Surly menjadi tidak aman. Tapi dibalik itu semua ternyata Surly dan Buddy tanpa sengaja menemukan sebuah toko kacang yang hanya menjadi kedok dari kelompok mafia yang ingin mencuri sebuah bank. Berkat tidak kesengajaan menemukan tempat ini Surly pun berencana untuk mencuri kacang-kacang itu. Tapi kemudian Andie dan Grayson yang ditugaskan Raccoon untuk mencari cadangan makanan menangkap basah rencana Surly yang membuat Surly mau tidak mau harus menjalankan rencana mencuri kacang bersama Andie dan Grayson.

The Nut Job sebenarnya adalah sebuah film animasi yang mempunyai dua jalan cerita yang beriringan. Cerita utama tentang Surly dan mencuri kacang dan cerita keduanya adalah kelompok mafia yang ingin mencuri bank. Tapi sayangnya dua cerita ini malah membuat cerita di film ini menjadi tidak jelas. Belum lagi karakter-karakter yang menurutku juga tidak jelas malah cenderung konyol malah membuat menonton film ini menjadi sedikit emosi :p. Dan karena ini adalah film kerja sama Korea-Amerika maka di dalam film ini pun ditambahkan lagu yang sempat menjadi hits yaitu Gangnam Style ditambah tariannya yang sebetulnya malah membuat film menjadi tambah aneh.

Link Free Download film The Nut Job ada DISINI



Senin, 18 Agustus 2014

22 Jump Street (2014) ~Ulah Dua Polisi Bodoh Yang Lebih Gila~

Pada tahun 2012 silam, 21 JUMP STREET besutan Phil Lord dan Chris Miller sukses menghentak tangga box office. Mereka berhasil mengadaptasi serial televisi tahun 80-an berjudul sama, dengan cita rasa baru.

Sayangnya, Channing Tatum yang biasa bermain drama, mendadak harus melucu bersama Jonah Hill sebagai pasangan polisi yang ditugaskan menyamar di sebuah SMU untuk mengungkap peredaran obat bius jenis baru; HFS. Jujur saja, selain sajian aksi yang nanggung, performa Tatum juga kalah dari Hill hingga filmnya kurang memuaskan.

Dua tahun kemudian sekuelnya muncul dengan tajuk 22 JUMP STREET. Masih memasang nama Channing Tatum serta Jonah Hill sebagai Greg Jenko dan Morton Schmidt. Kisahnya pun tidak jauh berbeda, di mana Kapten Dickson (Ice Cube) memerintahkan mereka menyamar (lagi) di sebuah universitas untuk membekuk bandar narkoba.


Namun Michael Bacall selaku penulis skenario sepertinya paham betul bila kisahnya hanya sebatas itu, film akan menjadi sangat membosankan. Maka, dimulai dengan dialog sindiran mengenai payahnya kualitas sekuel, film ini berhasil melaju membuat penonton terjaga di kursi dari awal hingga film berakhir.

Menonton 22 JUMP STREET akan kembali mengingatkan kita pada beberapa adegan di film pertama. Namun di saat yang sama, karakternya sukses mengolok-olok apa yang terjadi sebelumnya dan membuat versi baru dengan lebih gila.

Dari segi komedi, sudah tak usah dibicarakan lagi bagaimana polisi bodoh macam Schmidt dan Jenko berhasil membuatmu tertawa terpingkal entah itu guyonan kasar atau tingkah bodoh lainnya. Dari segi drama pun begitu, unsur bromance antara dua tokohnya kini lebih matang serta mengikat. Dalam sebuah adegan diceritakan bila mereka berpisah dan kisah tersebut sukses membuat penonton terbawa emosi hingga turut kehilangan pemantik tawanya.

Sebagai sekuel, Phil Lord dan Chris Miller berhasil meningkatkan dosis tawa dan aksi dibanding pendahulunya. Channing Tatum serta Jonah Hill yang turut duduk di kursi produser, juga Ice Cube yang tak kalah ahli dalam mencuri frame, turut andil membawa level sekuel ini naik beberapa tingkat dengan twist dan kelokan yang mengejutkan.

Seolah belum ingin membuat penonton puas, pesan saya, jangan tinggalkan film sebelum film benar-benar selesai. Karena sepanjang credit title akan digeber sindiran lain tentang sebuah sekuel, hingga bonus after credit yang sangat sayang dilewatkan.

