Usai
Ju-on: The Beginning of the End, pada akhirnya misteri cara kemunculan hantu
Toshio pun baru benar-benar terungkap di film terbaru yang kini sudah tayang di Indonesia,
Ju-On 4: The Final Curse.
Film yang secara global dikenal sebagai
Ju-on: The Final Curse dan di Jepang disebut dengan judul
Ju-on: The Final ini, membeberkan banyak hal yang dirasa masih misteri dan menggantung pada film sebelumnya. Meskipun begitu, kisah film ini dan
'The Beginning of the End' memiliki alur cerita alternatif (terpisah) dalam menggambarkan awal mula kutukan mengerikan di dua film pertama.
Masih menggunakan format yang sama seperti seri-seri sebelumnya, yaitu alur cerita dalam beberapa segmen untuk masing-masing karakter, nuansa mencekam dengan hantu yang sama masih menjadi tema utama film ini.
Judul yang diberi embel-embel
'The Final' barangkali memberi harapan kepada beberapa penonton agar segala sesuatu terkait franchise
Ju-On terpecahkan hingga setidaknya tidak memberikan efek klimaks yang menggantung.
Lalu, apakah embel-embel
The Final benar-benar menggambarkan isi film ini? Ada baiknya kita simak dulu garis besar ceritanya.
Bagi yang telah menyaksikan
Ju-on: The Beginning of the End, tentu masih mengingat karakter guru muda bernama
Yui Shono yang diperankan oleh
Nozomi Sasaki. Ia mengalami nasib mengerikan setelah menyelidiki muridnya yang bernama
Toshio Saeki karena tak masuk sekolah selama seminggu.
Nah, di film ini kita akan mengetahui kalau
Yui ternyata menghilang dan film pun secara garis besar mengambil sudut pandang
Mai Shono (
Airi Taira) yang merupakan kakak kandung
Yui.
Mai yang tinggal bersama kekasihnya,
Sota Kitamura (
Renn Kiriyama) mulai bertanya-tanya ke mana gerangan
Yui karena pihak sekolah sang adik selalu menghubunginya. Dilanda rasa penasaran,
Mai pun mulai dihantui sosok
Toshio dan bayangan
Kayako di dalam mimpi maupun halusinasi.
Mai pun mulai menyelidiki hilangnya
Yui, sementara
Sota juga ikut terbawa kutukan meskipun masih dalam tahap ringan. Di sisi lain, seorang siswi bernama
Reo (
Nonoka Ono) dan ibunya, kedatangan seorang tamu, yaitu anak dari pamannya (keponakan) yang bernama
Toshio.
Reo merasa gelagat
Toshio selama berada di rumahnya sangat aneh. Selain itu, ternyata di sekolahnya ia ternyata bergaul dengan
Midori dan
Madoka yang salah satu dari keduanya memiliki kaitan erat dengan kejadian mengerikan di rumah terkutuk pada masa lalu.
Semenjak
Toshio pindah ke rumah
Reo, berbagai kejadian aneh nan menyeramkan pun menghantui dirinya dan kedua temannya yang pernah bermain ke rumahnya itu. Alhasil, ia dan sang ibu harus menghadapi kenyataan mencekam yang mengancam ketenangan hidup mereka.
Sementara itu, penyelidikan
Mai berujung pada sebuah kenyataan yang belum pernah ada dalam kisah-kisah sebelumnya. Dari sini, akhirnya secara intens misteri hantu
Toshio dan
Kayako Saeki yang mengerikan, mulai terjawab dengan akhir cerita yang membuat penonton tak berdaya melupakan kutukan rumah hantu dalam kisah
Ju-On.
Apa yang hendak ditawarkan dalam film ini adalah kengerian yang mampu meneror rasa takut setiap penonton, terutama bagi siapapun yang mengalami paranoid serta ketakutan parah bagi yang mempercayai eksistensi hantu-hantu jahat.
Ciri khas
Ju-On yang menggunakan gerak-gerik mengerikan
Toshio dan
Kayako, masih dipertahankan dalam film ini. Beruntungnya bagi yang gemas dengan konsep tiga film sebelumnya, di sini kita bisa menyelami lebih dalam rasa takut calon korban yang diteror untuk dihabisi oleh Kayako.
Di film ini juga kita bisa menyaksikan bagaimana cara hantu
Kayako membuat para korbannya memiliki jasad mengerikan sebelum mereka meregang nyawa. Bagaimana
Kayako bisa muncul di mana saja, kapan saja, dan caranya mengawasi siapa saja yang bersinggungan dengan
Toshio dan kutukan darinya, sangat jelas ditampilkan.
Lalu, bagaimana misteri rumah kutukan dimulai pun digambarkan dalam suasana yang membuat bulu kuduk merinding. Bagi pecinta film horor mistik,
Ju-On 4: The Final Curse rasanya bisa menjadi sebuah tontonan yang layak ditonton dan sangat menarik untuk dinikmati.
Meskipun begitu, film ini memiliki kelemahan dalam hal membawakan akting para pemainnya. Sutradara
Masayuki Ochiai belum terlalu bisa mengarahkan para pemain dengan sempurna saat mereka dilanda rasa takut. Berbeda dengan
Takashi Shimizu yang piawai dalam memainkan akting para pemain di dua film sebelumnya meski berpegang pada naskah yang tak terlalu istimewa.
Bagaimanapun, ada baiknya jika film ini ditonton bersama teman-teman atau kerabat, karena konsepnya yang boleh dibilang sangat mengerikan jika disaksikan dengan keluarga dan pasangan hidup. Jika penasaran dengan film ini, langsung saja download filmnya
DISINI...