Link Free Download film 22 JUMP STREET ada DISINI

Senin, 14 Juli 2014

Journey to the West: Conquering the Demons (2013)

Film ini dibuka dengan seorang pria bersahaja disebuah perkampungan nelayan . Dia bercanda dengan putrinya yang masih kecil dan lucu. Sang putri kecil dan warga nelayan sekitar tidak sadar dengan bahaya yang mengancam sang ayah . Sang putri kecil malah takjub dan terpukau dengan maneuver ayahnya yang berakrobat diatas permukaan air.

Ketika warga sekitar menyadari bahaya yang sesungguhnya, seorang pendeta berilmu cetek berhasil menenangkan warga untuk sesaat dengan mengkambinghitamkan seekor ikan pari raksasa. Xuanzang (Wen Zhang) yang berada ditempat kejadian, mengingatkan bahwa ikan pari itu tidak bersalah dan siluman yang sesungguhnya berbahaya bagi desa itu masih berkeliaran di sungai. Penampilan Xuanzang yang tidak meyakinkan membuat peringatannya diabaikan , dan malah Xuanzang dibully dan digantung diatas sungai dengan tangan terikat.

Bahwa kesimpulan Xuanzang benar adanya terbukti ketika Siluman Ikan datang mengobrak-ngabrik desa nelayan dan sempat melahap beberapa warga. Xuanzang tampil heroik dengan menyelamatkan seorang bayi. Siluman Ikan itu tertangkap dengan bantuan seorang wanita gemuk dengan memanfaatkan pengungkit kayu. Sebelum Xuanzang mengatasi Siluman Ikan dengan caranya yang unik , Duan (Shu Qi) seorang pemburu siluman yang mencuri momen keberhasilan Xuanzang dengan cara mengatasi siluman yang lain . Duan bahkan menertawakan cara Xuanzang yang konyol.

Xuanzang mengadu ke gurunya yang juga tidak kalah konyol bahwa dirinya gagal dalam menjalankan tugas. Gurunya meyakinkan Xuanzang bahwa dirinya punya kemampuan. Setelah itu Xuanzang dan Duan sering bertemu satu sama lain dan juga bertemu dengan siluman-siluman berbahaya. Duan jatuh cinta kepada Xuanzang.

Xuanzang menganggap cinta antara pria dan wanita adalah cinta kecil padahal dia sedang mencari cinta yang besar. Duan menghalalkan segala cara dari halus sampai kasar untuk mendapatkan cinta Xuanzang. Duan dengan senjata khasnya berupa gelang yang tidak terbatas , terus membuntuti Xuanzang – yang bertemu dengan kesulitan besar dengan Siluman Babi (Chen Bingqiang) dan Raja Kera (Huang Bo) yang sangat kuat. Pertemuan-pertemuan luar biasa ini dimeriahkan juga oleh kehadiran pemburu-pemburu siluman dengan kekuatan menakjubkan. Duan di bantu rekannya yang seksi (Chrissie Chau) berusaha membangkitkan nafsu seks Xuanzang. Apakah Duan berhasil atau menjadi tragedi cinta ?

Sebagai salah satu karya klasik Tiongkok , “Perjalanan Ke Barat” , menjadi salah satu kisah yang mendunia dan dikenal masyarakat luas. Sebagai sumber inspirasi kisah ini juga tidak ada habisnya melahirkan kreasi-kreasi baru dari manga dan anime “Dragon Ball” di Jepang sampai dengan karya Stephen Chow terbaru , “Journey To The West: Conquering the Demons”.

Kisah Perjalanan Ke Barat sendiri ditulis oleh Wu Cheng’en (1501-1582) mengenai kisah Tang Xuanzang , seorang rahib yang melakukan perjalanan ke India untuk membawa kembali naskah-naskah Buddhist dimasa Dinasti Tang (618-907M). Dalam kisah tersebut , Xuanzang ditemani oleh si Raja Monyet atau Sun Wu Kong (Sun Go Kong) , Zhu Bajie si Siluman Babi dan Siluman Air Sha Wujing.

Journey to the West, arahan Stephen Chow membawa gaya yang sama sekali lain dari kisah-kisah serupa sebelumnya. Dia membawa unsur komedi yang sedemikian kental dan cenderung slapstick seperti dua karya besarnya terdahulu, Kungfu Hustle dan Shaolin Soccer.

Salah satu ciri utama Stephen Chow masih terlihat dengan humor-humor yang cenderung kelam. Siluman Babi ditampilkan dalam wujud pemain opera yang tampan tetapi tetap berciri muka seekor babi. Siluman Ikan ditaklukkan oleh lompatan seorang wanita gemuk. Xuanzang menyanyikan “lagu nina bobok” untuk menaklukan Siluman Ikan. Duan memperlakukan siluman-siluman seperti karung sangsak tinju.

Aktor Huang Bo yang sedang berada dimasa kejayaannya, tidak diragukan lagi kemampuannya dalam memerankan Sun Wu Kong. Dalam versi Huang Bo ini, Sun Wu Kong berada digaris tipis antara kelicikan dan kejenakaan. Dia bisa terlihat lugu tapi bisa terlihat beringas yang sanggup menghabisi nyawa siapapun dengan mudah tetapi juga bisa mengajarkan tarian seksi kepada Duan. Sun Wu Kong ditahan oleh Buddha selama lima ratus tahun dan kini mengerahkan segala daya upaya untuk membebaskan diri.

Komedi-komedi seperti diatas biasanya kering tanpa memancing orang berpikir atau mengerahkan kecerdasannya sebelum tertawa. Tetapi ditangan Stephen Chow komedi seperti itu tetap menjadi karya yang fenomenal seperti dua karya besarnya, Shaolin Soccer dan Kungfu Hustle. Bedanya kali ini Stephen Chow tidak “tergoda” untuk ikut menjadi aktor dalam film yang disutradarainya.

Walaupun sudah sering sekali film bertema “Perjalanan Ke Barat” , film ini masih menarik untuk disaksikan sebagai hiburan semata yang cukup memancing tawa.

 Link Free Download film Journey to the West: Conquering the Demons, ada DISINI


Jumat, 04 Juli 2014

Apa Kabarnya Boboho Sekarang ?

Kamu yang terlahir dan besar pada tahun 90-an, tentu bangga memiliki julukan Generasi 90-an. Ada yang bilang, Generasi 90-an memang patut bersombong diri karena mereka telah mengalami masa kecil dan remaja yang dihiasi oleh beragam musik, sinetron dan film bermutu.

Salah satu yang menjadi tontotan wajib anak-anak 90-an adalah sebuah film kungfu komedi asal Taiwan berjudul SHAOLIN POPEY. Film rilisan tahun 1994 itu memasang seorang aktor cilik bernama Hao Shaowen (Steven Hao) yang sok tahu dan super jahil. Nama Shaowen mungkin tak terkenal di Indonesia, karena bocah itu lebih dikenal dengan nama Boboho.


Setiap aksi Boboho selalu mengundang tawa banyak orang. Bersama dengan rekannya sang bocah ahli kungfu yang diperankan oleh Shi Xialong (Aston Chen), mereka berdua menjadi idola anak kecil. Kini 20 tahun sudah berlalu, banyak yang bertanya, seperti apakah penampilan mereka sekarang?

1. BOBOHO KECIL

Wajahnya yang tembem dan lucu memang membuat siapapun gemas melihat sosok Hao Shaowen. Alih-alih dikenal dengan nama aslinya, Shaowen justru lebih populer dengan julukan Boboho. Film SHAOLIN POPEY yang dirilis tahun 1994 silam membuat Shaowen menjadi idola banyak remaja dan anak-anak generasi 90-an.

Dalam film itu, Shaowen berperan sebagai Boboho. Bocah botak yang memiliki senyum khas sok tahu dan super jahil. Gayanya yang menyebalkan bukannya membuat orang tak suka, tapi justru gemas pada Shaowen. Beberapa film Shaowen sebagai Boboho adalah SHAOLIN POPEY I & II, ADVENTURE OF TREASURE ISLAND, THE MARVELLOUS COOK, TROUBLE MAKER sampai HEAVENLY LEGEND: MONKEY KING THE MOVIE.

Popularitas itu membuat Shaowen menjadi salah satu bocah termahal di Taiwan. Saat membintangi SHAOLIN POPEY di tahun 1994, Shaowen masih berusia empat tahun. Namun dia sudah mampu membelikan tiga rumah mewah dan dibayar mencapai CNY 50 ribu (Rp 96,1 juta) setiap membintangi satu episode program TV.

2. BOBOHO KINI

Bertahun-tahun telah berlalu dan popularitas Boboho semakin pudar. Hao Shaowen pun melanjutkan hidupnya sampai dia sudah tumbuh sebagai mahasiswa. Shaowen rupanya diterima di jurusan Manajemen Transportasi di Universitas Tamkang Taiwan. Namun kehidupan Shaowen saat remaja sangat berbeda dengan ketika dia kecil.

Beberapa media Taiwan bahkan memberitakan jika demi membayar uang kuliah, Shaowen bahkan tak malu harus bekerja di toko es krim. Bukannya malu, Shaowen justru berpendapat bahwa apa yang dia lakukan ini merupakan aplikasi langsung ilmu kuliahnya. Sama seperti saat menjadi Boboho, Shaowen tetaplah pemuda gemuk dan mungkin berkurang sedikit sisi gemas pada dirinya.

Perubahan kehidupan sempat membuat Shaowen enggan bermain film kembali. Namun dia mulai mencoba akting dewasanya dengan terlibat dalam salah satu film romantis terbaik Taiwan, YOU'RE THE APPLE OF MY EYE. Dalam film itu, Shaowen yang kini dikenal dengan nama Steven Hao, berperan sebagai pemuda tambun A-He yang sempat menjadi kekasih si cantik Shen Chia Yi (Michelle Chen).

3. AHLI KUNGFU CILIK

Siapakah selain Hao Shaowen yang paling kamu ingat dalam film-film Boboho? Yap, benar jika kamu menjawab itu adalah Shi Xiaolong yang selalu berperan sebagai teman Boboho yang sangat jago kungfu.

Berbeda dengan Boboho yang jahil, Xiaolong selalu berperan sebagai bocah disiplin yang memiliki kemampuan bela diri di atas rata-rata. Tak salah memang jika Xiaolong sangat jago kungfu.

Bocah yang dua tahun lebih tua daripada Shaowen ini adalah murid dari Shi Yongxin, kepala biara kuil Shaolin. Jadi semenjak dia berusia dua tahun, Xiaolong memang sudah berlatih kungfu. Sehingga apa yang ditampilkan Xiaolong dalam film-film Boboho, itu memang kemampuan asli dari dirinya.

4. DEWASA DAN GANTENG

Sama seperti kebanyakan aktor cilik lainnya, Shi Xiaolong juga memutuskan rehat dari dunia entertainment untuk fokus pada pendidikannya. 10 tahun semenjak SHAOLIN POPEY rilis, pada tahun 2003, Xiaolong yang berusia 15 tahun memutuskan pergi ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan SMA di sana.

Saat kembali ke Taiwan dua tahun kemudian, Xiaolong rupanya tergoda untuk berakting dan dikenal dengan nama internasional sebagai Ashton Chen. Tahun 2007, Xiaolong kembali ke Amerika Serikat dan berhasil lulus SMA di sana pada tahun 2008. Setelah pendidikannya usai, Xiaolong siap fokus lagi ke industri hiburan Taiwan.

Ilmu kungfu yang dia miliki semenjak kecil, membuat Xiaolong tidak sulit mendapatkan tawaran bermain film. Bahkan dia sempat terlibat dalam salah satu film kungfu terbaik, IP MAN 2. Setuju kan kalau Xiaolong dewasa semakin ganteng?

5. DUA BOCAH IDOLA 90AN
Tahun memang sudah berlalu. Industri perfilman Taiwan kini mungkin sudah tidak membebankan pada film bergenre kungfu komedi. Bahkan bisa dibilang, film Taiwan perlahan tergerus oleh film Korea Selatan di kancah Asia.

Namun tak bisa dipungkiri, jika karakter Boboho memang menjadi salah satu ikon anak-anak generasi 90-an. Setiap kali liburan sekolah tiba, kamu tentu masih ingat bagaimana kamu menonton film yang mungkin jalur ceritanya sudah sangat kamu hafal.

Pendek kata, baik Hao Shaowen dan Shi Xiaolong adalah idola anak-anak jaman dulu. Siapa yang lebih kamu sukai di antara mereka berdua?

6. MEREKA BERDUA TELAH TUMBUH

Dua puluh tahun berlalu semenjak popularitas SHAOLIN POPEY. Dua pemain kunci mereka yakni Hao Shaowen dan Shi Xiaolong juga tidak lagi bocah menggemaskan tetapi sudah menjadi seorang pemuda dewasa.

Kendati karir akting Shaowen bisa dibilang kalah dibandingkan Xiaolong, sepertinya jalan karir mereka berdua ke depan masih terbuka lebar. Dan sejatinya saat inilah bukti sesungguhnya apakah mereka mampu mengulang masa kejayaan seperti dulu.

Semoga saja bakal ada film yang menggabungkan mereka berdua main bareng lagi ya!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More